Beautiful Words

Beautiful words stir my heart. I will recite a lovely poem about the king, for my tongue is like the pen of a skillful poet.

TANPA KEPALSUAN


Sejak zaman dahulu “apa yang tampak di depan mata” telah menjadi ukuran. Lihatlah bagaimana nabi yang hebat seperti Samuel salah mengenali Eliab sebagai orang yang diurapi Tuhan hanya karena paras dan perawakan Eliab yang tinggi (1 Sam 16:6-7). Sadar atau tidak, cara pandang seperti ini juga sering kita gunakan saat berinteraksi dengan orang lain. Salah satu contoh: dengan mudah kita menyimpulkan bahwa seseorang itu dewasa dan bijaksana hanya karena ia tidak banyak bicara. Padahal kenyataannya belum tentu demikian. Amsal 17:27-28 memberitahukan pada kita: “Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin. Juga orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya. Ini menunjukkan betapa mudahnya manusia menilai seseorang hanya dari luarnya saja.

Apa yang kita dengar dan lihat akan sangat mempengaruhi penilaian dan sikap kita terhadap orang lain. Secara tidak langsung cara pandang seperti ini akan mendorong kita menjadi orang yang lebih mementingkan “apa yang nampak di luar” seperti penampilan dan cara kita berbicara demi mendapatkan “image” yang kita inginkan. Kita menjadi pribadi yang sangat peduli dengan apa kata orang. Kita merasa “oke” saat orang berkata kita hebat, keren, baik hati, rendah hati, dan berbagai pujian lainnya. Sebaliknya, kita merasa buruk atau bahkan merasa tertolak ketika orang berkata performa kita tak sebagus biasanya, dianggap membosankan, tidak smart, pendapat kita tidak diterima, dan sebagainya. Penilaian orang lain menjadi teramat penting seakan semua itu turut menentukan “nilai” diri kita.

Tanpa disadari kita pun bisa membawa sikap ini ketika sedang beribadah maupun saat melayani Tuhan, entah untuk mendapat penilaian positif dari orang lain atau bahkan demi memperoleh “perkenanan” Tuhan! Kita rajin datang ke gereja dan melayani agar dinilai sebagai orang yang saleh. Kita bernyanyi dengan menutup mata dan mengangkat tangan dalam ibadah, namun sebenarnya pikiran kita sedang mengembara kemana-mana. Doa-doa yang kita panjatkan tak lebih dari sekedar untaian kalimat-kalimat indah yang kita ucapkan dengan fasih, tanpa ada iman di dalamnya. Pelayanan kita menjadi sebatas talenta yang dipresentasikan dengan bagus tanpa ada kehidupan yang dipersembahkan. Lebih buruk lagi, kita membungkus tutur kata kita dengan bahasa-bahasa yang “rohani” saat di gereja, padahal kita kerap meluapkan emosi dengan kata-kata yang tidak pantas di lingkungan kerja. Kita baik dan ramah pada semua golongan saat di gereja, tetapi kita sering membeda-bedakan orang dalam aktivitas sehari-hari. Bukan ibadah seperti itu yang dikehendaki Tuhan. Yang Tuhan rindukan adalah kita datang kepada-Nya dengan ketulusan, tanpa kepalsuan!

Tentang hal ini kita akan belajar dari percakapan Yesus dengan Natanael. Menurut tradisi, Natanael dianggap sama dengan Bartolomeus, yaitu salah satu dari 12 murid Yesus. Pandangan yang berkembang sejak abad sembilan ini mungkin didasarkan pada penulisan daftar nama 12 murid dalam tiga Injil Sinoptik (Mat 10:1–4 ; Mrk 3:13–19 ; Luk 6:12–16) yang selalu menyandingkan nama Bartolomeus dengan Filipus, sedangkan Natanael adalah teman Filipus. Cerita tentang Natanael bermula ketika Yesus pergi ke Galilea. Di sana Dia berjumpa dengan Filipus yang kemudian dipanggil-Nya untuk mengikut Dia. Filipus yang bersukacita karena telah menemukan Yesus segera mengajak temannya, Natanael, untuk bertemu dengan Yesus. Selanjutnya terjadi percakapan yang sangat menarik antara Yesus dengan Natanael dalam Injil Yohanes 1:45–51.

TUHAN MELIHAT HATI

Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.”

Kata Natanael kepadanya: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”

Kata Filipus kepadanya: “Mari dan lihatlah!” Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!”

(Yoh 1:45-48)

Terlepas dari perkiraan tentang siapa sebenarnya Natanael, yang menarik adalah pernyataan Yesus saat melihat dia: “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!” (ay 47).  Ada kualitas dalam diri Natanael yang disukai oleh Yesus, yaitu tidak ada kepalsuan. Tidak ada kepalsuan berarti tanpa tipu daya, tanpa tipu muslihat, tanpa kebohongan, tidak bermuka dua! Ini berarti semua yang ada pada diri Natanael, yaitu perbuatan, tutur kata, hati dan pikirannya, semuanya apa adanya. Apa yang nampak di permukaan merupakan refleksi dari apa yang ada dalam dirinya, tanpa kepura-puraan. Seperti apa yang tampak di mata orang, memang demikianlah ia. Tidak dibuat-buat, tidak munafik.

Ketulusan Natanael itu berkebalikan dengan keadaan bangsa Israel pada zaman itu, terutama para ahli Taurat dan kaum Farisi, yang hanya mementingkan hal-hal lahiriah. Pada kesempatan berbeda Yesus mengecam mereka: “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.” (Mat 23:27-28). Di tengah kondisi bangsa Israel yang seperti itu, tak heran bila Yesus menyebut Natanael sebagai Israel sejati.

Sebagus apapun performa seseorang di mata manusia, nilai seseorang tidak ditentukan oleh apa yang nampak di luar sebab mata Tuhan menembus jauh hingga ke dasar hati.

“….. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Sam 16:7b)

Tuhan mengetahui setiap pemikiran dan motivasi kita yang bahkan kita sendiri tak menyadarinya. Tuhan ingin apapun yang kita lakukan lebih dari sekedar karena peduli apa kata orang. Tuhan mau kita melakukan yang terbaik bukan karena sekedar menjalankan kewajiban dan lebih dari sekedar profesionalisme. Janganlah kita melakukan sesuatu hanya karena sopan-santun, apalagi jika disertai maksud terselubung.

Amsal 23:7 merupakan contoh yang riil tentang ketidaktulusan: “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia. “Silakan makan dan minum,” katanya kepadamu, tetapi ia tidak tulus hati terhadapmu. Ayat ini adalah pengingat agar kita berhati-hati terhadap kebaikan dan keramahan yang disertai maksud tersembunyi, sekaligus sebuah peringatan bagi diri sendiri agar melakukan segala sesuatu dengan hati yang murni. Tuhan ingin kita hidup tanpa kepalsuan dan tidak munafik. Sebuah kehidupan yang selaras antara hati, pikiran, perkataan, perbuatan. Sebuah kesalehan tanpa kepura-puraan. Kehidupan yang bukan sekedar bagus “kemasannya”, tetapi benar-benar indah dan harum di dalamnya. Ini tidak terbentuk dalam semalam, tetapi hasil dari disiplin rohani dan konsistensi untuk terus menerus memutuskan hidup dengan hati yang benar di hadapan Tuhan.

MUDAH MEMPERCAYAI TUHAN

Kata Natanael kepada-Nya: “Bagaimana Engkau mengenal aku?” Jawab Yesus kepadanya: “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara.”

Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”

(Yoh 1:48-49)

Natanael terkejut bagaimana Yesus dapat mengenal dia padahal mereka belum pernah berjumpa sebelumnya. Sesaat setelah mendengar jawaban Yesus “Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara”, Natanael memberikan pernyataan spontan yang menunjukkan keyakinannya akan siapa Yesus: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” (ay 49) Lihatlah betapa mudahnya Natanael mempercayai Yesus, padahal beberapa saat sebelumnya Natanael telah mengeluarkan pernyataan skeptis ketika diberitahu tentang Yesus oleh Filipus: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” (ay 46)

Natanael merupakan contoh bagaimana orang yang tanpa kepalsuan akan mudah mempercayai Tuhan sebab hatinya tulus dan murni di hadapan Tuhan. Mengapa kadang kita sulit untuk percaya kepada Tuhan? Salah satu penyebabnya adalah karena kita belum sungguh-sungguh tulus dan murni terhadap Tuhan. Tanpa sadar kita masih memiliki agenda tersembunyi dan motivasi terselubung terhadap Tuhan. Kita tidak datang kepada Tuhan dengan “apa adanya”. Seringkali semua itu terpendamjauh di dalam lubuk hati, tetapi Tuhan yang melihat hati mengetahui segalanya. Karena itu ijinkan Tuhan menyelidiki hati kita, meluruskan dan menunjukkan kekeliruan kita, supaya tak ada penghalang antara kita dengan Tuhan.nKiranya doa sang pemazmur di hadapan Tuhan yang Mahatahu ini juga menjadi doa kita: “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mzm 19:23-24)

MELIHAT HAL-HAL YANG LEBIH BESAR

Yesus menjawab, kata-Nya: “Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.”

Lalu kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”

(John 1:50-51)

Hidup tanpa kepalsuan akan membuat kita tidak rumit dalam mempercayai Tuhan dan lebih mudah mengikuti tuntunan Tuhan karena kita percaya kepada-Nya. Berjalan dalam tuntunan Tuhan akan membawa kita pada hal-hal yang lebih besar, sebagaimana janji Yesus kepada Natanael: Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu”. Hal-hal yang lebih besar bukan hanya tentang mujizat, pertolongan Tuhan, berkat, promosi, dan hal-hal semacam itu. Yang jauh lebih besar dari semua itu adalah pengenalan akan Tuhan. Yesus berkata ”… sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.” Ini serupa dengan mimpi yang dialami Yakub di Betel dalam Kej 28:12, tetapi kali ini dengan sebuah penyataan  khusus mengenai Anak Manusia. Sebelumnya Natanael mengakui Yesus sebagai Anak Allah, tetapi Yesus menyatakan bahwa Dia adalah Anak Manusia, seperti yang dinubuatkan dalam Daniel 7:1-14. Ini memperdalam pengertian Natanael tentang Yesus. Bila kita membaca kelanjutan kisahnya, Natanael termasuk salah seorang dari mereka yang melihat Yesus saat Dia menampakkan diri di pantai danau Tiberias setelah kebangkitan-Nya (Yoh 21:2).

Adalah sebuah kasih karunia untuk diijinkan mengenal Tuhan secara pribadi, sebab sesungguhnya kita tidak akan bisa mengenal Tuhan jika Dia tidak menyatakan Diri-Nya kepada kita. Bila saat ini kita dapat percaya dan mengenal Dia, itu karena Roh Kudus menaruh benih iman di dalam hati kita. Ini adalah pernyataan Paulus yang mengerti betapa berharganya pengenalan akan Tuhan itu: Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. (Filipi 3:7-8a)

Percaya dan mengenal Kristus adalah hal paling berharga dalam hidup ini. Tanpa Kristus kita akan tersesat, tanpa tujuan, tanpa keselamatan. Karena itu mari kita setia mengikut Kristus. Mari menjaga untuk tetap hidup dalam ketulusan dan kesalehan sejati tanpa kepalsuan, sehingga kita menjadi orang yang gampang dibentuk Tuhan dan tidak memberontak saat dituntun-Nya. Dengan tetap percaya dan hidup dalam tuntunan-Nya maka kita akan semakin dalam mengenal Dia dan mengalami hal-hal yang lebih besar bersama-Nya. Amin.

 

Oleh: Sella Irene – Beautiful Words

Posted in English: NO DECEIT (click here)

Photo Credit: Google Images

Edit with: pixlr app

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

translate this blog

Follow Beautiful Words on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 497 other followers

Archives

%d bloggers like this: