Beautiful Words

Beautiful words stir my heart. I will recite a lovely poem about the king, for my tongue is like the pen of a skillful poet.

Musim-Musim Kehidupan 3 “ZONA AMAN YANG BERBAHAYA”


Hidup adalah perjalanan melewati musim demi musim. Setiap musim adalah musim tak terduga (click here) karena kita tidak tahu apakah yang akan datang adalah sebuah kebahagiaan ataukah masa sulit (click here). Semua harus kita sikapi dengan bijaksana sebab yang kita lakukan dalam musim ini akan mempengaruhi keadaan kita di musim berikutnya. Itulah yang dialami oleh Asa. Asa adalah raja Yehuda ketiga setelah Israel terbagi menjadi dua wilayah, yaitu Israel (Kerajaan Utara) dan Yehuda (Kerajaan Selatan). Cicit Raja Salomo ini tercatat sebagai salah satu raja yang saleh dalam sejarah Yehuda: “Hati Asa tulus ikhlas sepanjang umurnya” (2Taw 15:17),  dan “Asa melakukan apa yang benar di mata TUHAN seperti Daud, bapa leluhurnya.” (1Raja 15:11). Kisah tentang Asa tertulis dalam 1Raja 15:9-24 dan 2Taw 14:1 – 16:14. Banyak pelajaran yang dapat kita petik dari sikap Asa dalam melewati musim-musim kehidupannya.

MUSIM-MUSIM KEHIDUPAN ASA

Musim Pertama: Fajar Yang Baru

Asa mengawali 41 tahun masa pemerintahannya dengan melakukan pembaharuan kerohanian di Yehuda yang saat itu telah jatuh dalam penyembahan berhala. Ia menyingkirkan mezbah-mezbah asing dan menghancurkan tiang-tiang berhala, serta memerintahkan rakyatnya untuk kembali beribadah kepada Tuhan. Langkah pertama ini dipandang baik dan benar oleh Tuhan: “Asa melakukan apa yang baik dan yang benar di mata Tuhan, Allahnya.” (2 Taw 14:2) Atas kesungguhannya, Tuhan memberkati Yehuda dengan keamanan. Dalam masa aman itu Asa membangun kota-kota benteng di Yehuda: “Karena negeri itu aman dan tidak ada yang memeranginya di tahun-tahun itu, ia dapat membangun kota-kota benteng di Yehuda; Tuhan telah mengaruniakan keamanan kepadanya.” (2 Taw 14:6)

Sebuah posisi dalam level manapun merupakan tanggung jawab yang dipercayakan Tuhan pada anak-anak-Nya untuk mencapai tujuan-Nya, yang pada akhirnya harus membawa orang kepada Kristus. Langkah pertama yang benar merupakan salah satu penentu untuk mencapainya. Namun benar pada langkah pertama saja tak cukup. Kita harus terus berjalan dalam kebenaran itu secara konsisten dalam segala situasi.

Musim Kedua: Peperangan dan Kemenangan Besar

Setelah masa aman beberapa tahun, Yehuda diserang oleh Zerah yang membawa 1 juta tentara dan 300 kereta. Itu adalah kekuatan yang nyaris mustahil ditaklukkan karena saat itu Yehuda hanya memiliki 300 ribu pembawa perisai dan 280 ribu pemanah. Dalam keadaan kritis itu Asa berseru kepada Tuhan: “….karena kepada-Mulah kami bersandar dan dengan nama-Mu kami maju melawan pasukan yang besar jumlahnya ini….” (2 Taw 14:11) Tuhan menjawab doanya dengan memberikan kemenangan gemilang dan jarahan berlimpah.

Kemenangan anak-anak Tuhan dalam menghadapi gelapnya kehidupan tidak ditentukan oleh apa dan berapa yang dimiliki tetapi tergantung pada sejauh mana ia mau bersandar pada Tuhan, sebab hanya Tuhan yang sanggup menorehkan pelangi di balik awan kelam. Selama kita mengandalkan Tuhan, kita tidak hanya akan menang atas masalah tetapi juga memperoleh kesempatan untuk naik level lebih dari yang mampu kita jangkau dengan kekuatan sendiri.

Musim Ketiga: Memperkuat Komitmen Terhadap Tuhan

Tuhan melihat kesungguhan Asa dan mengutus seorang nabi, Azarya bin Oded, dengan pesan agar Asa tetap berteguh hati untuk membersihkan Yehuda dari penyembahan berhala sebab ada upah yang akan diberikan Tuhan atas setiap usahanya: “..Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!” (2 Taw 15:7)  Asa meresponinya dengan melakukan reformasi kerohanian secara total sebagai kelanjutan dari apa yang ia lakukan pada awal pemerintahannya. Ia membaharui mezbah di Bait Suci, menyingkirkan penyembahan berhala dari seluruh wilayah kekuasaannya, serta mengajak seluruh rakyatnya untuk memperkuat komitmen terhadap Tuhan dengan mengadakan perjanjian dan bersumpah setia untuk selalu mencari Tuhan dengan segenap hati dan jiwa.

Kita harus meresponi setiap berkat dan pertolongan Tuhan dengan komitmen untuk hidup semakin berkenan kepada Tuhan dan menyingkir segala bentuk penyembahan berhala. Mungkin kita tidak menyembah berhala secara harfiah, tetapi bisa saja ada hal-hal lain yang kita dambakan dan kita kejar lebih daripada Tuhan. Untuk itu kita harus belajar berkata “tidak” pada diri sendiri saat kita menginginkan hal-hal yang menyimpang dari kehendak Tuhan.

Musim Keempat: Peperangan, Lagi!

Suatu ketika Baesa, raja Israel, memerangi Asa dengan cara memblokade Rama yang terletak dekat perbatasan Israel dan Yehuda. Tindakan ini mungkin dipicu oleh banyaknya orang-orang Efraim, Manasye dan Simeon yang menyeberang untuk memihak pada Asa (lihat 2 Taw 15:9). Namun Asa tidak mengandalkan Tuhan seperti saat ia menghadapi Zerah. Ia meminta bantuan pada Benhadad, raja Aram. Aram yang juga disebut Siria adalah musuh yang pernah ditaklukkan Raja Daud (2Sam 8:5). Asa mengirim upeti berupa emas dan perak dari istananya dan dari perbendaharaan rumah Tuhan, agar Benhadad bersedia membatalkan perjanjian damainya dengan Baesa. Benhadad menyetujui permintaan Asa dan memerintahkan panglimanya untuk menyerang kota-kota Israel. Taktik ini berhasil membuat Baesa berhenti memblokade Rama (lihat 1Raj 15:20-21) tetapi ada konsekuensinya. Melalui Hanani, seorang pelihat, Tuhan menegur Asa: “Karena engkau bersandar kepada raja Aram dan tidak bersandar kepada Tuhan Allahmu, oleh karena itu terluputlah tentara raja Aram dari tanganmu…. Dalam hal ini engkau telah berlaku bodoh, oleh sebab itu mulai sekarang ini engkau akan mengalami peperangan.” (2 Taw 16:7-9) Bukannya bertobat, Asa justru marah dan memenjarakan Hanani.

Beberapa tahun menjelang tutup usia, Asa menderita sakit pada kakinya. Dalam kesakitannya Asa tidak mencari pertolongan Tuhan, tetapi pertolongan tabib-tabib. Asa memang tidak murtad dan tidak meninggalkan Tuhan. Dalam 2 Taw 15:17 tertulis bahwa hati Asa tulus ikhlas sepanjang umurnya. Namun tak dapat dipungkiri bahwa kualitas kerohanian Asa dalam tahun-tahun akhir hidupnya tidak sebaik ketika ia mengawali kedudukannya sebagai raja.

Musim ini mengajarkan pentingnya selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap situasi, tidak peduli masalah berat maupun ringan. Kecenderungan manusia adalah jika masih bisa berusaha sendiri akan sulit mengandalkan Tuhan. Manusia cenderung mencari pertolongan manusia yang responnya bisa langsung diketahui dan didengar, daripada menunggu pertolongan Tuhan yang tak tahu kapan datangnya dan seringkali cara-Nya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Lalu, apakah anak Tuhan bisa berhasil dengan caranya sendiri? Bisa! Tetapi ada konsekuensi yang harus ditanggung. Bukan karena Tuhan jahat, tetapi karena kesalahan kita sendiri. Seperti Asa, ia memang berhasil mengalahkan Baesa melalui tangan raja Aram. Namun akhirnya ia harus “membayarnya” dengan kehilangan kesempatan untuk menaklukkan Aram dan sejak itu ia harus mengalami peperangan.

Sikap hati kita dalam menghadapi sebuah masalah sangat mempengaruhi hasil akhirnya. Respon dan tindakan yang keliru bukan hanya membuat kita kehilangan berkat yang seharusnya kita terima, tapi juga membuka pintu bagi masalah baru yang seringkali lebih besar dari masalah sebelumnya. Mengikut Tuhan tidak bisa setengah-setengah. Pilihannya hanya “ya” atau “tidak” sebab kita tak bisa mengabdi pada dua tuan. Pada saat kita tidak sepenuh hati bergantung pada Tuhan, sesungguhnya pada saat yang sama kita sedang bergantung pada yang lainnya, entah itu harta, orang lain, ataupun diri sendiri.

Pelajaran Dari Musim-Musim Kehidupan Asa: JANGAN TERLENA DALAM ZONA AMAN

“Kadang tempat yang paling berbahaya bukanlah di medan peperangan tetapi dalam zona aman.

Terlena dalam zona aman membuat kita tidak lagi waspada dan lupa menjaga hati.

Tanpa disadari… lambat laun kita akan merasa tak lagi butuh Tuhan, tak lagi mencari Tuhan, dan tak lagi bersandar kepada-Nya.

Hingga pada titik tertentu kita akan mendapati bahwa hati kita telah berubah dan menjauh dari Tuhan.”

(Sella Irene – Beautiful Words)

Pada masa kini Asa dapat digambarkan sebagai seorang yang rajin beribadah, giat pelayanan, aktif dalam berbagai kegiatan gereja, dan semangat memberitakan Injil. Seorang yang memiliki kerinduan untuk membawa orang lain kepada Kristus, dan seorang pemimpin yang berada pada posisi strategis untuk membuat perubahan. Bayangkanlah orang yang berapi-api bagi Tuhan seperti ini kemudian berubah menjadi orang yang mendua hati, bahkan tega memenjarakan seorang hamba Tuhan karena sakit hati mendengar firman yang disampaikannya (2Taw 16:10). Apa yang membuat Asa berubah? Sejak kapan rohaninya mulai merosot? Bila membaca keseluruhan kisahnya, jawabannya ada di 2 Taw 15:19 “TIDAK ADA PERANG sampai pada tahun ketiga puluh lima pemerintahan Asa.” Sesungguhnya masa aman itu merupakan berkat Tuhan karena Asa telah setia dan mengandalkan Tuhan, tetapi rupanya masa aman itu pelan-pelan membuat api Asa meredup.

Dalam hidup sehari-hari, “tidak ada perang” berarti tidak ada pergumulan, tidak ada tantangan, tidak ada masalah, semua berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Bila tidak waspada dan berjaga-jaga, situasi aman dan tenang ini bisa membuat kita terlena. Tanda bahwa kita terlena dalam zona aman adalah tidak ada lagi visi yang ingin diraih dan tidak ada tujuan lebih tinggi yang ingin dicapai. Ini adalah situasi yang justru berbahaya karena bisa membuat rohani kita “tertidur”. Kita masih ke gereja dan masih melayani Tuhan, tetapi pelan-pelan kita kehilangan “api dan cinta” yang dulu membara dalam hati. Kita sudah tidak seteguh dulu lagi dalam memegang kebenaran, tidak sehaus dulu lagi dengan Tuhan, tidak sedekat dulu lagi dengan Tuhan, tidak lagi bersandar dan mengandalkan Tuhan sepenuhnya.

Zona aman itu menyenangkan tetapi berbahaya bila kita hanyut di dalamnya. Oleh sebab itu saat Tuhan membawa kita dalam zona aman maka itulah WAKTU yang dianugerahkan Tuhan agar kita bisa fokus “MEMBANGUN DIRI”. Seperti Asa memperkuat Yehuda dengan membangun benteng-benteng agar tidak mudah ditembus oleh musuh (2 Taw 14:6-7), kita pun harus membangun apa yang ada dalam diri kita agar menjadi pribadi yang semakin kuat dan lebih siap menghadapi apapun yang akan terjadi di masa depan. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi di depan kita: Masalah atau Berkat. Masalah maupun berkat sama-sama perlu kapasitas untuk mengatasinya. Orang yang tidak mampu menghadapi masalah bisa putus asa, marah dengan keadaan, dan kecewa dengan Tuhan. Tetapi orang yang tidak siap menerima berkat juga bisa menjadi sombong, lupa bergantung pada Tuhan, merasa tak butuh Tuhan. Tak sedikit orang Kristen yang tekun berdoa saat dalam masalah lalu menjauh dari Tuhan saat doanya telah dijawab dan diberkati berlimpah. Karena itu kita harus menyiapkan diri untuk menghadapi masalah maupun untuk menerima berkat.

Paling tidak ada tiga hal yang harus dibangun dan diperkuat agar kita tidak runtuh saat dihantam persoalan dan tidak terlena saat menerima berkat: KEROHANIAN, MENTAL, dan KEAHLIAN. Kerohanian dan mental dibangun dengan cara bersekutu dengan Tuhan dan firman-Nya, serta kemauan untuk berubah (Lukas 6:46-49) agar kita berakar, bertumbuh, dan berbuah dalam Dia. Sedangkan keahlian dibangun dengan cara berlatih untuk mengasah potensi yang sudah ada dan juga belajar hal-hal baru untuk memperluas wawasan dan memperkaya ketrampilan. Bila konsisten membangun diri di dalam Kristus maka kita akan lebih siap jika sewaktu-waktu masalah datang atau sewaktu-waktu menerima kepercayaan dan tanggung jawab yang lebih besar dari Tuhan.

Sauadara terkasih dalam Kristus, saat ini sebagian kita mungkin sedang berada dalam situasi rumit akibat dosa masa lalu. Tindakan yang telanjur keliru tak bisa ditarik kembali, namun selalu ada harapan bila kita mau bertobat dan berubah. Persoalan krusial seringkali tidak terletak pada kesalahan yang diperbuat tetapi pada sikap hati terhadap teguran Tuhan. Respon terhadap teguran Tuhan pasti mempengaruhi masa depan kita, yaitu apakah kita akan dipulihkan atau justru semakin terjebak dalam kesalahan baru yang makin menyeret kita pada kemerosotan rohani. Sungguh sayang bila sesuatu yang telah kita mulai dengan benar akhirnya tidak menghasilkan buah sedahsyat yang semestinya hanya karena kita mengeraskan hati dan tak mau bertobat.

Masa lalu tak bisa diubah, tetapi pertobatan hari ini dapat mengubah masa depan.

Saat ini, entah dahulu kita mengawali langkah pertama dengan benar ataupun tidak, yang terpenting adalah mari menyikapi waktu yang tersisa dengan bijak dan segera berbalik dari kesalahan. Jangan terlena dengan zona aman yang dapat membahayakan kita dan jangan menyerah dalam menunaikan tugas yang dipercayakan Tuhan pada kita sampai akhir dengan excellent. Amin.

 

Oleh: Sella Irene – Beautiful Words

Posted in English: The New Season 3 “THE DANGEROUS SAFE ZONE” (click here)

Photo Credit: Google Images

Edit with: pixlr app

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

translate this blog

Follow Beautiful Words on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 497 other followers

Archives

%d bloggers like this: