Beautiful Words

Beautiful words stir my heart. I will recite a lovely poem about the king, for my tongue is like the pen of a skillful poet.

MUSIM-MUSIM KEHIDUPAN 2 : “MASA SULIT”


 

 

Dalam tulisan terdahulu (Musim-Musim Kehidupan – klik di sini) kita mengerti bahwa hidup merupakan perjalanan melewati musim demi musim. Setiap musim memiliki suka dukanya tersendiri. Musim-musim tertentu dapat diprediksi sehingga kita bisa mempersiapkan diri, seperti sekolah, karir, berkeluarga, masa pensiun, dsb. Namun dalam rentang musim yang dialami hampir setiap orang itu, kadang musim tak terduga tiba-tiba datang dan memaksa kita menyusun rencana baru, bahkan mendorong kita menempuh jalur baru yang tak terbayangkan sebelumnya. Alangkah indahnya bila musim tak terduga itu sebuah promosi yang membawa status sosial dan ekonomi kita meningkat. Namun tak jarang yang datang justru masa sulit yang meredupkan cahaya harapan dan mengaburkan masa depan. Tiba-tiba keadaan memburuk, segala sesuatu bergerak di luar akal, tak terkontrol, bertubi-tubi, tanpa sebab yang jelas. Itulah yang menimpa Ayub. Ia harus menghadapi masa sulit dalam skala terdahsyat yang pernah dialami seorang manusia.

Ayub bukan tokoh fiktif. Ia penduduk Arab utara yang diperkirakan hidup sekitar zaman Abraham atau bahkan sebelumnya. Kisahnya terjadi di “tanah Us” (Ayub 1:1) yang kemudian menjadi wilayah Edom, terletak di bagian tenggara Laut Mati atau di sebelah utara Arabia. Dalam Kitab Ayub tidak ada petunjuk kepada sejarah Israel atau hukum Musa sehingga memberi kesan bahwa kisah Ayub terjadi pada zaman pra-Musa (sebelum 1500 SM). Alkitab sendiri mengonfirmasi keberadaan Ayub, salah satunya dalam Yeh 14:13-14 “….biarpun di tengah-tengahnya berada ketiga orang ini, yaitu Nuh, Daniel, dan Ayub, mereka akan menyelamatkan hanya nyawanya sendiri karena kebenaran mereka,…..”. Betapa dalam hikmat dan kasih Tuhan. Ia memberikan pada umat-Nya satu kitab yang secara khusus berisi penderitaan seorang yang saleh dan takut akan Tuhan. Kitab Ayub memang tidak menjawab secara literal pertanyaan terbesar manusia sepanjang abad tentang “Mengapa orang benar menderita?”, tetapi dalam kitab ini Tuhan memberi kita tuntunan tentang “bagaimana orang benar menyikapi sebuah penderitaan”.

Grafik hidup Ayub bagaikan orang yang berdiri di puncak gunung lalu tiba-tiba menukik ke dasar jurang. Dari seorang paling kaya di daerah timur pada masa itu, tiba-tiba menjadi orang yang kehilangan hampir segalanya dalam sekejap mata. Dari seorang yang dihormati menjadi seorang yang dipandang hina, bahkan dicemooh oleh istri dan sahabat-sahabatnya, hingga Tuhan menyatakan Diri kepadanya dan menyingkapkan kesalahannya. Ayub 42:1-6 adalah respon Ayub terhadap teguran Tuhan. Perikop ini merupakan konklusi dari masa sulit yang dialami Ayub, sekaligus kunci pembuka menuju kehidupan baru dengan cakrawala yang lebih luas dalam memandang kehidupan dengan sikap hati yang benar atas dasar pengenalan akan Tuhan.

Inilah empat pernyataan Ayub:

1) TUHAN BERKUASA DAN BERDAULAT

“Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu” (Ayub 42:2a).

Sebelumnya, dalam pasal 38-39 Tuhan berkata pada Ayub bahwa Dialah Tuhan yang menciptakan alam semesta dan menopang segala sesuatu yang ada di dalamnya. Dalam pasal 46:2 ini Ayub menyatakan pengakuannya bahwa Tuhan berkuasa dan berdaulat mutlak untuk melakukan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Segala sesuatu berarti segala hal, tanpa batasan, tanpa pengecualian, termasuk jalan-Nya dan cara-Nya dalam mewujudkan kehendak-Nya dalam hidup manusia. Manusia tidak berhak mempertanyakan dan menggugat keputusan-keputusan-Nya.

Celakalah orang yang berbantah dengan Pembentuknya; dia tidak lain dari beling periuk saja! Adakah tanah liat berkata kepada pembentuknya: “Apakah yang kaubuat?” atau yang telah dibuatnya: “Engkau tidak punya tangan!” (Yesaya 45:9)

2) RENCANA TUHAN TIDAK PERNAH GAGAL

“Aku tahu, bahwa….. tidak ada rencana-Mu yang gagal. ” (Ayub 42:2b)

Saat Tuhan mengijinkan Iblis mencobai Ayub, sesungguhnya Tuhan telah mengetahui hasil akhirnya. Tuhan bukan hanya melihat sebatas rentang waktu saat sebuah peristiwa sedang berlangsung, tetapi dalam kemahatahuan-Nya Ia telah memandang ke masa yang jauh di depan dan Dia memakai segala aspek yang ada untuk merealisasikan rencana-Nya. Setan, manusia, faktor alam, siapapun dan apapun takkan dapat menggagalkan rencana-Nya!

3) RENCANA TUHAN TIDAK DAPAT DIMENGERTI

Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui. (Ayub 42:3)

Bila kita membaca pasal-pasal sebelumnya, kita mendapati bahwa Ayub banyak berbicara tentang Tuhan dan penderitaan pahit yang ia alami. Dalam pasal 42:3 ini, Ayub mengutip pertanyaan Tuhan dalam pasal 38:2: “Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan?”. Kemudian dengan jujur Ayub mengakui bahwa selama ini ia telah berkata-kata tanpa pengetahuan (tanpa pengertian yang benar) tentang hal-hal yang terlampau ajaib untuk ia pahami.

Tanpa pengenalan dan pengetahuan yang benar akan Tuhan, maka seorang yang saleh dan takut akan Tuhan pun bisa salah mengerti akan Tuhan. Hanya dengan sikap hati yang benar maka kita tak akan “mencurigai” maksud dan rencana Tuhan di balik hal pahit yang sedang kita alami.

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” (Yesaya 55:8-9)

O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! (Roma 11:33)

Rencana Tuhan sangat misterius dan melampaui akal. Manusia dengan segala keterbatasannya tidak mungkin mampu menyelami Tuhan yang Mahabesar. Semakin kita mengukur perbuatan Tuhan dari sudut pandang kita, maka kita akan semakin jauh dari pengertian yang benar akan keajaiban dan keindahan rencana-Nya.

4) TUHAN HARUS DIKENAL SECARA PRIBADI

Firman-Mu: Dengarlah, maka Akulah yang akan berfirman; Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku. Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.” (Ayub 42:4-6)

Sekali lagi Ayub mengutip pertanyaan Tuhan “Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku.” (Ayub 38:3b)  Lalu Ayub menjawab dengan sebuah pengakuan bahwa selama ini ia belum mengenal Tuhan secara pribadi dan hanya tahu dari kata orang. Selanjutnya ia merendahkan diri di hadapan Tuhan dan mencabut semua perkataannya yang salah. Pengakuan disertai pertobatan inilah yang menjadi titik balik kehidupan Ayub.

Pengenalan sejati akan Tuhan takkan diperoleh dengan hanya mendengar tentang Tuhan dari kata orang. Kita HARUS MENDENGAR TENTANG TUHAN DARI TUHAN SENDIRI. Tuhan itu terlalu besar, terlalu agung, terlalu dahsyat, jauh melampaui segala pemahaman manusia. Kita tak akan bisa mengenal Tuhan dengan benar, KECUALI TUHAN SENDIRI YANG MENYATAKAN DIRI-NYA kepada kita.

Dari mana dan bagaimana kita mendengar Tuhan berbicara tentang Diri-Nya kepada kita?? Dari Alkitab! Karena Alkitab adalah firman Tuhan, maka Alkitab tidak boleh dibaca/didengar sebagai informasi. Firman Tuhan harus diterima, direnungkan, dipercayai dan dihidupi dalam sebuah hubungan pribadi dengan Tuhan yang sengaja dibangun secara intens.

Penderitaan memang menyakitkan, tetapi seringkali menjadi cara paling efektif untuk mengubah hati manusia. Seringkali kita merasa sudah benar dan mengenal Tuhan hingga penderitaan menyingkapkan sisi tersembunyi dalam diri kita. Kesalehan dan integritas moral yang kita bangga-banggakan akan menjadi tidak berarti saat kita menyadari siapa diri kita sesungguhnya di hadapan Tuhan, yaitu bahwa Tuhan sangat besar dan kita hanyalah debu fana yang tak bisa hidup tanpa Dia.

REFLEKSI PRIBADI

Musim apa yang sedang Anda alami? Musim semi atau masa sulit? Salah satu hal penting yang harus dilakukan bila mengalami masa sulit adalah mengoreksi diri. Apakah kita telah hidup dalam dosa sehingga memberi pijakan bagi Iblis untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan hidup kita? Apakah kita telah melakukan kesalahan pengelolaan sumber daya kita? Apakah ada paradigma yang tidak tepat? Koreksi diri tidak hanya pada apa yang telah kita lakukan tetapi juga apa yang terkandung dalam hati kita tentang Tuhan.

Masa sulit sering datang tiba-tiba, namun bukan berarti kita tidak dapat mempersiapkan diri. Cara paling bijaksana adalah dengan membangun hidup kita di atas dasar yang benar: “Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya–Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan–, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun.” (Lukas 6:47-48)

Cintai firman Tuhan sebagai percakapan dengan Tuhan, percayai dengan segenap hati dan tanggapi dengan tindakan dalam ketaatan. Dengan demikian kita bukan hanya tidak mudah goyah saat masa sulit melanda, tetapi juga memperoleh hikmat dan tuntunan untuk melewatinya. “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105)

Tuhan yang sejak semula tidak berniat mencelakai Ayub, adalah Tuhan yang juga tak pernah berniat mencelakai kita. Sebab itu mari berdoa bukan hanya untuk meminta pertolongan-Nya, tetapi juga untuk mengucap syukur atas keputusan-Nya yang mengijinkan datangnya masa sulit sebab pasti ada maksud mulia dibaliknya. Selama kita meresponi dan menjalani masa sulit dengan cara sesuai kehendak-Nya, maka di akhir musim kita akan mendapati keindahan rencana Tuhan digenapi dalam hidup kita.

Amin.

 

Oleh: Sella Irene – Beautiful Words

Posted in English: The New Season 2 “THE HARD SEASON” (click here)

 

Photo Credit: Google Images

Edit with: pixlr app

 

Advertisements

One comment on “MUSIM-MUSIM KEHIDUPAN 2 : “MASA SULIT”

  1. Pingback: Musim-Musim Kehidupan 3 “ZONA AMAN YANG BERBAHAYA” | Beautiful Words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

translate this blog

Follow Beautiful Words on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 496 other followers

Archives

%d bloggers like this: