Beautiful Words

Beautiful words stir my heart. I will recite a lovely poem about the king, for my tongue is like the pen of a skillful poet.

MENAKLUKKAN DIRI SENDIRI


Dalam tulisan sebelumnya tentang “Tanggalkan Egomu”, kita mengerti bahwa setiap respon dan reaksi kita terhadap segala sesuatu sangat dipengaruhi oleh ego. Itu sebabnya kita harus menanggalkan ego manusia lama kita, dan mulai memandang diri sendiri dalam perspektif Ilahi serta bertindak selaras dengan apa kata Tuhan sehingga kita tidak jatuh dalam dosa yang disebabkan oleh ego. Untuk melengkapi tulisan tersebut, kali ini mari bersama-sama belajar tentang menaklukkan diri sendiri seperti yang Paulus lakukan sementara ia melayani Tuhan dengan seluruh hidupnya.

Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu MAHKOTA YANG ABADISebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku MELATIH TUBUHKU dan MENGUASAINYA SELURUHNYA, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak. (1 Korintus 9:25-27)

Paulus menganalogikan para pengikut Kristus sebagai atlet-atlet yang sedang berada dalam sebuah pertandingan. Seorang atlet sejati bukan saja mengerahkan energinya, tetapi juga menginvestasikan hidupnya untuk fokus mencapai kemenangan dalam setiap pertandingan. Mereka giat berlatih agar semakin cakap dalam bidangnya. Untuk itu mereka berjuang menguasai dirinya: mengatur pola makan, mengondisikan pikiran dan perasaan, dan acapkali harus mengalahkan kemalasan dan kesenangannya. Paulus berkata bahwa semua penyangkalan diri itu mereka lakukan demi sebuah mahkota yang fana, tetapi kita, para atlet rohani, berjuang untuk memperoleh mahkota yang abadi. Dalam konteks 1 Korintus 9: 25-27 ini, mahkota abadi yang dimaksud bukanlah keselamatan, tetapi upah kekal yang disediakan Allah bagi para pelayan Kristus (the eternal blessedness which will be given as a prize to the genuine servants of God and Christ). Tidakkah untuk itu kita harus berusaha lebih keras lagi?! Sekarang mari belajar dari kehidupan rohani Rasul Paulus.

Dedikasi dan totalitas Paulus bagi pemberitaan Injil tidak perlu diragukan lagi. Surat 2 Korintus 9:23-28 memaparkan pengorbanan dan penderitaan Paulus dalam pelayanan. Dia mengalami penyiksaan secara fisik serta menghadapi berbagai bencana dan bahaya di mana-mana. Dia harus bekerja berat hingga kerap kali tidak tidur, kelaparan, kehausan, kedinginan, berpuasa, dan sebagainya. Semua penderitaan itu tidak membuatnya mundur sedikitpun.  Justru, dari seorang yang rela mati bagi Injil ini keluar sebuah pernyataan: “Tetapi aku MELATIH TUBUHKU dan MENGUASAINYA SELURUHNYA, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”

Dalam versi NIV dikatakan: “No, I BEAT MY BODY and MAKE IT MY SLAVE so that after I have preached to others, I myself will NOT BE DISQUALIFIED FOR THE PRIZE.”

Ada dua hal yang ditekankan oleh rasul Paulus, yaitu MELATIH TUBUH (I beat my body) dan MENGUASAINYA SELURUHNYA (make it my slave).

MELATIH TUBUH

MELATIH TUBUH ( I beat my body – NIV ) yang dimaksud oleh Paulus bukanlah membentuk otot-otot jasmani, sebab untuk tubuh jasmani Paulus pernah berkata: “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal…”. (1 Tim 4:8) Tubuh yang dimaksud adalah keberadaan diri manusia (EGO) yang di dalamnya terdapat pikiran, perasaan, dan kehendak dengan segala kekuatan dan kelemahannya. Jadi, “Tetapi aku MELATIH TUBUHKU ( I beat my body – NIV )…..” yang dimaksud oleh Paulus dalam perikop ini adalah “menggembleng diri sendiri dengan disiplin yang sangat keras, seperti seorang petinju yang menghajar tubuhnya sendiri”. Pendisiplinan diri ini tidak cukup hanya satu kali tetapi setiap hari, terus-menerus, sampai seumur hidup!

Seringkali manusia bersikap keras dan tidak mau toleransi terhadap orang lain, namun lemah dan gampang berkompromi saat menghadapi diri sendiri. Kita terlampau sering menyerah terhadap keinginan, perasaan, dan pikiran kita. Meski sesungguhnya kita tahu bahwa apa yang ingin, akan, atau sedang kita lakukan tersebut tidak baik, namun kita tak berdaya untuk menghentikannya. Kita harus melakukan seperti yang Paulus lakukan jika kita ingin menang. Paulus menerapkan disiplin yang sangat keras terhadap dirinya. Ia menghajar kedagingannya, mengalahkan egonya, dan memaksa dirinya untuk melakukan apa yang SEHARUSNYA dilakukan, bukan apa yang INGIN dilakukan.

MENGUASAI SELURUHNYA

Paulus mendisiplin dan MENGUASAI DIRINYA SELURUHNYA dengan sangat keras seperti seorang tuan pada budaknya (make it my slave – NIV). Menjadi budak merupakan ungkapan yang tidak enak didengar. Pada jaman perbudakan, seorang budak tidak punya hak mempertanyakan, membantah, apalagi melawan perintah tuannya. Hidup seorang budak sepenuhnya dimiliki dan dikontrol oleh tuannya. Dengan kata lain, Paulus tidak membiarkan dirinya dikontrol oleh kemauan, perasaan, dan pikirannya sendiri, tetapi ia menguasai dan menundukkan dirinya seutuhnya seperti seorang budak yang tunduk pada semua perintah Kristus, Tuhan yang ia layani.

“Sebab seorang hamba yang dipanggil oleh Tuhan dalam pelayanan-Nya, adalah orang bebas, milik Tuhan. Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya. (1 Korintus 7:22)

Bagaimana dengan kita? Kadang kita ingin bangkit dari kejatuhan dan meninggalkan kebiasaan buruk, namun kenyataannya kita terus melakukannya lagi dan lagi. Kadang tanpa disadari kita telah diperbudak oleh pikiran, perasaan, dan kehendak tubuh kita sendiri. Bila kita ingin merdeka dan tidak diperbudak oleh diri sendiri, maka kita harus menundukkan diri kepada Tuhan dengan melakukan segala perintah-Nya tanpa membantah. Segenap eksistensi kita harus takluk kepada Tuhan bagaikan seorang budak yang tidak punya hak terhadap dirinya sendiri.

BERJUANG SAMPAI GARIS AKHIR

Perjuangan seorang atlet telah dimulai sejak ia memutuskan untuk mengikuti sebuah pertandingan, dan kemenangan seorang atlet bukan hanya ditentukan saat ia berada dalam gelanggang, tetapi sebagian besar ditentukan oleh persiapannya.

Kita adalah atlet-atlet rohani. Pertandingan kita dimulai sejak kita memutuskan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Sejak saat itu hidup kita bukanlah milik kita lagi tetapi milik Tuhan. Tuhan adalah tuan, dan kita adalah hamba-Nya. Tanda bahwa kita sudah menjadikan Kristus sebagai Tuan adalah jika kita melayani Dia dan mengerjakan kehendak-Nya, bukan memuaskan hasrat diri kita sendiri.

Sayangnya, penghalang terbesar untuk mengabdikan diri sepenuhnya pada Kristus adalah diri kita sendiri. Semua yang datang dari luar memang dapat mempengaruhi dan memicu tindakan kita, tetapi sesungguhnya keputusan akhir tetaplah ada di tangan kita. Hidup kudus atau berzinah, bersabar atau marah, mengampuni atau mendendam, setia pada pasangan atau selingkuh, jujur atau berdusta, dan sebagainya, kitalah yang memutuskannya. Bahkan bukan hanya tentang memilih antara dosa dan tidak, tetapi juga menyangkut segala hal yang tidak mendukung pengabdian dan pelayanan kita pada Allah, meski hal itu bukan sebuah kejahatan. Misalnya: berdoa atau tidur lebih lama, membaca Alkitab sekarang atau nanti saja, belajar lebih keras atau menyerah, hasrat shopping yang berlebihan, sifat yang moody, dan sebagainya. Seringkali kita harus bergumul dengan diri sendiri untuk mengambil pilihan yang sesuai kehendak Allah. Yakobus berkata: “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” (Yak 1:14) Itu sebabnya kita tidak boleh berkompromi dengan diri sendiri tapi harus menaklukkannya di bawah kaki Kristus.

Menaklukkan diri sendiri berarti disiplin untuk berkata “tidak” kepada diri sendiri terhadap segala hal yang tidak membangun kualitas hidup kita di dalam Kristus, dan memaksa diri untuk tunduk dan berkata “ya” terhadap segala hal yang menyenangkan hati Tuhan sebagai Tuan kita, meski diri kita tidak menyukainya!

Menaklukkan diri sendiri membutuhkan komitmen yang kuat. Bukan supaya kita memperoleh keselamatan sebab keselamatan bukanlah hasil usaha manusia melainkan pemberian cuma-cuma dari Allah berdasarkan kasih karunia. Paulus menulis pada jemaat Korintus dan kepada semua orang percaya, bahwa tujuan perjuangan kita adalah:  “….. supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri DITOLAK (DISQUALIFIED FOR THE PRIZE – NIV).” (1 Korintus 9:25-27).

Bila seorang atlet didiskualifikasi, berarti tak ada lagi kesempatan untuk memperoleh hadiah. Bila kita “didiskualifikasi”, maka kita akan kehilangan upah kekal dari Tuhan atas semua pelayanan kita. Bagaimana itu bisa terjadi? Renungkan, bila kita tidak menaklukkan diri sendiri maka kita yang akan dikendalikan dan diperbudak oleh keinginan kita sendiri. Dengan kata lain, yang menjadi tuan atas kita bukanlah Tuhan tetapi diri kita sendiri. Orang yang menjadi tuan bagi dirinya sendiri tidak akan mungkin melayani Tuhan sebab yang ia layani adalah egonya sendiri. Hal ini akan menghalangi kemurnian kita dalam pelayanan.

Tuhan tidak melihat banyaknya aktifitas dalam pelayanan, tetapi yang terpenting adalah perubahan hidup. Sudahkah hidup kita berpadanan dengan Injil yang kita beritakan? Sudahkah kita hidup benar seperti kebenaran yang kita khotbahkan? Apakah dari waktu ke waktu kita semakin serupa seperti Kristus yang kita layani? Jika jawabannya adalah “tidak”, mungkin kita belum benar-benar menjadi pelayan Kristus yang sejati. Mungkin kita melayani hanya karena hobi, demi kebanggaan, senang tampil dan menjadi pusat perhatian, mencari pujian dan pengakuan, menyalurkan bakat, senang sosialisasi dan organisasi, dan sebagainya. Jika kita hanya berhenti pada tahap itu dan tidak mau tunduk untuk menjalani PROSES PENAKLUKAN DIRI yang mengikis habis ego dan mengubah diri kita, maka kita tak akan pernah bisa melayani Kristus dengan cara yang menyenangkan hati-Nya.

Selagi kita masih memiliki kesempatan, mari memohon Roh Kudus untuk menolong dan memberi kekuatan sehingga kita dapat mendisiplin dan menundukkan diri kita sendiri. Bila kita selalu taat untuk menaklukkan diri kita di bawah kehendak Tuhan maka hidup kita akan menghasilkan buah-buah Roh. Kita akan menjadi orang yang lebih bisa mengasihi, bisa bersukacita meski dalam kesusahan, penuh damai sejahtera, lebih sabar, lebih murah hati, lebih baik hati, lebih setia, penuh kelemahlembutan, dan semakin dapat mengendalikan diri. Jika buah Roh melimpah dalam hidup kita, maka pelayanan kita akan memberkati sesama, memuliakan Allah, dan berdampak kekal. Kelak kita bisa berkata seperti Paulus dalam suratnya yang kedua kepada Timotius, yaitu surat terakhir yang ia tulis dari penjara di Roma sebelum ia dipancung oleh Kaisar Nero: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” (2 Timotius 4:7)

Doa saya adalah kita semua dapat menjadi pelayan Tuhan yang sejati dan bertahan sampai akhir, untuk kemudian memperoleh upah kekal atas semua jerih payah kita di dalam Kristus.

Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya. (Kolose 3:24)

 

A M I N

 

Posted in English: CONQUER YOURSELF (click here)

By: Sella Irene – Beautiful Words

Image Credit: Google Images (edit with pixlr app)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

translate this blog

Follow Beautiful Words on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 496 other followers

Archives

%d bloggers like this: