Beautiful Words

Beautiful words stir my heart. I will recite a lovely poem about the king, for my tongue is like the pen of a skillful poet.

TANGGALKAN EGOMU


Pada dasarnya semua manusia memiliki ego. Keluarga, lingkungan, status, ekonomi, pendidikan, perlakuan dan perkataan orang lain, peristiwa-peristiwa tertentu, serta berbagai hal yang secara intens terulang dalam hidup seseorang, dapat membentuk dan mempengaruhi ego. Dalam bahasa Yunani, kata “ego” berarti “saya” (I, me, my) yang digunakan sebagai bentuk penegasan (a primary pronoun of the first person I – only expressed when emphatic). Secara sederhana, ego adalah perspektif terhadap diri sendiri, atau konsep individu tentang dirinya sendiri, atau “saya dengan segala keberadaan saya” atau “A person’s sense of self-esteem or self-importance”. Bagaimana seseorang memberi respon, bereaksi, dan beraksi terhadap segala sesuatu merupakan perwujudan dari ego. Oleh sebab itu sebagai murid Kristus kita harus melihat diri sendiri di dalam perspektif Allah supaya kita memiliki konsep diri yang sama dengan konsep Allah tentang diri kita. Dengan demikian, sedapat mungkin kita terhindar dari jatuh dalam dosa yang disebabkan oleh ego.

WAJIB HIDUP SEPERTI KRISTUS TELAH HIDUP

Dalam Injil Yohanes 8:12-14, Tuhan Yesus memberi kesaksian tentang Diri-Nya:

Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “AKULAH (dalam bahasa aslinya menggunakan kata “ego“) terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.

Namun orang-orang Farisi tidak mempercayai Dia. Mereka berkata: “Engkau bersaksi tentang diri-Mu, kesaksian-Mu tidak benar.”

Maka Yesus menjawab: “Biarpun AKU (dalam bahasa aslinya menggunakan kata “ego“) bersaksi tentang diri-Ku sendiri, namun kesaksian-Ku itu benar, sebab Aku tahu, dari mana Aku datang dan ke mana Aku pergi. Tetapi kamu tidak tahu, dari mana Aku datang dan ke mana Aku pergi.”

Tuhan Yesus tahu persis siapa Diri-Nya. Dia tahu persis tujuan-Nya hadir di dunia, dan dalam ketaatan-Nya Dia telah menyelesaikan pekerjaan Bapa dengan sempurna. Bukankah itu adalah kerinduan kita?! Setiap orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan pasti ingin mengerti kehendak Tuhan, rindu dipakai oleh-Nya, dan mengalami penggenapan rencana-Nya. Namun hal itu seringkali terhalang oleh diri (ego) kita sendiri. Faktor “AKU” dengan segala atribut dan kekhasan yang melekat pada diri kita – karakter, sifat, cara pandang, kekuatan, kelemahan, dan sebagainya – seringkali membuat kita bereaksi yang keliru. Akibatnya, kita gagal memahami maksud Tuhan, gagal mengenali panggilan-Nya, bingung dan tidak mengerti kehendak-Nya, bahkan akhirnya bertindak salah.

Sejak kita lahir hingga bertumbuh, seiring itu pula ego semakin berkembang. Kemudian saat kita berjumpa dengan Kristus maka akan terjadi penyelarasan, yaitu diri kita semakin diselaraskan dengan Firman Tuhan. Bagian-bagian dari diri (ego) kita yang salah harus dikoreksi, yang kotor harus dibersihkan, yang bengkok harus diluruskan, yang tidak berguna harus disingkirkan. Pada saat kita percaya dan menerima Kristus sebagai satu-satunya Tuhan dan Juru Selamat, seketika itu pula kita menjadi ciptaan yang baru: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Kor 5:17) Tetapi bukan berarti secara otomatis seluruh eksistensi kita langsung berubah. Ada hal-hal yang memerlukan kerja sama kita untuk merespon dengan benar terhadap setiap pembentukan dari Tuhan.

Yang pertama-tama harus kita sadari adalah bahwa jati diri kita – yang sejak semula diciptakan segambar dan serupa dengan Tuhan – sudah dipulihkan! Kita tidak lagi hidup di bawah kutuk tetapi tinggal di dalam kasih karunia Bapa, sebab Yesus telah menanggung hukuman kita. Nama kita telah ditulis dalam Kitab Kehidupan. Status kita telah diubah menjadi anak Allah dan ahli waris Kerajaan Sorga. Kita tidak lagi hidup bagi diri sendiri, tetapi dipanggil untuk mengerjakan tugas mulia dari Bapa. Tujuan hidup kita bukan lagi kepuasan diri sendiri, tetapi menyenangkan hati Tuhan dan menjadi penyembah-Nya. Roh-Nya yang Kudus berdiam di dalam kita. Kita akan semakin diubah menjadi seperti Yesus di dalam perkataan, pikiran, dan perbuatan. Dan karena kita telah menjadi milik Kristus, maka kita wajib hidup seperti teladan Kristus. “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” (1 Yoh 2:6)

Itu semua adalah perspektif Allah terhadap anak-anak-Nya. Sebagai anak-Nya, kita harus melihat diri kita sama seperti Bapa melihat kita. Konsep diri seperti itulah yang harus kita percayai dan hidupi. Paradigma kita dalam memandang diri sendiri dan kehidupan ini harus berubah.

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:2)

Berubah oleh pembaharuan budi berarti berubah dalam pikiran, perasaan, dan kehendak (in thought, feeling, or will). Baik atau tidak baik, benar atau salah, untung atau rugi, layak atau tidak, dan sebagainya, ukurannya bukan lagi diri kita sendiri (ego), tetapi Firman Kristus!

Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. (Lukas 9:23)

Dengan cara itu maka semakin lama ego kita akan semakin terkikis dan rencana Allah dalam hidup kita dapat terlaksana.

TUNDUK PADA ALLAH

Sebagai umat yang “…wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” (1 Yoh 2:6), maka kita harus meneladani apa yang Yesus lakukan.

Dalam Matius 4:1-11, Yesus dicobai Iblis setelah Ia selesai berpuasa 40 hari 40 malam.

Pencobaan pertama: “JIKA ENGKAU ANAK ALLAH, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” (ayat 3)

Pencobaan kedua: JIKA ENGKAU ANAK ALLAH, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” (ayat 6)

Bila kita perhatikan, inti dari pencobaan pertama dan kedua bukan sekedar tentang roti atau tentang menjatuhkan diri, tetapi Iblis sedang memanipulasi dan menantang Yesus untuk membuktikan Diri-Nya dan kuasa ke-Allah-an-Nya.

Pencobaan ketiga: Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya SEMUA KERAJAAN DUNIA DENGAN KEMEGAHANNYA, dan berkata kepada-Nya: “SEMUA ITU AKAN KUBERIKAN KEPADA-MU, jika Engkau sujud menyembah aku.” (ayat 8-9)

Pada pencobaan ketiga, Iblis sedang “mengiming-imingi” Yesus dengan kekayaan, kekuasaan, dan kehormatan di mata dunia. Dalam tiga pencobaan itu, Yesus selalu menjawab, “Ada tertulis”.

Kunci kemenangan Yesus atas pencobaan adalah Ia selalu menundukkan Diri-Nya di bawah otoritas Firman Allah. Bila kita mau menang atas pencobaan maka KITA HARUS MENUNDUKKAN EGO KITA DI BAWAH OTORITAS FIRMAN ALLAH. Standar kita dalam menjalani dan meresponi segala sesuatu bukanlah ego, tetapi Firman Allah!

Demikian pula saat Yesus berdoa di taman Getsemani menjelang penyaliban-Nya. Tiga kali Yesus berdoa, Kata-Nya: “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (Markus 14:36) Yesus mengakui tak ada yang mustahil bagi Bapa. Yesus percaya Bapa sanggup mengabulkan permohonan-Nya, tetapi Yesus menyerahkan Diri-Nya ke dalam kehendak Bapa.

Bila kita rindu hidup dalam rencana Allah, maka EGO KITA HARUS TUNDUK PADA KEHENDAK ALLAH. Dalam bereaksi terhadap segala sesuatu standarnya bukanlah pikiran, perasaan, dan kemauan kita, namun kehendak Allah, sebab ada kalanya ego mendorong kita melakukan sesuatu yang kita pikir benar tetapi sesungguhnya tidak benar atau bukan itu cara yang dihekendaki Allah, seperti yang pernah dilakukan Musa.

Dalam Keluaran 2:11-15, Musa bertindak untuk membela bangsanya, Israel, dengan membunuh orang Mesir yang sedang memukuli orang Ibrani. Sangat mudah bagi Musa untuk melakukan itu sebab ia terdidik dan terlatih di istana Firaun. Seharusnya membela bangsanya adalah sikap hati yang benar, tetapi karena timing dan caranya tidak tepat maka yang terjadi justru kesalahpahaman. Ia ditolak oleh bangsanya sendiri serta diincar Firaun untuk dibunuh.

EGO KITA HARUS DITUNDUKKAN DI BAWAH OTORITAS ALLAH, yaitu Firman dan kehendak-Nya, bahkan saat kita hendak melakukan hal yang benar menurut kita. Bila ego tidak ditundukkan, kita bisa menjadi orang egois yang mengukur segala sesuatu dari sudut pandang diri sendiri dan demi diri sendiri.

HIDUP DALAM RENCANA ALLAH

Pada akhirnya, seluruh nilai kehidupan kita terletak pada Allah. Hidup kita akan bermakna dan berbuah bila didirikan di atas dasar iman kepada Yesus Kristus dan dibangun sesuai rencana Allah. Jangan biarkan ego menghalangi kita untuk masuk ke dalamnya. Rasul Paulus adalah contoh yang indah.

Paulus memiliki latar belakang keyahudian yang luar biasa. Lahir dari keluarga Yahudi ortodoks, suku Benyamin, orang Ibrani asli, tidak bercacat dalam menaati hukum Taurat (Fil 3:5-6), hidup sebagai seorang Farisi menurut mazhab yang paling keras dalam agama Yahudi (Kis 26:5), dan dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel yaitu seorang ahli Taurat kenamaan dan anggota Mahkamah Agama Yahudi (Kis 22:3). Terlepas dari kemampuannya berbahasa Yunani dan berkewarganegaraan Roma, sudah jelas bahwa Paulus memiliki potensi untuk melayani sebagai rasul untuk bangsa Yahudi, sebagaimana dengan rasul Petrus. Tetapi Tuhan justru mengutusnya kepada bangsa-bangsa lain: “Pergilah, sebab Aku akan mengutus engkau jauh dari sini kepada bangsa-bangsa lain.” (Kis 22:21)

Paulus tidak membanggakan dirinya sebagai orang yang sanggup. Dia juga tidak berbantah dengan Tuhan. Yang dilakukannya hanyalah taat: Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaat pun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia;” (Gal 1:15-16) Bahkan meski pada masa-masa awal pelayanannya ia sempat diragukan oleh rasul-rasul dan jemaat Kristen Yahudi, ia maju terus dan mengerjakan panggilan Tuhan sampai nafas terakhirnya di tangan algojo kaisar Nero di Roma. Itulah hidup yang menggenapi rencana Allah.

MENJADI MANUSIA BARU

“Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus MENANGGALKAN MANUSIA LAMA, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu DIBAHARUI DI DALAM ROH DAN PIKIRANMU, dan MENGENAKAN MANUSIA BARU, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah DI DALAM KEBENARAN DAN KEKUDUSAN YANG SESUNGGUHNYA.” (Efesus 4:21-24)

Marilah kita MENANGGALKAN EGO DARI MANUSIA LAMA kita. Jangan merasa hebat, mampu, dan percaya diri karena kita kaya, pandai, berkedudukan tinggi, tampan atau cantik, berbakat dan memiliki pengaruh. Juga jangan merasa minder karena merasa jelek, miskin, bodoh, dan banyak kelemahan. Jangan menyandarkan rasa percaya diri atau menilai diri kita berdasarkan semua itu.

“Siapa percaya kepada hatinya sendiri adalah orang bebal, tetapi siapa berlaku dengan bijak akan selamat.” (Amsal 28:26)

Sebaliknya, marilah kita hidup dalam ROH DAN PIKIRAN YANG TELAH DIPERBAHARUI OLEH ROH KUDUS dan MENGENAKAN MANUSIA BARU. Mari kita hidup dalam KEBENARAN DAN KEKUDUSAN YANG SESUNGGUHNYA, yaitu nilai-nilai yang tidak berdasarkan perspektif dan rasa percaya diri kita sendiri (ego), tetapi nilai-nilai yang BERSUMBER DARI ALLAH SENDIRI. Tentu saja bukan dengan mengandalkan kemauan dan kekuatan kita sendiri, tetapi dengan bergantung pada bimbingan Roh Kudus setiap saat dan terus menerus, sampai seluruh proses hidup kita berakhir, yaitu ketika kita menutup mata dan kembali kepada Bapa yang empunya diri kita.

“Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus, penuh dengan buah kebenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus untuk memuliakan dan memuji Allah.” (Filipi 1:9-11)

 

A M I N

 

Posted in English: PUTT OFF YOUR EGO (click here)

By: Sella Irene – Beautiful Words

Image Credit: Google images (edit with pixlr app)

Advertisements

One comment on “TANGGALKAN EGOMU

  1. Pingback: MENAKLUKKAN DIRI SENDIRI | Beautiful Words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

translate this blog

Follow Beautiful Words on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 497 other followers

Archives

%d bloggers like this: