Beautiful Words

Beautiful words stir my heart. I will recite a lovely poem about the king, for my tongue is like the pen of a skillful poet.

KASIH TUHAN DI DALAM PENDERITAAN


Posted in English: GOD’S LOVE IN THE SUFFERING (click here)

By: Sella Irene – Beautiful Words

Penderitaan bukan kata yang menyenangkan untuk dibayangkan. Bahkan sebagian dari doa-doa kita berisi permohonan mengenai kesehatan, berkat, perlindungan, dan penyertaan Tuhan, yang bila direnungkan lebih dalam, tujuannya adalah agar diluputkan dari penderitaan. Namun kenyataannya… kesedihan, kegagalan, kehilangan, dan berbagai hal yang dikonotasikan sebagai penderitaan akan selalu menjadi bagian dari kehidupan. Bukan karena Tuhan tidak sayang, tetapi karena Tuhan memiliki tujuan mulia demi kepentingan kita:

Penderitaan merupakan salah satu cara Tuhan untuk mengajar, mendidik, mendewasakan, dan memurnikan umat-Nya: “Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan ATAS KEHENDAK TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini DENGAN  MAKSUD merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.” (Ulangan 8:2)

Lebih dari itu… sebagai orang yang telah dibenarkan oleh darah Yesus, setiap penderitaan yang harus kita tanggung karena kebenaran, atau penderitaan yang kita lalui di dalam ketaatan pada firman dan kehendak Tuhan, merupakan proses untuk menghasilkan kualitas rohani yang tahan uji dan menjadikan kita semakin kuat berpegang pada Tuhan sebagai satu-satunya pengharapan. Bukan hanya untuk hidup yang sekarang tetapi sampai pada hidup kekal. “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:3-5)

Berbagai bentuk penderitaan – baik yang diakibatkan oleh dosa dan kesalahan manusia, ataupun penderitaan yang diperkenankan Tuhan terjadi dalam hidup orang-orang pilihan-Nya, seperti Ayub – semua dapat dipakai Tuhan untuk menyatakan kasih-Nya, bahkan dengan cara yang melampaui pengertian kita!!

PEMELIHARAAN TUHAN

Beberapa waktu lalu, salah satu bab dalam buku “Hati yang Dipersembahkan kepada Allah” (Sinclair B. Ferguson, A Heart for God) menolong saya untuk melihat penderitaan dari perspektif yang lain, yaitu bahwa PENDERITAAN MERUPAKAN SALAH SATU BENTUK PEMELIHARAAN TUHAN bagi umat-Nya. Tetapi… Jika Tuhan peduli dan mengasihi manusia, mengapa Ia harus menyatakannya melalui penderitaan?? Untuk itu mari melihat kehidupan Naomi dalam kitab Rut.

Ketika terjadi kelaparan di tanah Israel, pergilah seorang dari Betlehem-Yehuda bernama Elimelekh dan istrinya, Naomi, beserta ke dua anak mereka, Mahlon dan Kilyon, ke Moab untuk menetap sebagai orang asing. Lalu matilah Elimelekh di sana. Tinggallah Naomi bersama ke dua putranya, yang kemudian menikahi wanita Moab, Rut dan Orpa.  Lalu kedua putranya pun mati, meninggalkan Naomi seorang diri bersama kedua menantunya.

Naomi punya dua pilihan: tetap tinggal di Moab dalam kenangan sedih akan suami dan dua putra tercinta yang meninggal di sana, atau kembali lagi ke Israel, Tanah Perjanjian yang telah ditinggalkannya. Oleh anugerah Tuhan, Naomi kembali ke Israel bersama Rut, istri Mahlon, yang bersikeras ikut kemana pun ia pergi. Inilah kata Naomi tentang hidupnya:

Tetapi ia berkata kepada mereka: “Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab YANG MAHAKUASA TELAH MELAKUKAN BANYAK YANG PAHIT KEPADAKU. Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi DENGAN TANGAN YANG KOSONG TUHAN MEMULANGKAN AKU. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena TUHAN TELAH NAIK SAKSI MENENTANG AKU dan YANG MAHAKUASA TELAH MENDATANGKAN MALAPETAKA KEPADAKU.” (Rut 1:20-21)

Itu bukanlah kalimat yang keluar dari hati yang pahit dan kecewa dengan Tuhan. Itu adalah pengakuan Naomi bahwa TUHAN YANG MAHAKUASA SELALU HADIR DAN BERPERAN DI DALAM SEMUA PENDERITAANNYA. Naomi tahu persis bahwa semua yang Tuhan lakukan adalah untuk “memulangkan” dia, membawa ia kembali pada Tuhan dan semua janji-Nya.

Ia ingat… ketika bencana kelaparan terjadi sepuluh tahun lalu, ia dan keluarganya memilih untuk meninggalkan Israel, yaitu tanah yang atasnya Tuhan telah berjanji untuk memelihara umat-Nya. Meninggalkan Tanah Perjanjian sama artinya dengan meragukan janji Tuhan. Ia berangkat dengan “tangan penuh”, yaitu penuh dengan rencana, harapan, dan impian akan hari esok yang lebih baik, dan mungkin pula dengan membawa semua harta benda, untuk membangun masa depan yang baru di sebuah negeri asing. Kemudian penderitaan demi penderitaan “memaksa” ia kembali ke Tanah Perjanjian meski harus dengan “tangan yang kosong”, yaitu tak ada lagi yang dapat diharapkan dan diandalkan selain Tuhan!!

Kita pun pernah seperti itu. Ketika menghadapi persoalan, kita tidak segera mencari Tuhan tapi justru mencari pertolongan di tempat lain dengan kekuatan kita sendiri. Kadang kita terlampau percaya diri sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada Tuhan, sampai kemudian Tuhan mengijinkan penderitaan merenggut apa yang kita miliki. Mungkin itu kekayaan, kedudukan, relasi, kekuasaan, harga diri, atau apapun juga yang TANPA KITA SADARI TERNYATA TELAH MENGGANTIKAN KEDUDUKAN TUHAN DI HATI KITA. Kadang kita merasa hati kita benar dan hubungan kita dengan Tuhan baik-baik saja, sampai penderitaan menyingkapkan rahasia yang tersembunyi dari kedalaman hati kita dan membuat kita menyadari kenyataan diri kita yang sesungguhnya. Itulah saatnya kita dimurnikan dan komitmen kita dengan Tuhan diperbaharui!!

SEBELUM AKU TERTINDAS, AKU MENYIMPANG, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu.” (MAZMUR 119:67)

Kadang hal yang menyakitkan diijinkan Tuhan terjadi sebagai bentuk pemeliharaan-Nya. Dalam pemeliharaan Tuhan bukan hanya terdapat berkat berlimpah, tetapi juga ada DIDIKAN dan PERINGATAN, serta PROTEKSI bagi umat-Nya. Didikan dan peringatan agar kita menyadari kesalahan dan segera kembali kepada-Nya, serta proteksi – bukan hanya bagi keselamatan tubuh dan jiwa kita – tapi juga proteksi DARI SEGALA HAL YANG BERPOTENSI MEMBUAT KITA MENJAUH DARI TUHAN. Demi memelihara kita, kadang Tuhan harus rela “menghajar dan menyesah” (mendisiplin dengan kasih) kita demi kebaikan kita, seperti seorang ayah pada anak yang dikasihinya.

Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng DIDIKAN Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau DIPERINGATKAN-Nya; karena Tuhan MENGHAJAR orang yang dikasihi-Nya, dan Ia MENYESAH orang yang diakui-Nya sebagai anak.” (Ibrani 12:5-6)

Bila Tuhan mengijinkan kita menderita, itu artinya Tuhan peduli dengan hidup kita. Mengapa harus melalui penderitaan? Hanya Tuhan yang tahu!! Ia tahu sebelum segala sesuatu terjadi, Ia tahu isi hati kita, Ia tahu kecenderungan kita terhadap segala sesuatu, dan Ia tahu persis cara memperlakukan setiap kita. Ia tahu kapan bicara dengan kita melalui firman yang kita baca, melalui perkataan orang lain, melalui sebuah peristiwa, atau harus melalui penderitaan. Bila kita bertanya “mengapa”, tak kan ada jawaban manusia yang dapat memuaskan kita, sebab Ia adalah Tuhan. Tidak mungkin untuk mengerti keputusan-Nya dengan pikiran kita. “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” (Roma 11:33).

Satu hal yang kita harus mengerti adalah bahwa Tuhan adalah kasih, dan semua yang Ia lakukan bagi kita adalah karena kasih. Bila diilustrasikan secara sangat sederhana, pemeliharaan Tuhan itu seperti orang tua yang mengajar dan mendisiplin anaknya. Orang tua yang baik akan mendisiplin anaknya untuk makan, belajar, atau tidur pada jam yang seharusnya meski saat itu si anak sedang ingin bermain. Orang tua yang baik akan mengawasi dan melarang anaknya melakukan hal-hal yang tidak baik bagi dirinya, dan melatihnya hidup dalam kebiasaan yang baik yang dapat membuat si anak bertumbuh dan berkembang dengan maksimal. Bila diperlukan, orang tua akan marah atau menghukum anaknya yang berbuat salah. Di dalam perasaan dan keterbatasan pemahaman seorang anak, tentu si anak akan merasa menderita dan menangis. Tapi kelak, seiring dengan pertumbuhan dan kedewasaannya, si anak akan tahu bahwa semua yang telah dilakukan orang tuanya adalah untuk kebaikannya. Demikian pula dengan Bapa di Sorga. Apapun yang dilakukan-Nya yang membuat kita merasa menderita adalah demi kebaikan kita, sebab Ia adalah Bapa yang baik.

BAPA YANG BAIK

Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi BAPAMU YANG DI SORGA! Ia akan MEMBERIKAN YANG BAIK kepada mereka yang meminta kepada-Nya. (Matius 7:11)

Saat kita berdoa dan berkata “Amin” tentang PEMBERIAN YANG BAIK DARI BAPA, seringkali yang kita bayangkan adalah: naik jabatan, menang tender, hidup makmur, bisnis berkembang pesat, dan berbagai hal yang BAIK MENURUT UKURAN MANUSIA. Tetapi apa yang baik menurut manusia, BELUM TENTU BAIK BAGI KITA DARI SUDUT PANDANG BAPA, SEBAB BAPA SANGAT MENGENAL DIRI KITA. Bapa benar-benar tahu apa yang terbaik bagi setiap anak-anak-Nya secara personal dan spesifik!! Sesuatu yang baik bagi salah seorang anak-Nya, bukan berarti juga baik bagi anak-anak-Nya yang lain. Kita tak bisa mengukur hidup kita dengan cara membandingkannya dengan hidup orang lain. Kita tak bisa berkata Tuhan tidak adil karena penderitaan tertentu harus kita alami, sementara orang lain tidak mengalaminya. Bapa melakukan dan memberikan setiap hal sesuai waktu, kedewasaan kita, dan tujuan-Nya bagi hidup kita masing-masing.

Pemberian yang terbaik dari Bapa bukan hanya apa yang baik bagi kebahagiaan dan kesejahteraan kita di dunia, tetapi TERUTAMA apa yang baik dan berdampak BAGI KEHIDUPAN KEKAL kita. Dalam kondisi tertentu dan bila memang diperlukan, Tuhan dapat memakai penderitaan untuk mencapai tujuan-Nya walau sesungguhnya hati-Nya tidak rela melihat kita menderita: “Karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya. Karena tidak dengan rela hati Ia menindas dan merisaukan anak-anak manusia.” (Ratapan 3:32-33)

Alasan atas setiap hal yang Bapa lakukan dalam hidup kita adalah: KASIH. Bila penderitaan harus terjadi – bahkan jika hal itu disebabkan oleh dosa atau kesalahan kita sendiri – sesungguhnya penderitaan itu sama sekali tidak akan membahayakan kita sebab tujuan-Nya bukan untuk mnghancurkan kita tapi membangun hidup kita di dalam Dia, sehingga Dia dapat memberkati dan memakai kita sebagai rekan kerja-Nya di dunia.

Dalam hikmat dan kedaulatan-Nya, BAPA BISA MENGERJAKAN APA YANG BAIK MELALUI KEADAAN YANG MENURUT KITA TIDAK BAIK, sebagaimana pemeliharaan Tuhan dalam hidup Naomi. Siapa yang menyangka bahwa setelah semua hal menyakitkan yang ia alami, Tuhan bukan hanya memulihkan hidupnya tapi juga menjamah hidup Rut, bahkan memberikan masa depan yang baru bagi mereka berdua. Melalui Rut, Naomi yang seharusnya hidup sendirian tanpa keturunan, akhirnya dapat menimang cucu, Obed. Seperti kita tahu, Obed adalah kakek raja Daud. Sebuah anugerah yang tak terbayangkan!

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28)

Sebab itu bila saat ini keadaan sedang terasa tidak baik dan penderitaan menekan, jangan kehilangan pengharapan sebab Bapa pasti turut bekerja di dalamnya. Namun bila kita tahu pasti bahwa kita masih menyimpan dosa, maka lebih baik segera membereskannya di hadapan Tuhan. Kasih karunia Tuhan sanggup menyucikan dan memulihkan. Tuhan adalah ahlinya untuk mengubah hidup yang hancur menjadi karya baru yang mulia.

TUHAN BESERTA KITA

Kita bisa berkata bahwa pemeliharaan Tuhan dalam hidup Naomi sangat luar biasa sebab Alkitab memberitahu kita akhir kisahnya. Namun dalam hidup sehari-hari, seringkali kita berada dalam lembah kekelaman tanpa tahu kapan dan bagaimana akan berakhir. Dalam keadaan seperti itu, penghiburan kita adalah bahwa Gembala yang baik tak pernah meninggalkan kita. Kasih-Nya selalu menjagai kita walau ada saatnya kita tak dapat merasakan-Nya. Ia selalu berjalan bersama kita walau kadang kita tak dapat melihat-Nya.

“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” (Mazmur 23:4)

Bila Tuhan bersama kita di dalam lembah kekelaman, maka segala sesuatu pasti berada di dalam kendali-Nya.

Saudara terkasih, PENDERITAAN DI DUNIA HANYA SEMENTARA, TETAPI KASIH SETIA TUHAN KEKAL SELAMANYA. Bila kita tetap setia maka kita akan memperoleh upahnya: “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” (Roma 8:18)

Sebab itu bila Tuhan mengijinkan penderitaan terjadi… Jangan tawar hati sebab “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.” (Amsal 24:10). Jangan menjadi lemah sebab “Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?” (Amsal 18:14).

Semua kekuatan itu hanya dapat kita peroleh di dalam persekutuan dengan Roh Kudus yang akan menerangi hati kita dengan firman-Nya, sehingga kita dapat mengerti kehendak Tuhan. Sebab itu marilah semakin berpegang pada firman Tuhan ketika kita berada dalam kesesakan. “Aku ditimpa kesesakan dan kesusahan, tetapi perintah-perintah-Mu menjadi kesukaanku. Peringatan-peringatan-Mu adil untuk selama-lamanya, buatlah aku mengerti, supaya aku hidup.” (Mazmur 119:143-144)

Jangan marah dan kecewa dengan Tuhan sebab sesungguhnya kasih-Nya tak pernah meninggalkan kita. Rasul Paulus yang telah mengalami sangat banyak penderitaan dalam pelayanannya berkata: “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” (Roma 12:12)

Sebab itu marilah kita tetap bersukacita meski kita sedang berada di tengah penderitaan. Sukacita di tengah penderitaan bukanlah sukacita yang berlandaskan perasaan, tapi berlandaskan iman dan percaya pada setiap janji Tuhan dan bahwa Tuhan pasti menggenapi semua janji-Nya, sehingga di tengah penderitaan kita bisa berkata: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13)

 

A M I N

 

Posted in English: GOD’S LOVE IN THE SUFFERING (click here)

By: Sella Irene – Beautiful Words

Sumber lain: Sinclair B. Ferguson, “A Heart For God”,  by The Banner of Truth Trust, Scotland, 1987 (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Hendry Ongkowidjojo, “Hati yang Dipersembahkan Kepada Allah”, bab 9, halaman 117-132, Momentum Christian Literature, Surabaya 2010, cetakan ke-3)

Photo Credit: Google Images  (edited with pixlr app)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

translate this blog

Follow Beautiful Words on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,424 other followers

Archives

%d bloggers like this: