Beautiful Words

Beautiful words stir my heart. I will recite a lovely poem about the king, for my tongue is like the pen of a skillful poet.

MARAH !!!


Posted in English: HOLDING THE ANGER (click here)

By: Sella Irene – Beautiful Words

Marah merupakan salah satu bentuk ekspresi emosi manusia. Semua orang bisa merasa marah, termasuk anak kecil yang belum mampu mengungkapkan perasaannya melalui kata-kata. Banyak hal dapat memicu kemarahan kita, mulai dari hal besar sampai masalah sepele. Marah terhadap keadaan, orang lain, diri sendiri, bahkan terhadap Tuhan. Orang juga bisa merasa marah meski tak tahu pada siapa atau apa. Bahkan, orang juga bisa memendam gejolak kemarahan di dalam hatinya meski dari luar nampak baik-baik saja. Dan dalam situasi tertentu, orang pun bisa marah tanpa alasan yang jelas lalu menumpahkan kemarahannya pada orang lain hanya karena sedang bad mood. Sebagai orang Kristen, salahkah bila timbul kemarahan dalam hati kita? Jawabannya tergantung pada apa penyebab kemarahan itu dan bagaimana cara kita mengatasinya.

KEMARAHAN YANG MEMBUNUH

Kemarahan memiliki potensi yang membahayakan bila tidak segera dibereskan. Orang yang dikuasai oleh kemarahan akan cenderung meluapkan emosinya dengan cara yang salah dan berlebihan, bahkan bisa berakibat fatal. Alkitab menulis banyak kisah tentang dampak buruk kemarahan, diantaranya adalah Kain dan Haman.

Setelah beberapa waktu lamanya, maka Kain mempersembahkan sebagian dari hasil tanah itu kepada Tuhan…….; Habel juga mempersembahkan korban persembahan…….; maka Tuhan mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu HATI KAIN MENJADI SANGAT PANAS, dan mukanya muram. Firman Tuhan kepada Kain: “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, DOSA SUDAH MENGINTIP DI DEPAN PINTU; ia sangat menggoda engkau, tetapi ENGKAU HARUS BERKUASA ATASNYA.” (Kejadian 4:3-7)

Pada detik Kain marah, Tuhan tidak berkata bahwa pada saat itu Kain telah berbuat dosa, tetapi Tuhan memperingatkan bahwa DOSA SUDAH MENGINTIP DI DEPAN PINTU dan Kain HARUS BERKUASA ATASNYA. Sayangnya Kain tidak menaati Tuhan. Ia membiarkan kemarahan memanipulasi dan mengendalikan dirinya. Kemudian terjadilah peristiwa pembunuhan pertama dalam sejarah umat manusia: Kakak membunuh adiknya! Semua itu diawali oleh kemarahan!

APABILA KAMU MENJADI MARAH, JANGANLAH KAMU BERBUAT DOSA: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan JANGANLAH BERI KESEMPATAN KEPADA IBLIS. (Efesus 4:26-27)

Janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarah kita: Perasaan marah yang “sesaat timbul di dalam hati” bila tidak segera dibereskan sama dengan membuka kesempatan bagi Iblis untuk membawa kita jatuh dalam berbagai dosa: caci maki, fitnah, kebencian, dendam, kepahitan, pembunuhan, dan tindakan-tindakan jahat lainnya. Bila dalam amarahnya Kain membunuh satu orang, Haman merancang pembantaian satu bangsa hanya karena ia marah terhadap satu orang!

Dan semua pegawai raja yang di pintu gerbang istana raja berlutut dan sujud kepada Haman, sebab demikianlah diperintahkan raja tentang dia, tetapi Mordekhai tidak berlutut dan tidak sujud…… Ketika Haman melihat, bahwa Mordekhai tidak berlutut dan sujud kepadanya, maka sangat panaslah hati Haman, tetapi ia menganggap dirinya terlalu hina untuk membunuh hanya Mordekhai saja,……. Jadi Haman mencari ikhtiar memunahkan semua orang Yahudi, yakni bangsa Mordekhai itu, di seluruh kerajaan Ahasyweros. (Ester 3:2-6)

Selanjutnya kita tahu bahwa Tuhan menggagalkan rancangan jahat Haman, bahkan akhirnya hal itu berbalik menghancurkan dirinya sendiri!!

Kemarahan yang tidak diatasi dapat menjadi jerat bagi diri sendiri. Mungkin kita tidak membunuh orang lain secara fisik, tapi kemarahan bisa membunuh jiwa dan kerohanian kita sendiri, dan juga menghancurkan hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Melampiaskan kemarahan dengan membabi buta tidak akan menyelesaikan masalah, justru membuat situasi dan komunikasi semakin memburuk.

Masih banyak contoh dalam Alkitab tentang kehancuran dan kematian akibat kemarahan. Sebab itu Tuhan berkata agar kita sesegera mungkin berhenti marah sebelum kemarahan itu menyeret kita ke dalam kejahatan.

Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan MARAH, itu hanya MEMBAWA KEPADA KEJAHATAN. (Mazmur 37:8)

Lalu sampai batasan mana kita diperkenankan untuk marah? Jawabannya kembali pada apa motivasi kemarahan kita, dan apakah kemarahan kita membawa pada kehancuran ataukah menghasilkan kebaikan dan pemulihan.

KEMARAHAN YANG BENAR

Marah yang benar adalah jika marah untuk alasan yang benar disertai perkataan dan tindakan yang benar, sebagaimana yang Tuhan Yesus lakukan: Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” (Yohanes 2:13-16)

Tuhan Yesus marah untuk alasan yang benar, yaitu tidak berkompromi dengan dosa. Tuhan Yesus segera bertindak tegas dengan menyingkirkan apa yang salah. Tetapi perhatikanlah bahwa Tuhan Yesus tidak meluapkan kemarahannya dengan membabi-buta dan mengutuki mereka. Sebaliknya, Dia memberitahukan pada mereka apa kesalahan mereka, serta mengajarkan apa yang benar agar mereka tidak terus tinggal dalam kesalahan dan dosa mereka.

Lalu IA MENGAJAR MEREKA, kata-Nya: “Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mendengar tentang peristiwa itu, dan mereka berusaha untuk membinasakan Dia, sebab mereka takut kepada-Nya, melihat seluruh orang banyak takjub akan pengajaran-Nya. (Markus 11:17-18)

Marah yang benar harus disertai dengan tuntunan dan tindakan yang benar. Tentu saja semua itu harus dilakukan di dalam kasih dan selaras dengan wewenang yang kita miliki. Komunikasi yang bijaksana sangat diperlukan agar tidak menimbulkan salah pengertian, meski resiko itu masih tetap bisa terjadi. Seperti ketika Tuhan Yesus marah dan menyatakan apa kesalahan mereka, sebagian dari mereka tidak menyukainya. Tetapi di sisi lain, banyak orang yang takjub mendengar pengajaran-Nya. Orang-orang yang takjub mendengar pengajaran Tuhan Yesus pasti mengalami perubahan dalam paradigma dan kehidupannya, asalkan mereka tidak mengeraskan hati.

Marah yang didasari oleh motivasi yang benar, disampaikan dengan cara dan waktu yang tepat, disertai tuntunan dan tindakan yang benar di dalam kasih, cepat atau lambat pasti akan membangun dan menjadi berkat. Sebaliknya, kita justru bersalah di hadapan Tuhan bila kita tidak marah pada momen di mana seharusnya kita marah, seperti Imam Eli yang mengetahui bahwa anak-anaknya hidup dalam dosa tetapi ia membiarkannya.

Sebab telah Kuberitahukan kepadanya, bahwa Aku akan menghukum keluarganya untuk selamanya KARENA DOSA YANG TELAH DIKETAHUINYA, yakni bahwa anak-anaknya telah menghujat Allah, TETAPI IA TIDAK MEMARAHI MEREKA! (1 Samuel 3:13)

Ada momen di mana kita harus marah, yaitu ketika kita melihat ketidakbenaran, kemunafikan, ketidakadilan, dan berbagai bentuk perbuatan dosa lainnya. Tetapi sekali lagi, kemarahan itu tetap harus dikendalikan dan disampaikan dengan kasih, sebab motivasi yang benar tetap harus diekspresikan dengan cara yang benar.

JANGAN MUDAH MARAH

Marah memang merupakan reaksi psikologis yang normal dan tidak serta merta membuat kita berdosa pada detik kita merasa marah, tetapi hal itu juga bukan berarti bahwa kita bebas untuk marah. Marah tidak sama dengan mudah marah. Setiap orang memiliki berbagai alasan untuk marah bila selalu menuruti ego dan perasaan. Bila hal itu tidak dikendalikan maka lama-lama akan membentuk pola kepribadian dan karakter kita menjadi pemarah. Tentu saja Tuhan tidak berkenan akan hal itu.

Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga LAMBAT UNTUK MARAH; (Yakobus 1:19)

Tuhan bukan hanya meminta kita lambat untuk marah, tetapi juga mengajar kita untuk tidak bergaul dengan seorang pemarah:

Jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, JANGAN BERGAUL DENGAN SEORANG PEMARAH, supaya engkau jangan menjadi biasa dengan tingkah lakunya dan memasang jerat bagi dirimu sendiri. (Amsal 22:24-25)

Ini menunjukkan betapa kemarahan sangat tidak baik dan berbahaya bagi hidup kita. Mengapa? “Sebab AMARAH MANUSIA tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.” (Yakobus 1:20)

Amarah manusia adalah segala amarah yang hanya bersumber dari perasaan dan ego manusia. Misalnya: tersinggung, merasa diremehkan, disakiti, dikecewakan, ketidakpuasan, kenyamanan yang terusik, merasa terancam, serta segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak hati. Amarah manusia hanya berpusat pada diri sendiri: apa yang menggangguku, apa yang tidak kusukai, apa yang kuinginkan, apa yang tidak mau kulakukan, apa yang menurutku baik, dan segala sesuatu yang berpusat pada aku. Tolak ukurnya selalu “aku”, yang dipentingkan hanya “aku”, tanpa peduli pada orang lain. Kain dan Haman adalah contohnya. Kain marah karena iri hati pada adiknya dan merasa ditolak oleh Tuhan. Haman marah karena merasa diremehkan dan tidak dihargai. Alkitab menceritakan dengan jelas bagaimana akibat kemarahan yang seperti itu. Kemarahan seperti itu tidak akan mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.

DIAM DAN RENUNGKAN

Sebagai manusia yang masih hidup dalam darah dan daging, kita belum bisa lepas sepenuhnya dari egosentris sebab kita semua masih berproses menuju kesempurnaan. Lalu bagaimana bila hati kita dilanda amarah?? Pemazmur menasihati kita:

Biarlah kamu MARAH, TETAPI JANGAN BERBUAT DOSA; BERKATA-KATALAH DALAM HATIMU di tempat tidurmu, TETAPI TETAPLAH DIAM. Sela (Mazmur 4:4)

Bila hati kita sedang marah, jangan terburu-buru melampiaskannya! DIAM sejenak dan RENUNGKAN dalam-dalam: mengapa kita marah, perlukah kita marah, apa sesungguhnya motivasi kemarahan kita, pada apa atau siapa kita marah, benar atau salah, dan sebagainya. Ketika amarah kita mereda dan hati kita mulai tenang, maka kita akan bisa melihat situasi dan persoalan dengan lebih jernih sehingga kita bisa mengungkapkan isi hati kita dengan bijak dan mengambil langkah yang tepat.

Jika kita marah untuk alasan yang benar, maka Roh Kudus akan mengurapi dan menuntun kita melakukan apa yang harus kita lakukan dalam kasih dan sesuai kehendak-Nya. Jika ternyata kita marah karena alasan yang salah, jalan terbaik adalah segera membereskan hati kita serta belajar meletakkan ego dan kedagingan kita dibawah kehendak Allah. Lalu bagaimana bila kemarahan itu telah membawa kita jatuh dalam dosa?? Pintu pengampunan Bapa selalu terbuka bagi setiap orang yang mengaku dosa: Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. (1 Yohanes 1:9)

HIDUP OLEH ROH

Kita tidak bisa menjadi pribadi yang lemah lembut, sabar, penuh kasih, dan tidak pemarah hanya dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri. Semua itu memerlukan PERUBAHAN DARI DALAM. Ada ego yang harus dikikis, kedagingan yang harus ditundukkan kepada kehendak Kristus, karakter yang harus diproses, dan hati yang dibentuk oleh Tuhan. Kita memang bisa mengendalikan kemarahan dengan pengertian dan kekuatan kita sendiri, tetapi hanya Tuhan yang mampu mengerjakan hal-hal ilahi dengan buah yang kekal. Kuncinya adalah hidup dalam persekutuan bersama Roh Kudus.

Maksudku ialah: HIDUPLAH OLEH ROH, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging — karena keduanya bertentangan — sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. (Galatia 5:16-17)

Jika kita selalu hidup dalam persekutuan dengan Roh Kudus dan taat kepada-Nya, maka hidup kita akan menghasilkan buah-buah roh. Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. (Galatia 5:22-23)

Bila dalam diri kita ada kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri, maka kita pun tidak akan menjadi orang yang gampang marah. Dan bila kita marah, maka buah roh penguasaan diri bekerja sehingga kemarahan kita tidak akan membawa kepada kejahatan dan tidak menjerumuskan kita ke dalam dosa. Mari bergantung dan taat pada Roh Kudus supaya kita semakin dewasa dalam roh dan karakter sehingga kita menjadi orang bijaksana yang bukan hanya dapat mengontrol emosi kita, tetapi juga meredakan kemarahan orang lain.

Orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang bijak akhirnya meredakannya. (Amsal 29:11)

A M I N

 

Posted in English: HOLDING THE ANGER (click here)

By: Sella Irene – Beautiful Words

Photo Credit: Google Images  (edited with pixlr app)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

translate this blog

Follow Beautiful Words on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 497 other followers

Archives

%d bloggers like this: