Beautiful Words

Beautiful words stir my heart. I will recite a lovely poem about the king, for my tongue is like the pen of a skillful poet.

PEMBUAT PERUBAHAN


Posted in English: THE CHANGE-MAKER (click here)

By: Sella Irene – Beautiful Words

Tuhan memiliki proyek penyelamatan besar-besaran atas seluruh bumi. Dari jaman ke jaman, Tuhan selalu memanggil dan memilih orang-orang untuk menjadi duta Kerajaan-Nya. Orang-orang yang mau dan dapat dipercaya untuk melaksanakan mandat suci dari Sorga, yang bahkan berkuasa untuk menyelamatkan satu bangsa. Bukan dengan cara bekerja sendirian, tetapi saling bekerja sama sampai “tongkat estafet” diterima dan dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Bila Anda dan saya berada di dalamnya, apakah yang akan kita lakukan untuk generasi kita? Dan warisan rohani apakah yang akan kita tinggalkan bagi generasi yang akan datang?

Musa, Samuel, dan Manasye, adalah tiga tokoh dari generasi berbeda yang BERADA PADA POSISI STRATEGIS UNTUK MEMBUAT PERUBAHAN bagi bangsa dalam jaman mereka. Namun ada sebuah momen dalam perjalanan kerajaan Yehuda, di mana Tuhan menyebut nama mereka bertiga dalam sebuah pernyataan: “Sekalipun MUSA dan SAMUEL berdiri di hadapan-Ku, hati-Ku tidak akan berbalik kepada bangsa ini. Usirlah mereka dari hadapan-Ku,….Aku akan mendatangkan atas mereka empat hukuman,….oleh karena segala apa yang dilakukan MANASYE bin Hizkia, raja Yehuda, di Yerusalem.” (Yeremia 15:1-4)

Apakah yang telah dilakukan oleh Manasye yang membuat Tuhan sangat marah sehingga berkata bahwa Musa dan Samuel pun takkan dapat meluluhkan hati-Nya??

MELUPAKAN DAN MEMBUAT LUPA

Arti nama Manasye adalah “orang yang melupakan” atau “orang yang membuat lupa”. Setidaknya ada dua tokoh bernama Manasye dalam Perjanjian Lama. Manasye pertama adalah anak sulung Yusuf yang lahir di Mesir. Manasye ke dua adalah raja Yehuda ke-14 (696-642 SM), putera Hizkia.

Manasye pertama menjadi penghiburan bagi ayahnya: Yusuf memberi nama Manasye kepada anak sulungnya itu, sebab katanya: “Allah telah membuat aku lupa sama sekali kepada kesukaranku dan kepada rumah bapaku.” (Kejadian 41:51).

Manasye ke dua, yaitu raja Yehuda, membuat rakyat yang dipimpinnya melupakan Tuhan. Dia menjungkirbalikkan seluruh reformasi kerohanian dan pertobatan yang telah dilakukan oleh Hizkia, ayahnya: “Ia mendirikan kembali bukit-bukit pengorbanan yang telah dimusnahkan oleh Hizkia, ayahnya…” (2 Raja-raja 21:3).

Dalam 2Raja 21:1-18 dan 2Taw 33:1-20 tertulis riwayat Manasye serta segala dosa yang diperbuatnya selama 55 tahun masa pemerintahannya. Dia membangun mezbah-mezbah untuk Baal dan mendirikan patung Asyera. Ia sujud menyembah kepada segenap tentara langit dan mendirikan mezbah bagi mereka di pelataran Bait Suci. Ia melakukan berbagai bentuk okultisme, bahkan membakar anak-anaknya sendiri sebagai korban dalam api di BenHinom.

“…..IA MELAKUKAN BANYAK YANG JAHAT di mata Tuhan, sehingga ia MENIMBULKAN SAKIT HATI-NYA….dan MANASYE MENYESATKAN MEREKA, sehingga mereka melakukan yang jahat lebih dari pada bangsa-bangsa yang telah dipunahkan Tuhan dari hadapan orang Israel……Oleh karena Manasye, raja Yehuda,…..BERBUAT JAHAT LEBIH DARI PADA SEGALA YANG TELAH DILAKUKAN OLEH ORANG AMORI YANG MENDAHULUI DIA,…..belum termasuk dosa-dosanya yang MENGAKIBATKAN ORANG YEHUDA BERDOSA PULA dengan berbuat apa yang jahat di mata Tuhan.”  (2 Raja-raja 21:6-16)

Dengan kekuasaan dan pengaruh yang dimilikinya, Manasye membuat rakyatnya melupakan Tuhan dan memimpin mereka ke dalam kemurtadan yang parah! Begitu parahnya, sehingga dosa dan dampaknya turun-temurun sampai beberapa generasi!

Pada akhirnya Manasye memang bertobat. Ia bahkan menyerukan rakyatnya untuk kembali menyembah Tuhan: “Dalam keadaan yang terdesak ini, ia berusaha melunakkan hati Tuhan,….merendahkan diri di hadapan Allah….., dan berdoa kepada-Nya. Maka Tuhan mengabulkan doanya, dan mendengarkan permohonannya… Dan Manasye mengakui, bahwa Tuhan itu Allah. Ia menjauhkan allah-allah asing dan berhala dari rumah Tuhan… Ia menegakkan kembali mezbah Tuhan….. menyerukan kepada Yehuda untuk beribadah kepada Tuhan, Allah Israel.” (2 Tawarikh 33:12-17) Namun karena dosa telah menguasai semua area hidup bangsa Yehuda, maka pertobatan dan seruan Manasye tidak cukup untuk mengembalikan hati mereka kepada Tuhan.

Mari kita kembali sejenak ke Yeremia 15:1-4 “Sekalipun MUSA dan SAMUEL berdiri di hadapan-Ku, hati-Ku tidak akan berbalik kepada bangsa ini……oleh karena segala apa yang dilakukan MANASYE bin Hizkia, raja Yehuda, di Yerusalem.” Sesungguhnya, firman itu disampaikan oleh Tuhan kepada nabi Yeremia bukan pada masa Manasye masih hidup, tetapi beberapa keturunan setelah kematiannya. Perhatikanlah, bahwa meski Manasye telah tiada namun dosa yang dilakukannya masih berdampak dalam hidup rakyat yang dipimpinnya! Lalu bagaimana dengan Musa dan Samuel?

BERDOA BAGI BANGSA

“Musa dan Harun di antara imam-imam-Nya, dan Samuel di antara orang-orang yang menyerukan nama-Nya. Mereka berseru kepada Tuhan dan Ia menjawab mereka.” (Mazmur 99:6)

Musa dan Samuel adalah dua juru syafaat besar yang pada masa lampau selalu berdoa kepada Tuhan demi keselamatan bangsa Israel. Dalam Keluaran 32:11,32 Musa memohon pengampunan bagi bangsa Israel ketika Tuhan hendak menghukum mereka karena membuat patung anak lembu: Lalu MUSA MENCOBA MELUNAKKAN HATI TUHAN,….kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu — dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis.”

Tuhan pun mengabulkan doanya: Ampunilah kiranya kesalahan bangsa ini sesuai dengan kebesaran kasih setia-Mu,….. Berfirmanlah Tuhan: “AKU MENGAMPUNINYA SESUAI DENGAN PERMINTAANMU.” (Bilangan 14:19-20)

Demikian pula dengan Samuel. Ketika Israel sangat tertekan karena penjajahan Filistin, mereka meminta agar Samuel berdoa: “Janganlah berhenti berseru bagi kami kepada Tuhan, …..” Sesudah itu Samuel mengambil seekor anak domba yang menyusu, lalu mempersembahkan seluruhnya kepada Tuhan sebagai korban bakaran. Dan KETIKA SAMUEL BERSERU KEPADA TUHAN BAGI ORANG ISRAEL, MAKA TUHAN MENJAWAB DIA. (1 Samuel 7:8-9)

Dalam beberapa peristiwa ketika Tuhan sangat marah dan hendak menghukum Israel, beberapa kali pula Musa dan Samuel dapat melunakkan hati Tuhan. Jadi, bayangkan betapa besar dosa dan kejahatan raja Manasye sehingga Tuhan berkata bahwa Musa dan Samuel pun takkan bisa mengubah keputusan-Nya untuk menghukum Yehuda.

KESELAMATAN ATAU KEHANCURAN

Musa, Samuel, dan Manasye, adalah orang-orang yang berada pada posisi strategis untuk membuat perubahan bagi bangsa mereka. Musa memimpin Israel keluar dari Mesir ke tanah Kanaan. Samuel adalah hakim terakhir sebelum Israel memasuki era raja-raja. Samuel pula yang mengurapi Saul dan Daud untuk menjadi raja. Selama menjadi imam, Samuel berkomitmen untuk membawa Israel hidup dalam kebenaran: “Mengenai aku, jauhlah dari padaku untuk berdosa kepada Tuhan dengan berhenti mendoakan kamu; aku akan mengajarkan kepadamu jalan yang baik dan lurus.” (1 Samuel 12:23).

Berkebalikan dengan Musa dan Samuel yang berdoa dan membawa keselamatan bagi bangsanya, Manasye justru membawa rakyatnya pada kehancuran. Lalu bagaimanakah peranan kita saat ini, apakah kehidupan kita membuat orang lain berubah ke arah yang benar ataukah sebaliknya?!

PILIHAN YANG MENGUBAHKAN DUNIA

Menjadi seperti Musa dan Samuel, atau seperti raja Manasye, semua tergantung pilihan hidup kita. Saya percaya bahwa tak seorangpun di antara kita yang dengan sengaja memilih menjadi seperti Manasye.  Tetapi bisa saja kita membuat kesalahan tanpa kita sadari. Untuk itu kita harus benar-benar berhati-hati dalam segala hal agar tidak menjadi batu sandungan atau menyebabkan seseorang jatuh dalam dosa. Kita harus bijaksana, terutama bila kita berada dalam sebuah posisi yang memiliki wewenang untuk menetapkan keputusan, di mana keputusan itu akan berpengaruh bagi hidup banyak orang. Ingatlah bahwa semakin tinggi posisi kita, maka semakin besar dan luas dampak yang akan kita hasilkan.

Bila kita memilih menjadi seorang pembuat perubahan yang membawa orang lain pada keselamatan, maka kita harus kembali kepada inti kehidupan kekristenan yaitu persekutuan yang intim dengan Tuhan, sebagaimana gaya hidup Musa dan Samuel.

Musa sangat dekat dengan Tuhan seperti seorang sahabat: “Dan Tuhan berbicara kepada Musa dengan BERHADAPAN MUKA SEPERTI SEORANG BERBICARA KEPADA TEMANNYA;” (Keluaran 33:11a)

Samuel mengenal Tuhan sehingga ia bertindak sesuai hati dan pikiran Tuhan: “Dan Aku akan mengangkat bagi-Ku seorang IMAM KEPERCAYAAN, yang BERLAKU SESUAI DENGAN HATI-KU DAN JIWA-KU,  dan Aku akan membangunkan baginya keturunan yang teguh setia, sehingga ia selalu hidup di hadapan orang yang Kuurapi.” (1Samuel 2:35)

Semakin kita intim dengan Tuhan, maka kita akan semakin mengenal Dia dan diubah menjadi semakin serupa dengan Dia. Cara kita memandang dunia, kasih terhadap sesama, visi dan misi kita, semua akan semakin selaras dengan hati-Nya. Bila kita selalu tinggal di dalam Dia, maka hidup kita akan berbuah bagi kemuliaan-Nya. Kuasa-Nya yang bekerja di dalam kita akan membuat kita menjadi alat-Nya yang efektif untuk menyelamatkan jiwa-jiwa dan mengubahkan dunia.

Menjadi seorang pembuat perubahan yang mengubahkan dunia! Apakah terdengar terlalu muluk? Tidak, sebab bukan dengan kekuatan kita sendiri melainkan oleh kuasa Roh Kudus yang bekerja di dalam kita. Apakah hanya orang tertentu yang bisa dipakai Tuhan? Tidak, sebab Tuhan bisa memakai siapa saja yang berserah dan taat kepada-Nya!

Dalam lingkup besar maupun kecil, Tuhan mempercayakan pada kita sebuah misi, yaitu menyelamatkan jiwa-jiwa. Satu bangsa, satu kota, satu keluarga, atau satu orang, semua berharga di hati Tuhan. Perubahan hidup satu orang sangatlah berarti karena pasti akan berdampak pada kehidupan orang lain. Ibu rumah tangga, karyawan, pengusaha, mahasiswa, pelajar, buruh, artis, dan sebagainya, memiliki tanggung jawab sebagai pembuat perubahan sesuai dengan porsi dan posisi kita masing-masing. Sekecil apapun langkah kita di dalam kehendak Tuhan, pasti akan berdampak bagi “dunia” di sekitar kita.

Kita merupakan bagian dari “timnya” Tuhan yang beranggotakan orang-orang percaya dari sepanjang jaman. Orang-orang yang melakukan kehendak Tuhan dan mengerjakan bagian mereka dalam ketaatan dan kesetiaan sampai akhir hidup mereka. Dari waktu ke waktu, generasi demi generasi, akan saling melengkapi sampai seluruh rencana Allah digenapi.

Marilah kita selalu tinggal dalam kasih Tuhan dan memilih untuk hidup benar, serta dengan sengaja mengarahkan hidup kita kepada kehendak-Nya agar kita bisa dipakai-Nya untuk mengubahkan dunia. Tak ada yang mustahil bagi Dia. Kita hanya harus terus tinggal dalam keintiman dengan Dia, percaya, dan memberikan diri kepada-Nya.

Amin.

 

Oleh:

Sella Irene – Beautiful Words

Posted in English: THE CHANGE-MAKER (click here)

Photo Credit: Google Images (the text edited with pixlr app)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

translate this blog

Follow Beautiful Words on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 497 other followers

Archives

%d bloggers like this: