Beautiful Words

Beautiful words stir my heart. I will recite a lovely poem about the king, for my tongue is like the pen of a skillful poet.

PERCAYA HATI-NYA


Posted in English: TRUST GOD’S HEART (click here)

By: Sella Irene – Beautiful Words

Sebagai orang percaya, doa ibarat pintu masuk menuju jalan yang penuh pengharapan, bahwa di sepanjang jalan itu kita dapat memperoleh jawaban atas semua pergumulan. Di dalam setiap harapan yang kita labuhkan pada Tuhan, hal yang paling membahagiakan adalah jika Tuhan mengabulkan doa kita. Namun kenyataannya kita tak selalu memperoleh apa yang kita inginkan, meski kita memohonnya dengan mencucurkan air mata!!!

Banyak anak Tuhan yang berdoa bertahun-tahun memohon mujizat, namun kemudian diperhadapkan pada kenyataan yang berkebalikan dari harapan. Sementara di saat yang sama, ada anak-anak Tuhan dengan masalah serupa sedang bersukacita karena menerima pertolongan ajaib dari tangan Tuhan. Bila kita berada pada posisi seperti itu, bisakah kita tetap mempercayai Tuhan? Bisakah kita tetap percaya bahwa Tuhan itu baik sementara situasi kita nampak memburuk?? Apa yang salah? Apakah kita kurang beriman sehingga gagal memperoleh apa yang kita “imani”? Apakah kita masih menyimpan dosa sehingga jawaban doa kita terhalang? Sebelum mengambil kesimpulan, mari kita belajar dari beberapa kisah yang tertulis dalam Alkitab.

SEANDAINYA TIDAK

Hananya, Misael, dan Azarya, adalah keturunan bangsawan dari suku Yehuda yang dibawa ke Babel ketika raja Nebukadnezar menaklukkan Yerusalem. Di Babel, mereka adalah bagian dari orang Israel pilihan yang dididik selama tiga tahun untuk kemudian bekerja pada raja. Meski mendapat fasilitas istimewa dari istana, tak sekalipun mereka menajiskan dirinya. Mereka berkomitmen untuk selalu beribadah pada Allah Israel. Tuhan memberi mereka pengetahuan, kepandaian, dan hikmat, yang membuat mereka sepuluh kali lebih cerdas dari semua orang berilmu di Babel. Maka raja mengangkat mereka untuk duduk dalam pemerintahan, hingga tiba saatnya iman dan kesetiaan mereka pada Tuhan harus diuji.

Raja Nebukadnezar membuat sebuah patung emas. Siapapun yang tidak sujud menyembah pada patung itu akan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Ketika raja murka karena mereka bertiga tidak mau sujud menyembah, maka Hananya, Misael, dan Azarya, yang di Babel dipanggil dengan nama Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, dengan tegas menjawab raja:

“Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi SEANDAINYA TIDAK, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (Daniel 3:16-18)

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yakin bahwa Tuhan sanggup menolong mereka. Tetapi mereka juga berkata, “SEANDAINYA TIDAK…”. “Seandainya tidak” yang dimaksud bukanlah “seandainya Tuhan tidak sanggup” tetapi “seandainya Tuhan tidak menolong”. Apapun yang terjadi mereka akan tetap akan memuja Tuhan dan tidak akan sujud menyembah pada patung itu. Pernyataan tersebut taruhannya bukan sekedar kehilangan nama baik, kedudukan, dan kekayaan, tetapi nyawa! Itu bukan keyakinan yang dibuat-buat. Iman mereka murni, tanpa kepalsuan.

Hasilnya adalah… Perapian yang dibuat tujuh kali lebih panas dari biasanya itu justru membakar mati orang-orang yang mengangkat mereka, sementara mereka bertiga berjalan-jalan bersama malaikat Tuhan di dalam perapian tanpa sedikitpun terbakar. Bau kebakaran pun tak tercium pada diri mereka, seakan masalah serius yang baru saja terjadi tidak benar-benar mereka alami. Sungguh sebuah iman yang teguh, yang diresponi oleh Tuhan dengan sebuah mujizat yang meloloskan mereka dari maut.

Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya. (Yakobus 5:16b)

Tuhan selalu meresponi iman. Hal-hal besar selalu lahir dari doa orang benar yang berlandaskan iman. Iman yang teguh takkan goyah meski “seandainya” Tuhan tidak menolong. Tetapi satu hal penting yang harus kita renungkan: Mungkinkah Tuhan tidak menolong anak-Nya?? Tidak mungkin! Tuhan PASTI menolong kita sebab Tuhan sangat mengasihi kita. Hanya saja cara-Nya yang tidak selalu sama seperti yang kita kehendaki.

SELAGI MASIH ADA KESEMPATAN

“Ia melakukan apa yang benar di mata Tuhan, tepat seperti yang dilakukan Daud, bapa leluhurnya.” (2 Raja-raja 18:3). Bila kita membaca kitab raja-raja dan Tawarikh, kita akan menemukan banyak kalimat serupa itu. Berkali-kali Tuhan menyebut nama Daud sebagai tolak ukur bagi raja-raja yang melakukan apa yang benar di mata-Nya. Bahkan dalam Perjanjian Baru Yesus disebut sebagai anak Daud: “Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.” (Matius 1:1). Lebih jauh lagi, “Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.” (Kisah Para Rasul 13:22). Semua pernyataan itu menunjukkan betapa Tuhan berkenan kepada Daud. Tetapi… apakah doa seorang yang berkenan di hati Tuhan akan selalu dikabulkan oleh Tuhan??

Suatu ketika anak Daud dengan Batsyeba sakit. Berhari-hari Daud berpuasa, berdoa dan menangis memohon belas kasihan Tuhan agar anaknya disembuhkan. Hasilnya adalah anaknya mati. Kecewakah Daud?

Lalu Daud bangun dari lantai, ia mandi dan berurap dan bertukar pakaian; ia masuk ke dalam rumah TUHAN dan sujud menyembah. Sesudah itu pulanglah ia ke rumahnya, dan atas permintaannya dihidangkan kepadanya roti, lalu ia makan. Berkatalah pegawai-pegawainya kepadanya: “Apakah artinya hal yang kauperbuat ini? Oleh karena anak yang masih hidup itu, engkau berpuasa dan menangis, tetapi sesudah anak itu mati, engkau bangun dan makan!” Jawabnya: “SELAGI ANAK ITU HIDUP, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku.” Kemudian Daud menghibur hati Batsyeba, isterinya” (2 Samuel 12:20-24a)

SELAGI MASIH ADA KESEMPATAN… yaitu selagi anaknya masih hidup, Daud tak kehilangan harapan. Ia berdoa, berpuasa, dan beriman agar anaknya sembuh dan tetap hidup. Namun ketika kenyataan berbeda dengan kemauannya, Daud tidak kecewa. Ia tetap menyembah Tuhan dan bahkan bisa menghibur istrinya. Dengan kualitas rohani yang luar biasa seperti itu, mengapa doanya tak dikabulkan Tuhan? Apakah saat itu Daud “kurang beriman” sehingga ia tak memperoleh apa yang dia doakan? Tentu tidak!

Iman tidak diukur dari “hasil iman”. Kita tidak meletakkan iman pada keyakinan bahwa sesuatu yang kita minta pasti kita peroleh, tetapi kita meletakkan iman kepada pribadi Tuhan Maha Kuasa yang sanggup melakukan segalanya, entah Tuhan akan melakukan apa yang kita minta ataupun tidak!!!

Jika kita meletakkan iman pada “hasil iman” atau jawaban doa, maka iman kita akan goyah bila Tuhan tidak mengabulkan apa yang kita doakan.

Iman sejati berarti percaya pada PRIBADI TUHAN dan bukan pada PERBUATAN TANGAN-NYA saja!

Bila Tuhan memilih untuk tidak melakukan apa yang kita minta, itu bukan berarti Tuhan tidak sanggup dan juga bukan berarti bahwa kita “kurang beriman”, tetapi karena di dalam kemahatahuan-Nya Tuhan mengetahui apa yang lebih baik bagi kita.

Teruslah berharap dan berdoa dalam iman selagi masih ada kesempatan. Jangan menyerah! Tetaplah percaya dan jangan menjadi kecewa apapun hasilnya. Selalu ada berkat tersembunyi di balik setiap masalah dan rencana Tuhan selalu lebih indah melampaui harapan kita.

YA, TIDAK, TUNGGU

Dua kisah di atas menggambarkan doa yang dilandasi iman yang teguh. Iman yang tidak goyah oleh apapun jawaban Tuhan. Bagaimana dengan kita? Kita tahu bahwa Tuhan selalu menjawab doa. Bila Tuhan menjawab “YA” berarti kita pasti memperoleh apa yang kita minta. Bila Tuhan menjawab “TIDAK”, artinya Tuhan tidak mengabulkan permohonan kita. Dan bila Tuhan belum menjawab, berarti kita harus MENUNGGU. Sampai kapan? Hanya Tuhan yang tahu. Kita harus sabar dan memelihara iman sebab dalam masa penantian segala kemungkinan bisa terjadi. Tetapi jangan kuatir. Walau masalah tetap ada dan nampaknya semakin rumit, sesungguhnya Tuhan selalu menjagai kita dan memegang kendali atas segalanya.

Lalu, bagaimana bila setelah menunggu ternyata jawabannya adalah “tidak”? Jika akhirnya Tuhan menjawab “tidak”, mengapa harus menunggu sekian lama?? Jawaban doa selalu terkait dengan rencana Allah. Kita hanya bisa mengukur dari hidup yang telah kita jalani dan dari planning yang menurut kita baik, tetapi Tuhan melihat keseluruhan hidup kita dari awal sampai akhir. Bila Tuhan mengijinkan sesuatu terjadi berarti Tuhan sedang mengerjakan rencana-Nya dalam hidup kita. Memang sulit bagi kita untuk mengerti. Yang kita perlukan hanyalah percaya. Percaya bahwa Tuhan itu baik, percaya bahwa Allah turut bekerja sama dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan buat kita seperti tertulis dalam Roma 8:28.

Waktu dan jawaban doa merupakan kedaulatan Tuhan. Kita tak bisa memaksa lebih cepat atau lebih lambat. Kita tak bisa mempertanyakan mengapa satu doa dijawab “ya”, doa lainnya di jawab “tidak”, dan doa lain “tunggu”. Apapun jawaban doa yang kita terima, itulah pemberian terbaik dari Tuhan bagi masa depan kita. Bila kita memang sungguh-sungguh beriman pada Tuhan, kita harus tunduk pada kehendak-Nya dan tidak memaksakan kemauan kita.

Dalam pergumulan Tuhan Yesus di taman Getsemani, Dia memberi teladan doa bagi kita semua: “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (Markus 14:36). Itulah doa yang berlandaskan iman yang sejati.

Iman sejati tidak hanya berhenti pada “Aku percaya bahwa tiada yang mustahil bagi Tuhan”, tetapi pada sebuah sikap tunduk dan berserah: “Jangan kehendakku, tapi kehendak-Mu”.

Iman sejati selalu TUNDUK PADA KEHENDAK TUHAN. Tuhan bukan “vending machine” yang sekali kita masukkan koin dan menekan tombolnya maka kita akan mendapat apa yang kita inginkan.

Kita tidak bisa “memaksa” Tuhan dengan apa yang kita anggap “iman” agar Tuhan bersedia menuruti kemauan kita. Justru dalam sikap tunduk dan berserah pada kehendak Tuhanlah tercermin kualitas iman kita yang sesungguhnya.

Saat ini, mari kita meminta Roh Kudus untuk menerangi hati kita. Jika memang kita masih menyimpan dosa, mari memohon ampun pada Tuhan. Mari kita membereskan hubungan kita dengan Bapa agar kita semakin mengenal Dia. Hati Bapa itu baik dan selalu ingin menolong anak-anak-Nya. Semua yang kita perlukan telah dijamin oleh Bapa. Dia mengetahui segala sesuatu lebih dari yang kita perlukan dan inginkan. Bila jawaban doa yang kita terima tak seperti yang kita minta, berarti Tuhan sedang mempersiapkan hal yang lebih indah, lebih mulia, dan bersifat kekal. Jangan mengukur kebaikan Bapa semata-mata dari perbuatan tangan-Nya. Jangan meragukan dan mempertanyakan jawaban-Nya. Tuhan terlalu bijaksana untuk berbuat salah, dan terlalu baik untuk berbuat jahat. Bila kita tak mengerti rencana-Nya, bila kita tak dapat melihat perbuatan tangan-Nya, percayai saja hati-Nya. Tuhan sangat mengasihi kita.

Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? (Roma 8:32)

Saya percaya lagu di bawah ini akan sangat memberkati kita semua:

God is too wise to be mistaken
God is too good to be unkind
So when you don’t understand
When don’t see His plan
When you can’t trace His hand
TRUST HIS HEART!

 

A M I N

By: Sella Irene – Beautiful Words

Posted in English: TRUST GOD’S HEART (click here)

Photo Credit: Google Images  (the text edited with pixlr app)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

translate this blog

Follow Beautiful Words on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 496 other followers

Archives

%d bloggers like this: