Beautiful Words

Beautiful words stir my heart. I will recite a lovely poem about the king, for my tongue is like the pen of a skillful poet.

“UZIA” HARUS MATI


“DALAM TAHUN MATINYA RAJA UZIA aku MELIHAT TUHAN duduk DI ATAS TAKHTA YANG TINGGI DAN MENJULANG, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci.” (Yesaya 6:1)

Tepat dalam tahun matinya raja Uzia (740-739SM), Yesaya melihat Tuhan. Tuhan menunjukkan eksistensi diri-Nya kepada Yesaya dengan sebuah pernyataan absolut bahwa Dia adalah RAJA DI ATAS SEGALA RAJA dan RAJA ATAS SEGALANYA! Sebuah penglihatan yang kemudian membawa Yesaya pada pengutusan khusus untuk menjadi suara Tuhan bagi bangsanya. Sejak itu, Yesaya berjalan dalam panggilannya sebagai nabi secara lebih spesifik.

Siapakah raja Uzia? Mengapa nabi Yesaya mencatat kematian Uzia secara khusus sebagai sebuah PENANDA WAKTU, yaitu: “Dalam TAHUN MATINYA RAJA UZIA aku melihat Tuhan duduk di atas takhta…..” ?? Mengapa tahun kematian Uzia sangat penting?

Uzia adalah raja Yehuda yang ke-10. Ia memerintah selama 52 tahun. Riwayatnya tercatat dalam 2 Tawarikh 26:1-23 dan 2 Raja-raja 15:1-7. Ia diangkat menjadi raja pada usia 16 tahun, masih muda dan belum berpengalaman. Di bawah bimbingan Zakharia, ia menjalankan pemerintahan dengan bergantung pada Tuhan. Itulah sepenggal masa dalam hidup Uzia di mana ia mencari Tuhan dengan sepenuh hati. Dan selama itu pula Tuhan membuat segala usahanya berhasil. Alkitab mencatat: Ia mencari Allah selama hidup Zakharia, yang mengajarnya supaya takut akan Allah. Dan selama ia mencari Tuhan, ALLAH MEMBUAT SEGALA USAHANYA BERHASIL.” (2 Tawarikh 26:5)

Uzia berhasil terutama dalam bidang peternakan, pertanian dan pertahanan. Ia berhasil membangun militer yang kuat. Di bawah kepemimpinan Uzia, Yerusalem sanggup memproduksi peralatan perang yang canggih pada masa itu, sehingga kerajaan Yehuda sangat termasyur dan disegani: “Nama raja itu termasyhur sampai ke negeri-negeri yang jauh, karena ia DITOLONG DENGAN AJAIB sehingga menjadi kuat.” (2 Tawarikh 26:15b)

Perjalanan hidup Uzia sama dengan namanya yang berarti “Kekuatan Yehovah”. Dalam 2 Raja-raja 14:21 Uzia disebut juga dengan nama Azarya yang berarti “Yahwe telah membantu”.

Tak ada yang kebetulan! Sejak semula hidup Uzia memang dirancang seperti itu oleh Tuhan. Seandainya Uzia terus hidup di dalam takut akan Tuhan, maka Uzia akan terus mengalami keajaiban tangan Tuhan sampai akhir hayatnya. Namun sayang, semua kesuksesan yang dianugerahkan Tuhan telah membuat dia berubah. Uzia MEMILIH langkah yang salah!

“Setelah ia menjadi kuat, ia menjadi TINGGI HATI sehingga ia melakukan hal yang merusak. Ia BERUBAH SETIA KEPADA TUHAN, Allahnya, dan memasuki bait Tuhan untuk membakar ukupan di atas mezbah pembakaran ukupan.” (2 Tawarikh 26:16)

Uzia TAKABUR. Dia lupa diri. Uzia “lupa” bahwa sumber keberhasilannya adalah “Kekuatan Yehovah” seperti arti namanya. Dia lupa bahwa “Yahwe telah membantu” dia dengan sangat ajaib.

Uzia MEMILIH menjadi tinggi hati dan MEMILIH untuk berubah setia. Saya memakai kata “MEMILIH” karena seringkali kita sadar kalau kita salah, tetapi kita memilih mengeraskan hati dan terus berada dalam kesalahan itu. Tuhan memiliki rencana indah bagi kita sejak kita dijadikan, tetapi setiap sikap dan langkah yang kita PILIH hari ini akan MENENTUKAN seperti apakah MASA DEPAN kita.

“Oleh karena mereka benci kepada pengetahuan dan TIDAK MEMILIH TAKUT AKAN TUHAN, tidak mau menerima nasihatku, tetapi menolak segala teguranku, maka MEREKA AKAN MEMAKAN BUAH PERBUATAN MEREKA, dan menjadi kenyang oleh rencana mereka.” (Amsal 1:29-31)

Demikian pula dengan Uzia. Pilihan Uzia untuk tetap tinggi hati akhirnya membawanya pada sebuah kesalahan yang berakibat fatal bagi sisa hidupnya. Dengan keberhasilan dan kekuasaannya sebagai raja, Uzia merasa mampu melakukan segalanya. Ia membakar ukupan di Bait Allah yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh seorang imam. Ketika imam menegurnya, Uzia tidak bertobat tapi justru sangat marah. Sejak saat itu Uzia sakit kusta dan harus tinggal di rumah pengasingan hingga akhir hayatnya. Ia bukan hanya kehilangan kedudukan dan otoritasnya sebagai raja, namun ia juga dikucilkan dari rumah Tuhan!

Mengapa Uzia harus membayar harga yang sangat mengerikan atas kesalahannya? Sebab Uzia bukan hanya tidak menghormati para imam, tetapi sesungguhnya ia tidak takut pada Tuhan. Uzia bukan hanya meremehkan tata cara ibadah, tetapi sesungguhnya dia tidak menghargai  kekudusan Tuhan.

Tidak menghormati pemimpin sama artinya dengan tidak menghormati Tuhan, sebab Tuhanlah yang memilih dan mengangkat seorang pemimpin.

“Kami meminta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu” (1 Tesalonika 5:12)
“Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya.” (Ibrani 13:17)

Tuhan juga memakai kita sebagai alat-Nya. Ya, itu benar, tetapi wewenang kita hanya sebatas yg Tuhan ijinkan, tidak lebih. Ketika kita bertindak lebih dan bahkan berani melanggar otoritas di atas kita, itu berarti kita mulai memberontak terhadap Tuhan.

Sekarang mari melihat diri kita, apakah tanpa sadar kita juga bersikap seperti Uzia?? Mari kita berkaca dari kehidupan Uzia dan melihatnya dua sisi.

PERTAMA: Apakah ada “THE SPIRIT OF UZZIAH”, yaitu “TINGGI HATI DAN BERUBAH SETIA” di dalam diri kita??

Dalam semua berkat dan kesuksesan yang telah dianugerahkan oleh Tuhan pada kita, seringkali tanpa sadar kita memegahkan diri sedemikian rupa sehingga semua perhatian, kekaguman, dan pujian orang hanya tertuju kepada diri kita dan bukan kepada Tuhan. Akibatnya, ORANG LAIN TIDAK BISA MELIHAT TUHAN yang ada dibalik semua pencapaian kita.

Orang yang tinggi hati akan selalu melihat dan mengagumi dirinya sendiri, sehingga ia tidak akan bisa mengakui kebesaran Tuhan, memuliakan Tuhan, dan tunduk pada Tuhan. Cepat atau lambat, orang yang tinggi hati akan berubah setia terhadap Tuhan, sebab tidak mungkin bagi orang tinggi hati untuk sungguh-sungguh menyembah Tuhan, sementara di saat yang sama dia “memuja” dirinya sendiri!

Berhati-hatilah! Apapun bentuknya, KESUKSESAN BISA MERUBAH SESEORANG. Bila kita tidak menjaga hati, kesuksesan bisa membuat kita menjadi sombong dan berubah setia seperti Uzia. Karena itu jangan mengejar berkat Tuhan, tapi kejarlah Tuhan.

Bila kita rindu melihat (mengenal) Tuhan dan rindu orang lain melihat (mengenal) Tuhan melalui hidup kita, maka tidak boleh ada “THE SPIRIT OF UZZIAH” dalam hidup kita!!!

KE DUA: Apakah tanpa sadar ada “UZIA” yang bertahta dalam hidup kita??

Mari kembali sejenak pada Yesaya 6:1: “DALAM TAHUN MATINYA RAJA UZIA aku MELIHAT TUHAN duduk DI ATAS TAKHTA YANG TINGGI DAN MENJULANG, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci.”

Yang dilihat Yesaya di atas tahta BUKAN UZIA, TETAPI TUHAN!

Semua raja pasti memiliki tahta tetapi tahta Tuhan tinggi dan menjulang melampaui semua tahta. Tuhan adalah Raja di atas segala raja yang berkuasa mengangkat dan menurunkan semua raja-raja.

“Dia mengubah saat dan waktu, Dia memecat raja dan mengangkat raja, Dia memberi hikmat kepada orang bijaksana dan pengetahuan kepada orang yang berpengertian” (Daniel 2:21)

Saat ini adakah “Uzia” yang bertahta dalam hati kita? Uzia bisa berarti segala hal (SIAPAPUN dan APAPUN) yang menarik dan menguasai hidup kita lebih daripada Tuhan, yang membuat mata kita tidak tertuju kepada Tuhan. Apakah itu karir, harga diri, uang, popularitas, hobi, atau seseorang. Dan bila kita tidak waspada menjaga hati, pelayanan pun bisa menjadi “Uzia” yang menempati hati kita. Kita tahu ada banyak orang yang lebih mementingkan aktifitas pelayanan dibanding keluarga dan hubungan pribadinya dengan Tuhan. Akibatnya rohaninya menjadi kering dan tak sedikit yang keluarganya berantakan.

Lalu bagaimana dengan hamba Tuhan? Apakah tanpa kita sadari seorang hamba Tuhan/ pemimpin rohani bisa menjadi “Uzia” dalam hidup kita? Ya, yaitu saat kita lebih mendengar dia, lebih percaya kepadanya, dan lebih berharap kepadanya, dibanding kepada Tuhan!!!

Lihatlah raja Uzia. Dia hanya mencari Tuhan selama hidup Zakharia saja: Ia mencari Allah selama hidup Zakharia, yang mengajarnya supaya takut akan Allah…..” (2 Tawarikh 26:5a)

Ketika Zakharia sudah tiada, Uzia tidak lagi mencari Tuhan. Uzia terlalu menggantungkan iman dan pengenalannya akan Tuhan pada Zakharia. Uzia tidak mengenal Tuhan secara pribadi. Ia hanya dekat dengan Zakharia, tapi tidak dekat dengan Tuhan. Akhirnya ia pun meninggalkan Tuhan saat Zakharia telah tiada.

Selama masih ada sesuatu atau seseorang yang menjadi “raja” dan menduduki “tahta” dalam hati kita, maka berarti kita belum menjadikan Tuhan sebagai Raja di atas segala raja dalam hidup kita.

Untuk bisa melihat Tuhan sebagai Raja di atas segala raja, maka semua “Uzia” dalam hidup kita harus “mati”.

Pembaca terkasih, tetaplah rendah hati saat hidup kita sukses dan diberkati. Kembalikan segala pujian yang kita terima dengan ucapan syukur kepada Tuhan. Mari mengakui dalam hati dan juga dengan mulut kita bahwa tangan Tuhan yang melakukan semuanya. Tetaplah hidup dalam takut akan Tuhan serta semakin mengasihi Dia SUPAYA ORANG LAIN BISA MELIHAT TUHAN yang ada di dalam diri kita.

Kita boleh dan bahkan harus mengejar mimpi, membangun karir, melakukan hobi, giat pelayanan, memberi yang terbaik bagi orang-orang yang kita cintai, serta menghormati hamba Tuhan. Tetapi kita harus menempatkan Tuhan sebagai yang terutama diatas semua itu.

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23)

Lakukan semuanya bukan untuk kepuasan diri sendiri, dan juga bukan untuk mendapat pengakuan dari orang lain, tetapi semata-mata untuk memuliakan dan menyenangkan hati Tuhan. Semua itu bersumber dari dalam hati kita. Bila hati kita benar maka semua yang keluar dari dalam diri kita akan selaras dengan kebenaran.

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23)

Masalahnya, seringkali kita tidak mengenal hati kita sendiri. Sebab itu mari berdoa seperti raja Daud: “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku” (Mazmur 139:23)

Mari memohon pertolongan Roh Kudus agar Dia menunjukkan pada kita jika ada bagian dari hati dan pikiran kita yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Bila kita terus membangun hubungan yang intim dan kuat dengan Roh Kudus maka hari demi hari kita akan bertumbuh dalam pengetahuan dan pengenalan akan Tuhan untuk menjadi saksi-Nya. Amin.

 

Oleh: Sella Irene – Beautiful Words

Posted in English: UZZIAH MUST DIE (click here)

Photo credit: Google Images

 

 

Advertisements

One comment on ““UZIA” HARUS MATI

  1. Pingback: “UZZIAH” MUST DIE | Beautiful Words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

translate this blog

Follow Beautiful Words on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,427 other followers

Archives

%d bloggers like this: