Beautiful Words

Beautiful words stir my heart. I will recite a lovely poem about the king, for my tongue is like the pen of a skillful poet.

HANYA MELALUI KASIH


hanya-melalui-kasih

Identitas kekristenan kita bukanlah kartu tanda pengenal yang bertuliskan “agama Kristen”, lambang salib, atau lukisan Yesus yang tergantung di dinding rumah kita. Bukan pula berbagai atribut bernuansa “kristen” yang kita pakai.
Identitas kekristenan kita adalah KASIH, sebab kasih adalah “FINGER PRINT” Allah dalam diri kita.
Hanya melalui kasih maka dunia akan mengenal Bapa melalui kita.
Sudahkah kita hidup dan bergerak hanya di dalam dan oleh kasih-Nya??

Sejak semula para pengikut Kristus telah mengalami berbagai rintangan dan tantangan. Kisah Para Rasul 4 menceritakan bahwa Petrus dan Yohanes ditangkap oleh para imam karena memberitakan kebangkitan Yesus. Dalam pasal 5, Imam Besar dan pengikutnya menangkap rasul-rasul dan memasukkan mereka dalam penjara karena iri hati. Dan setelah peristiwa martirnya Stefanus dalam pasal 6&7, berbagai rintangan dan tantangan semakin meluas hingga kini.

Hal tersebut tidak mengherankan sebab Tuhan Yesus sendiri telah berfirman: “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.” (Yohanes 15:18-19)

Sebagai pengikut Kristus di dunia modern, kita bukan hanya harus mempertahankan kemurnian iman di tengah gaya hidup yang semakin bebas, tetapi kita juga harus berhati-hati dan bijaksana dalam menyikapi berbagai rintangan dan tantangan yang datang.

Disadari atau tidak, dunia melihat setiap tutur kata serta tindakan kita. Mereka menilai bagaimana seorang pengikut Kristus memberi respon saat diperlakukan tidak baik. Saat hati kita disakiti, apakah kita akan balas melukai dengan “senjata” yang lebih tajam?! Saat kita dihina, apakah kita akan berbalik merendahkan?! Ketika kita dibenci, apakah kita akan membalas dengan caci maki?! Dunia menilai seperti apakah respon kita ketika hal tidak menyenangkan diperbuat orang lain pada kita.

Dalam Kisah Para Rasul 6&7, Stefanus mengalami perlakuan yang kejam dan tidak adil. Dia difitnah dengan tuduhan telah menghujat Tuhan: Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang Libertini….. Orang-orang itu bersoal jawab dengan Stefanus, tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara. Lalu mereka menghasut beberapa orang untuk mengatakan: “Kami telah mendengar dia mengucapkan kata-kata hujat terhadap Musa dan Allah.” (Kisah Para Rasul 6:9-11)

Akibat dari semua itu adalah Stefanus dibawa ke Mahkamah Agama dan harus menanggung hukuman yang tidak seharusnya, yaitu mati ditangan orang banyak yang melempari dia dengan batu. Tepat diujung kematiannya, Stefanus berdoa: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” (Kisah Para Rasul 7:60)

Di tengah luapan kebencian dan kemarahan orang banyak kepadanya, hati Stefanus dilingkupi oleh kasih yang memampukan dia untuk mengampuni orang-orang yang menganiaya dirinya. Kasih seperti apakah yang sanggup mengampuni dosa sebesar itu??

Itu bukanlah kasih yang bersumber dari hati seorang manusia biasa! Dalam Kisah Para Rasul 6:3,5,8 ditulis bahwa Stefanus adalah orang yang terkenal baik, penuh hikmat, penuh Roh Kudus, penuh iman, penuh karunia dan kuasa. Semua itu adalah kualitas rohani yang hanya dimiliki oleh orang-orang saleh, yaitu orang-orang yang sungguh-sungguh menjaga hubungannya dengan Tuhan. Orang-orang yang bukan sekedar menjalankan kewajiban agama, tetapi selalu hidup dalam keintiman dengan Tuhan, taat, dan benar-benar menyerahkan hidup pada Tuhan.

Refleksi keintiman Stefanus dengan Tuhan nampak nyata dalam sidang Mahkamah Agama, yaitu ketika para saksi memberi kesaksian palsu tentang Stefanus: “Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat.” (Kisah Para Rasul 6:15)

Stefanus penuh dengan hadirat Tuhan. Kemuliaan Tuhan begitu nyata melingkupi dia sampai-sampai orang lain pun dapat melihatnya! Roh Kudus yang hidup dalam diri Stefanus itulah yang memenuhi dia dengan kasih dan memampukan dia setia sampai akhir.

Renungan buat kita semua adalah: Sudahkah orang lain melihat kemuliaan Tuhan melalui hidup kita??

Kita tahu bahwa sifat alamiah manusia adalah membalas kejahatan dengan kejahatan, dan kebaikan dengan kebaikan. Bahkan ada pula yang membalas kebaikan dengan kejahatan. Tetapi sebagai pengikut Kristus kita “dituntut” hidup dalam standar kasih yang berbeda:

“Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?” (Matius 5:46)

“Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” (Lukas 6:27-28)

Kristus mengajari kita untuk mengasihi orang yang membenci kita sebab mereka tak tahu apa yang mereka lakukan. Mereka membenci kita karena mereka tidak mengenal Allah Bapa. “Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku.” (Yohanes 15:21)

Bila kita membenci mereka, lalu siapa yang akan mengabarkan Injil Keselamatan kepada mereka?! Membenci orang-orang yang “menganiaya” kita sama artinya dengan menutup pintu keselamatan bagi mereka.

Kehendak Bapa adalah semua orang diselamatkan. Sebab itu kita harus menunjukkan kasih Allah pada mereka melalui tindakan nyata. Dengan demikian mereka akan mengenal pribadi Bapa di Surga melalui kita.

Jika kita sudah melakukan yang baik dan benar tapi orang lain masih mencari-cari kesalahan kita… Jika kita sedang menghadapi tekanan tertentu karena kita seorang Kristen yang taat… Atau orang mengejek kita dengan sebutan “fanatik” atau “pendeta” karena kita tidak mau berkompromi dengan dosa tertentu… Apapun bentuk rintangan dan tantangan yang terjadi, respon hati kita pertama-tama haruslah KASIH. Bila hati kita selalu dipenuhi oleh Kasih Kristus, maka kasih itu akan menjaga kita sehingga tindakan kita selanjutnya tidak akan menyimpang dari kasih sesuai kehendak Bapa.

Dalam 1 Korintus 13:1-3 tertulis perbandingan yang sangat ekstrim tentang kasih. Ijinkan saya mengutipnya secara lengkap untuk kita resapi bersama:

“Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.

Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. 

Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.”

Kasih adalah identitas kekristenan kita. Tanpa kasih, semua yang kita perbuat adalah omong kosong, tak berguna, dan sia-sia. Janganlah kita dikenal hanya sebagai orang Kristen yang rajin ke gereja, giat pelayanan, dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Semua itu baik, namun di atas semua itu biarlah kita lebih dikenal sebagai orang Kristen yang penuh kasih Kristus. Tetapi betapa sempurna kasih Kristus. Betapa tinggi dan dalam kasih-Nya, jauh melampaui batas kasih seorang manusia biasa. Tanpa pertolongan-Nya kita tak akan mampu menggapainya!

Kasih yang dapat memenuhi standar kasih Tuhan hanyalah kasih yang berasal dari Roh Tuhan sendiri.

Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena KASIH ALLAH TELAH DICURAHKAN DI DALAM HATI KITA OLEH ROH KUDUS yang dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:5)

Bila kita ingin memiliki kasih Kristus maka kita harus senantiasa bersekutu dengan Roh Kudus. Jika kita terus membangun keintiman dengan Roh Kudus maka dari waktu ke waktu kita akan diubah menjadi semakin serupa seperti Kristus, sehingga kita dimampukan untuk mengasihi orang lain sebagaimana Kristus telah lebih dahulu mengasihi kita.

Inti kekristenan adalah kasih sebab Tuhan adalah kasih. Bila kita rindu menjadi berkat dan membawa banyak jiwa pada Kristus, tidak ada jalan lain selain kita harus senantiasa melekat dan bersekutu dengan Roh Kudus.

Mari membuka hati dan mengijinkan Roh Kudus mencurahkan kasih Bapa sampai kasih itu melekat menjadi identitas kita, mengalir melalui hidup kita dan menjamah banyak orang. Sebab hanya melalui kasih kita bisa menjadi berkat dan memuliakan Allah.

“Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan YANG PALING BESAR DI ANTARANYA IALAH KASIH.” (1 Korintus 13:13)

 

Amin

Oleh: Sella Irene – Beautiful Words

Posted in English: Only Through Love (click here)

Photo credit: Google Images

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

translate this blog

Follow Beautiful Words on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,423 other followers

Archives

%d bloggers like this: