Beautiful Words

Beautiful words stir my heart. I will recite a lovely poem about the king, for my tongue is like the pen of a skillful poet.

MENJADI PEMIMPIN


menjadi-pemimpin

Apa yang terlintas dalam pikiran kita saat mendengar kata “menjadi pemimpin”? Memiliki otoritas, dihormati, memperoleh fasilitas dan prioritas?? Ataukah………

MENJADI PEMIMPIN = MENJADI HAMBA

Suatu kali Yakobus dan Yohanes beserta ibu mereka datang pada Yesus (Matius 20:20-28 & Markus 10:35-45). Mereka meminta agar kelak diijinkan duduk di kiri dan kanan Tuhan Yesus dalam kerajaan-Nya. Dengan kata lain, mereka ingin turut memerintah bersama Tuhan Yesus, memiliki kedudukan dan kekuasaan. Tetapi Yesus menjawab: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” (Matius 20:25-27)

Menjadi pemimpin bukan berarti menjadi penguasa yang memerintah, tetapi menjadi hamba yang melayani. Yesus telah memberikan teladan. Salah satunya adalah ketika Ia membasuh kaki murid-murid-Nya: Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. (Yohanes 13:4-5)

Tuhan Yesus yang sangat dihormati oleh murid-murid, segera menanggalkan jubah-Nya lalu mengikatkan sehelai kain pada pinggang-Nya sebagai tanda bahwa Dia memposisikan diri sebagai hamba yang siap melayani.

Bila kita ingin menjadi pemimpin yang berkenan di hadapan Allah maka kita harus menanggalkan “JUBAH” kita, yaitu harga diri, status, ego, kesombongan serta segala macam atribut yang menjadi kebanggaan kita, untuk kemudian menjadi seorang hamba yang melayani.

Menjadi hamba bukan berbicara tentang aktifitas fisik tetapi berbicara tentang KERENDAHAN HATI. Pemimpin yang tidak rendah hati akan cenderung semena-mena, memandang remeh dan tidak menghargai orang yang dipimpinnya tetapi hanya menuntut dihormati. Kerendahan hati juga berbicara tentang kerelaan melihat orang yang kita pimpin menjadi besar, bahkan melebihi diri kita.

Menjadi pemimpin adalah melayani, bukan dilayani. Memberi teladan, bukan memerintah dengan semena-mena.

Sebagai pemimpin, janganlah kita menuntut dilayani dan dihargai karena “SIAPA kita” dan “APA POSISI kita”, tetapi mari memberi TELADAN dalam setiap perkataan dan perbuatan. Dengan demikian orang akan menghormati kita bukan karena keharusan, tetapi karena rasa hormat dari hati mereka yang terdalam.

MENJADI PEMIMPIN = MENGEMBAN TANGGUNG JAWAB

Semakin tinggi posisi dan semakin banyak orang yang dipimpin berarti semakin besar pula tanggung jawab seorang pemimpin.

Menjadi pemimpin bukanlah sebuah pencapaian tapi sebuah kepercayaan dan tanggung jawab

Musa dipilih Tuhan untuk memimpin jutaan umat Israel. Musa harus menghadapi berbagai karakter dan menyelesaikan problem mereka. Musa tahu bahwa dia takkan sanggup mengurus semuanya seorang diri. Sebab itu Musa menuruti saran mertuanya untuk mengangkat pemimpin seribu orang, seratus orang, lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang (Keluaran 18:21-26).

Seorang pemimpin harus berani mendelegasikan sebagian tanggung jawabnya pada orang lain. Bukan pada sembarang orang, tetapi orang-orang yang cakap dan takut akan Tuhan, orang-orang yang jujur serta dapat dipercaya. Orang-orang inilah yang kemudian diberi tanggung jawab sesuai kemampuan mereka masing-masing. Bukan diberi tugas lalu dibiarkan berjalan sendiri, tetapi diperlengkapi dengan pelatihan dan pengawasan hingga orang tersebut berhasil.

Bagaimana bila orang yang kita pimpin melakukan kesalahan??

Dalam Keluaran 24:12-14, Tuhan memerintahkan Musa naik ke gunung. Sebelum pergi Musa mempercayakan tanggung jawab pada Harun dan Hur untuk menangani persoalan umat Israel selama ia tidak ada. Masalah mulai muncul saat orang Israel tidak sabar menunggu Musa kembali (Keluaran 32). Di tengah situasi itulah Harun mengambil keputusan yang salah yaitu membuat patung lembu emas. Tuhan sangat murka karena umat Israel menyembah patung itu, hingga Tuhan berniat membinasakan dan menggantikan mereka dengan keturunan Musa. Tetapi Musa tidak memandang itu sebagai kesempatan untuk mengambil keuntungan. Musa juga tidak menyalahkan Harun di hadapan Tuhan demi membela dirinya sendiri. Tetapi Musa membuktikan tanggung jawabnya dengan memohonkan pengampunan bagi umat Israel, bahkan jika Tuhan mengijinkan Musa pun rela namanya dihapus dari Kitab Kehidupan. Itulah kebesaran hati seorang pemimpin.

Mengemban tanggung jawab bukanlah semata-mata mengerjakan tugas, tetapi memberi diri untuk MENGASIHI orang-orang yang dipercayakan Tuhan dibawah kepemimpinan kita.

Sebagai anak Allah, Tuhan menempatkan kita menjadi pemimpin untuk menjadi berkat. Tuhan ingin kita berhasil dan hebat dalam skill sesuai bidang kita. Tetapi lebih dari itu, Tuhan rindu kita menyalurkan kasih Bapa kepada orang-orang yang kita pimpin. Mari kita mengasihi dan menghargai mereka sebagai pribadi, bukan sekedar memperlakukan mereka sebagai “aset” dalam organisasi kita. Dalam kasih ada teguran, ada disiplin, namun juga ada pelukan. Ada saatnya memberi mereka konsekuensi jika bersalah, namun juga ada saatnya menolong mereka bangkit dari kegagalannya dan memberi mereka kesempatan.

MENJADI PEMIMPIN = MEMILIKI KARAKTER DAN HATI YANG BENAR

Saul dan Daud adalah dua tokoh yang hebat. Saul dipilih dan diurapi Tuhan untuk menjadi raja Israel (1 Samuel 9:16-17), demikian pula dengan Daud (1 Samuel 16:12-13). Apa yang membedakan mereka? Karakter dan sikap hati.

Dalam salah satu pertempuran melawan Filistin di 1 Samuel 13, orang Israel terdesak. Sebelumnya Samuel telah memberi perintah pada Saul agar menunggu tujuh hari sampai Samuel datang untuk memberi tahu apa yang harus dilakukan (1 Samuel 10:8). Karena Samuel tak segera datang, maka rakyat hendak meninggalkan Saul. Karena takut ditinggalkan rakyatnya, maka Saul segera mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh imam. Saat Samuel datang dan menegurnya, dia membela diri dan tidak bertobat. Tindakan inilah yang akhirnya membuat Tuhan  memindahkan tahta Saul kepada Daud (1 Samuel 13:13-14).

Sekarang kita lihat Daud. Meski telah diurapi menjadi raja Israel, perlu waktu sekian belas tahun untuk hal itu menjadi kenyataan. Dalam rentang waktu menunggu itu, Daud melewati berbagai proses. Mulai dari menjadi pelayan dan pembawa senjata Saul (1 Samuel 16:21-22), menjadi pahlawan yang mengalahkan Goliat, hingga menjadi buronan Saul.

Saul dipenuhi iri hati dan haus kekuasaan. Nyanyian rakyat “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa”(1 Samuel 18:7) telah membuat Saul merasa tersaingi dan terancam kedudukannya. Sementara itu, meski Daud tahu tahta itu telah diberikan Tuhan kepadanya, namun tidak satu kali pun Daud berniat menggulingkan Saul. Saul tidak taat dan membantah, tetapi Daud segera menyesal dan bertobat saat nabi Natan menegur dia dari dosanya dengan Batsyeba (2 Samuel 12). Itu sebabnya Daud sangat berkenan di hati Allah.

Talenta dan ketrampilan bisa membawa seseorang naik menjadi pemimpin, tetapi hanya karakter dan hati yang benar yang dapat membuatnya bertahan di sana!!

Kita melihat banyak pemimpin yang hebat pada awalnya, namun kemudian jatuh. Ada yang bangkit lagi, namun tak sedikit yang benar-benar terhilang. Pemimpin yang baik bukan yang tidak pernah jatuh. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang menyadari kekeliruannya, mau berubah, dan berusaha bangkit dari kegagalannya.

Semua sumbernya dari dalam hati. Hati yang benar membuat seorang pemimpin melakukan hal yang benar dan membuatnya bertahan saat diproses Tuhan. Setiap kali seseorang berhasil melewati proses maka karakternya akan semakin dibentuk dan diubah, agar siap untuk dipercaya lebih banyak.

Daud telah memulai prosesnya jauh sebelum Samuel mengurapinya. Daud sanggup bertahan dalam tekanan dan pelarian karena dia memiliki fondasi yang kuat. Daud membangun hubungannya dengan Tuhan saat dia sendiri dengan Tuhan, menyembah Tuhan dengan kecapinya, dan menggembalakan dengan setia dombanya yang hanya beberapa ekor.

Mari kita menjadi pemimpin seperti Daud yang dengan rendah hati menerima teguran dan mudah bertobat. Marilah membangun fondasi iman yang kuat dan pengenalan akan Tuhan melalui doa dan persekutuan dengan Roh Kudus. Dan mari kita setia terhadap hal-hal kecil yang dipercayakan Tuhan, bertahan dalam proses, tetap pada jalur yang benar, dan tidak menyimpang dari firman Allah.

MENJADI PEMIMPIN = MEMILIKI INTEGRITAS

Sebagai pengikut Kristus yang dipercaya menjadi pemimpin, orang bukan hanya akan mengukur “APA” pencapaian kita, tetapi juga menilai “BAGAIMANA” cara kita mencapainya. Itu sebabnya kita harus memiliki integritas lebih daripada pemimpin di luar Kristus.

Berintegritas berarti BERKETETAPAN HATI untuk menerapkan nilai-nilai kebenaran secara KONSISTEN dalam situasi apapun. Dalam hal ini, nilai yang kita pegang adalah nilai yang lebih tinggi daripada moral dan norma masyarakat, yaitu firman Allah.

Orang yang berintegritas memiliki ketulusan hati dan kejujuran. Ia tidak akan bermuka dua, tidak munafik, dan tidak memiliki agenda tersembunyi. Apa yang dikatakannya, itulah yang dilakukannya.

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Matius 5:37)

Pemimpin yang berintegritas tidak akan “bersikap abu-abu” atau “berdiri di atas dua perahu”. Pemimpin yang berintegritas selalu konsisten dalam perkataan, sikap, dan perbuatannya. Tegas (tidak berkompromi) namun tidak gengsi mengakui kesalahannya, dan bersedia menerima saran dan kritik.

Skill bisa dilatih, pengetahuan bisa dipelajari, namun integritas itu berasal dari kedalaman hati. Integritas tidak datang dalam semalam, tapi terbentuk karena proses, kedewasan, dan kesadaran. Itu sebabnya pemimpin yang berintegritas “mahal harganya”.

Kita memang bisa mencapai sesuatu bila memiliki kemampuan dan kemauan keras untuk maju. Tetapi bila tidak memiliki INTEGRITAS, maka semua itu justru akan menjadi batu sandungan bagi orang lain sekaligus menjadi jerat bagi diri sendiri! Sebab tanpa integritas maka kita akan menghalalkan segala cara demi mendapat apa yang kita mau. Pada akhirnya, cepat atau lambat kita akan jatuh.

“Siapa bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui.”(Amsal 10:9)

“Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya.” (Amsal 11:3)

Mari menjadi pemimpin yang berintegritas agar kita bisa memuliakan Tuhan dalam setiap langkah kepemimpinan kita.

MENJADI PEMIMPIN = MEMBANGUN MANUSIA

Kita dipanggil Tuhan sebagai pemimpin bukan untuk membangun organisasi, tetapi membangun manusia yang ada di dalamnya.

Tuhan Yesus memanggil dua belas murid utama dengan berbagai latar belakang. Selama tiga setengah tahun Tuhan Yesus menanam “investasi” dalam diri murid-murid-Nya: menanam nilai-nilai Kerajaan Sorga, mengubah cara berpikir, membangun mental yang kuat, dan mengubah paradigma mereka. Satu orang (Yudas) telah memilih jalannya sendiri, tetapi sebelas murid yang lain berthasil diubah menjadi para rasul yang berapi-api dan berani bayar harga untuk Injil.

Kita juga tahu tentang pelarian Daud di gua Adulam. Tertulis dalam 1 Samuel 22:2 “Berhimpunlah juga kepadanya setiap orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati, maka ia menjadi pemimpin mereka. Bersama-sama dengan dia ada kira-kira empat ratus orang.”  Yang dimiliki Daud bukanlah prajurit terlatih yang lulus dari sekolah kemiliteran. Juga bukan orang-orang saleh yang berasal dari keluarga terhormat. Mereka adalah 400 orang yang memiliki luka batin, ketakutan, dan bermasalah secara sosial. Tetapi di bawah kepemimpinan Daud, mereka diubah menjadi para pahlawan yang tangguh dan setia pada Daud.

Seorang pemimpin memiliki akses dan otoritas untuk melakukan banyak hal. Itulah kesempatan kita menjadi saluran kasih dan kuasa Tuhan untuk menjamah dan mengubah mereka. Jangan menyerah jika orang-orang yang kita pimpin saat ini belum sesuai dengan yang kita harapkan. Mari memohon pertolongan Tuhan agar kita bisa melihat mereka sebagaimana Tuhan melihat kita sebelum kita diubahkan dahulu: “Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.” (1 Korintus 1:26)

Seorang pemimpin yang memiliki hati Bapa akan sanggup melihat potensi seseorang melampaui semua masalah dan kelemahan orang itu saat ini.

Mari mengimpartasikan nilai-nilai kehidupan kita pada orang-orang yang kita pimpin. Kelak, ketika mereka diubah menjadi lebih baik, maka organisasi yang kita pimpin juga akan menjadi lebih baik.

MENJADI PEMIMPIN = BERDIRI TEGUH DI ATAS KEBENARAN

Tuhan telah berfirman dalam 2 Timotius 3:1-9 tentang keadaan manusia pada akhir jaman. Bukan hal mudah menjadi pemimpin yang benar di tengah dunia yang penuh dosa dan kekerasan. Dari waktu ke waktu tantangan dan rintangannya semakin besar. Tak jarang anak Tuhan diperhadapkan pada pilihan frontal antara memilih kebenaran tetapi harus menanggung kerugian, ataukah berkompromi dengan dosa tetapi menerima keuntungan. Ada banyak hal yang kadang menjadi dilema.

Tuhan Yesus pernah berkata: “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” (Matius 10:16)

Cerdik dan tulus tidak boleh dipisahkan! Kecerdikan tanpa ketulusan akan membuat kita menjadi licik dan penuh siasat. Ketulusan tanpa kecerdikan akan membuat kita dibodohi dan dimanfaatkan.

Bila tak ingin goyah dan tergoda maka kita harus membangun seluruh kehidupan kita di atas dasar Batu Karang yang teguh dan berakar dengan di dalam Kristus. Dalam keadaan apapun kita harus percaya dan berpegang kuat-kuat pada seluruh kebenaran firman Tuhan dan tidak menyimpang sedikit pun. Tidak mudah, tetapi pasti bisa asalkan kita tidak bersandar pada kekuatan kita sendiri.

TAKUT AKAN TUHAN

Kita telah berbicara tentang pemimpin yang memiliki hati hamba, mengemban tanggung jawab, memiliki karakter dan hati yang benar, membangun manusia, dan berdiri teguh di atas kebenaran. TETAPI semua itu tak akan bertahan jika tidak didasari dengan HATI YANG TAKUT AKAN TUHAN. Kita bisa saja menjadi orang baik dan bertanggung jawab, namun bila kita tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan maka kebaikan itu takkan menang menghadapi godaan.

TAKUT AKAN TUHAN TIDAK SAMA DENGAN TAKUT AKAN “HUKUMAN” TUHAN. Banyak orang yang takut akan “hukuman” Tuhan: takut masuk neraka, takut tidak diberkati, takut mendapat celaka, dsb. Takut “hukuman” Tuhan didasari oleh perasaan takut menerima konsekuensi dosa atau mengalami sesuatu yang tidak enak. Tetapi takut akan Tuhan bukanlah seperti itu!

Takut akan Tuhan selalu didasari oleh hati yang mengasihi dan mengenal Tuhan. Karena kasih, maka orang yang takut akan Tuhan akan dengan sukarela memikul salib, menyangkal diri, dan taat pada Tuhan. Orang yang takut akan Tuhan akan melaksanakan visi dan misi dari Tuhan dan bukan mencari keuntungan diri sendiri. Hati yang takut akan Tuhan akan membuat seseorang berdiri kokoh di jalan kebenaran sebab hatinya mengasihi Tuhan, sehingga ia tidak akan mengorbankan hubungannya dengan Tuhan hanya demi pencapaian sementara di dunia.

Setiap level dan area kepemimpinan memiliki masalah sendiri. Sebab itu seorang pemimpin harus memiliki kapasitas untuk mengambil keputusan yang benar dalam setiap situasi. Tentunya setiap keputusan memiliki konsekuensi yang berbeda. Semakin tinggi posisi seorang pemimpin atau semakin banyak orang yang dipimpin, maka keputusan yang diambil akan berdampak semakin luas dan godaan yang dihadapi semakin besar. Untuk dapat mengambil keputusan yang bijak dan tepat, dibutuhkan kekuatan dan hikmat. Sebab itu sebagai pemimpin, kita benar-benar harus hidup di dalam kekudusan dan takut akan Tuhan. Sebab “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan….” (Amsal 1:7) dan “Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian.” (Amsal 2:6)

Di sisi lain, firman Tuhan berkata: “Oleh karena mereka benci kepada pengetahuan dan TIDAK MEMILIH TAKUT AKAN TUHAN, tidak mau menerima nasihatku, tetapi menolak segala teguranku, maka mereka akan memakan buah perbuatan mereka, dan menjadi kenyang oleh rencana mereka.” (Amsal 1:29-31)

Para pemimpin yang dikasihi Tuhan, mari kita SELALU MEMILIH TAKUT AKAN TUHAN dalam setiap langkah kita. Di manapun posisi kita saat ini, sesungguhnya Tuhan telah menanamkan DNA dari Sorga di dalam diri kita sehingga kita mampu menjadi pemimpin sesuai kehendak-Nya. Yang perlu kita lakukan adalah senantiasa hidup takut akan Tuhan dan melakukan semuanya atas dasar kasih. Mari bersama berdoa memohon Roh Kudus mencurahkan kasih Allah dalam hati kita. Bila kita sepenuhnya memberi diri pada Tuhan, saya percaya firman ini pasti akan digenapi dalam hidup kita:

“Aku akan memberi mereka satu hati dan satu tingkah langkah, sehingga mereka takut kepada-Ku sepanjang masa untuk kebaikan mereka dan anak-anak mereka yang datang kemudian.” (Yeremia 32:39)

Hanya melalui persekutuan dengan Roh Kudus dan hidup takut akan Tuhan akan lahir para pemimpin yang cakap, berhikmat, dan tahan melewati proses untuk bisa dipercaya lebih besar dan menjadi berkat lebih luas lagi.

 

Amin

Oleh: Sella Irene – Beautiful Words

Posted in English: Becoming a Leader (click here)

Photo credit: Google Images

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

translate this blog

Follow Beautiful Words on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,427 other followers

Archives

%d bloggers like this: