Beautiful Words

Beautiful words stir my heart. I will recite a lovely poem about the king, for my tongue is like the pen of a skillful poet.

BERSIAPLAH


BERSIAPLAH

Kamis 7 Juli 2016 adalah hari ke empat liburan kami di pulau Bali. Saya, suami, dan mama saya, menginap bertiga di sebuah kamar hotel. Pagi itu saya masih tidur nyenyak ketika samar-samar terdengar deringan panjang bercampur dengan suara mama yang berusaha membangunkan saya. Dia bertanya, “Itu suara apa dari tadi tidak berhenti? Lalu mengapa di luar kamar ramai sekali?”  Saya membuka mata dan hanya dalam hitungan detik saya tersadar dan tersentak. Itu alarm kebakaran!!!

Alarm melengking tanpa terputus. Saya membuka pintu kamar dan melihat beberapa tamu hotel yang masih mengenakan baju tidur beserta anak-anak mereka sedang berlarian sambil menenteng tas menuruni tangga kebakaran, yang posisinya kebetulan sangat dekat dengan kamar kami.

Saya langsung berteriak memanggil suami saya yang rupanya telah berada di dalam toilet sebelum alarm itu berdering. Ternyata suara alarm tidak terdengar jelas di dalam toilet sehingga dia tak tahu apa yang sedang terjadi.

Seketika kami panik, terlebih saya. Saya tidak mengenakan contact lense dan sudah tak ada waktu untuk mengambil kacamata minus saya yang masih tersimpan dalam koper. Saya tak bisa melihat jelas di mana sandal saya, tas saya, dan sebagainya. Sementara itu, suami saya bergegas mengecek keberadaan orang tuanya yang tinggal di kamar lain di lantai yang sama.

Tanpa berpakaian lengkap dan hanya mengenakan baju tidur, kami bertiga secepatnya keluar kamar sambil menenteng tas tangan yang berisi beberapa barang penting yang sembarangan saja kami masukkan. Benar-benar sebuah keadaan yang tak pernah saya bayangkan akan kami alami.

Di luar kamar, suami saya melihat beberapa tamu hotel yang tersisa sedang mengerumuni seorang security hotel yang sedang menggedor pintu salah satu kamar yang tak jauh dari tempat kami. Ternyata alarm kebakaran otomatis itu dipicu oleh asap rokok dari kamar tersebut. Meski sudah ada larangan merokok di dalam hotel, namun penghuni kamar itu tidak mengindahkannya. Walau akhirnya tak terjadi kebakaran, tetapi tindakannya yang tak bertanggung jawab telah membuat panik banyak orang.

Selepas peristiwa mendebarkan itu, jujur saja kami masih merasa waswas. Maka kami putuskan untuk membawa beberapa barang penting saat breakfast pagi itu, padahal biasanya kami selalu meninggalkannya di dalam kamar. Mungkin karena masih tegang, kami merasa seakan-akan harus berjaga-jaga dan bersiap-siap supaya bila sewaktu-waktu terjadi kebakaran kami bisa segera berlari keluar. Musibah tidak akan menunggu. Kamilah yang harus bergegas tak peduli bagaimanapun dan apapun situasinya!

Saat itu saya teringat akan perkataan Tuhan Yesus:

“Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.”  (Matius 24:37-39)

Ayat di atas adalah  pengajaran Tuhan Yesus tentang akhir zaman dan nasihat untuk berjaga-jaga karena Tuhan Yesus akan datang pada saat yang tidak kita duga. Tetapi saat ini saya tidak berbicara khusus tentang second coming dan rapture. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa dengan prinsip yang sama, “situasi tiba-tiba” yang sama, kita akan diperhadapkan pada detik akhir kehidupan kita. Kapan saat itu tiba, di mana, dan bagaimana caranya, tidak ada yang tahu persis. Yang jelas…..siap atau tidak, setiap orang harus dan pasti menghadapinya!

 

KEMURAHAN ALLAH

Pada jaman Nuh, Tuhan menanti dengan SABAR saat Nuh sedang mempersiapkan bahtera sebelum air bah melanda (1 Petrus 3:20). Tuhan sabar menanti orang-orang itu bertobat. Sesungguhnya tersedia cukup waktu bagi setiap orang pada jaman itu untuk bertobat, tetapi mereka menyia-nyiakannya hingga akhirnya harus binasa.

Maukah engkau menganggap sepi kekayaan  kemurahan-Nya,  kesabaran-Nya  dan kelapangan hati-Nya?  Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan? (Roma 2:4)

Selama bumi masih ada, Tuhan masih memberi kesempatan pada manusia untuk diselamatkan. Setiap orang memiliki waktu seumur hidup untuk bertobat. Dalam rentang waktu itu, Tuhan berbicara dan menyatakan kasih-Nya melalui Gereja-Nya dan para utusan-Nya (nabi, rasul, pengkhotbah, teman, saudara, rekan bisnis, dll) serta melalui berbagai peristiwa yang terjadi.

Lalu bagaimana dengan kita yang telah menerima anugerah keselamatan? Kita harus mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan-Nya dengan senantiasa hidup dalam pertobatan, menjadi hamba setia, dan menjadi pelaksana Amanat Agung.

 

SENANTIASA HIDUP DALAM PERTOBATAN

Tuhan Yesus sudah menebus kita dari hidup lama yang penuh dosa. Kita telah dipindahkan dari kematian kekal kepada kehidupan kekal. Jika sebelumnya kita hidup di bawah kutuk dosa, sekarang kita hidup di dalam kasih karunia dan menjadi ciptaan yang baru dalam Kristus.

Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima. (2 Korintus 6:1)

Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. (Roma 6:11-12)

Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang durhaka]. (Kolose 3:5-6)

Kita harus konsisten untuk terus hidup di dalam pertobatan dan tidak kembali pada kehidupan lama kita. Kita memang masih bisa jatuh dalam dosa, tetapi kita tidak boleh terus tinggal di dalam dosa! Seperti Daud yang segera bertobat dari kesalahannya saat ditegur oleh nabi Natan, demikianlah kita harus segera bertobat setiap kali kita jatuh dalam dosa. Kita harus terus hidup dalam kekudusan supaya kita tidak menyia-nyiakan kasih karunia Tuhan dan kita didapati benar saat Yesus datang menjemput kita.

 

MENJADI HAMBA SETIA

Dalam perumpamaan tentang talenta dalam Matius 25:14-30 dan uang mina dalam Lukas 19:12-27, Tuhan memberi gambaran pada kita bahwa Dia adalah Tuan yang mempercayakan harta-Nya kepada para hamba-Nya, dan kelak Dia akan meminta pertanggungjawaban mereka.

Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. (Matius 25:14)

Maka Ia berkata: “Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali. Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada mereka, katanya: Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali. (Lukas 19:12-13)

Kita tidak kan bisa menjadi hamba setia jika kita tidak bersedia merendahkan hati, karena orang sombong tidak akan rela menjadi seorang hamba! Hanya dari kerendahan hati akan lahir sikap melayani.

Melayani Tuhan bukan berbicara tentang aktifitas, tetapi hati yang sepenuhnya rela untuk tunduk dan taat pada setiap kehendak dan perintah-Nya. Jika kita seorang hamba setia, maka prioritas kita bukan lagi “diri kita” tetapi Tuhan.

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Matius 16:24)

Semua yang bernama “aku” yaitu “harga diriku, kepentinganku, keuntunganku, kesenanganku, kehendakku, dan aku-aku yang lain” tidak boleh berkuasa atas kita. Kita harus menyangkal diri agar Tuhan sepenuhnya menjadi Tuan kita. Dengan demikian maka kita bisa mengabdikan seluruh hidup kita untuk menjadi hamba setia yang dapat dipercaya oleh Tuhan.

Apapun bentuknya dan berapapun jumlahnya, Tuhan telah mempercayakan harta-Nya pada setiap kita. Itu bisa berupa kekayaan, keahlian, kepandaian, ketrampilan, dan sebagainya. Tugas kita adalah mengelola dan mengembangkan harta yang telah dipercayakan-Nya.

Bila saat ini Anda adalah seorang pemimpin sel grup dengan anggota beberapa orang saja, lakukan tugas itu dengan setia dan sepenuh hati. Pastikan mereka bertumbuh dengan baik dalam penggembalaan Anda. Mereka adalah harta yang dipercayakan oleh Tuhan kepada Anda.

Bila Anda memiliki kemampuan marketing, maka gunakan itu dengan baik dan benar untuk memberkati perusahaan di mana Anda bekerja. Jadilah teladan bagi rekan-rekan Anda.

Semua “investasi” yang telah Tuhan tanamkan dalam hidup kita adalah untuk memperlengkapi supaya kita dapat menuntaskan semua tugas dan panggilan kita. Teruslah hidup di dalamnya dengan penuh tanggung jawab dan setia. Jika kita tetap setia maka Tuhan akan mengangkat kita dan mempercayakan tanggung jawab yang lebih besar.

Upah terbesar seorang hamba adalah saat Tuannya berkata, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Matius 25:23)

 

MELAKSANAKAN AMANAT AGUNG

HARTA TERBESAR yang dipercayakan Allah pada kita adalah rahasia Kerajaan Allah yang telah dinyatakan melalui kematian dan kebangkitan Yesus, yaitu INJIL KESELAMATAN. Kita memiliki tugas mulia untuk memberitakan Injil pada segala bangsa sesuai dengan Amanat Agung.

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20)

Amanat Agung bukan hanya tugas para penginjil dan pendeta, tetapi tugas setiap orang yang telah diselamatkan. Jika kita adalah murid Kristus, maka kita harus aktif bergerak menjangkau orang lain. Kita bisa melakukan banyak hal seperti membagi traktat, bersaksi secara langsung, berdoa bagi keselamatan orang lain, serta menjadi terang dan saksi Kristus di segala area kehidupan kita.

 

Marilah kita selalu check and recheck hati dan kehidupan kita. Jangan tertipu oleh aktifitas agamawi yang kita kerjakan. Pastikan kita tetap berada di jalur yang benar sambil melakukan semua tugas kita dalam kesetiaan. Jangan menjauhkan diri dari hadirat Allah sebab diluar Dia kita tak dapat berbuat apa-apa. Mari selalu berdoa agar Roh Kudus menolong kita, membentuk kita, menguatkan kita, sehingga kelak kita didapati telah siap berjumpa dengan Juru Selamat kita, muka dengan muka.

 

Amin

 

Oleh: Sella Irene – Beautiful Words

Posted in English on “BE PREPARE”

Image source: Google Images (edit with Pixlr app)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

translate this blog

Follow Beautiful Words on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,424 other followers

Archives

%d bloggers like this: