Beautiful Words

Beautiful words stir my heart. I will recite a lovely poem about the king, for my tongue is like the pen of a skillful poet.

IMAN DAN BERSERAH


IMAN DAN BERSERAHBulan Juli tahun lalu, saya pernah menulis tentang seorang teman yang menderita kanker (Cahaya di Balik Kegelapan / A Light Behind the Darkness). Dia telah mengalami mujizat dan pulih dari sakitnya, namun kemudian kanker itu tumbuh kembali. Dalam pergumulannya yang berat dan panjang… dia tetap bersemangat, tetap setia, tetap berharap, dan tetap percaya pada Tuhan Yesus dan kuasa-Nya yang ajaib. Bila dulu Tuhan menjawab doanya dengan cara menyembuhkannya, namun kali ini Tuhan menyatakan kasih-Nya dengan memanggil wanita ini pulang ke rumah Bapa, meninggalkan suami dan anak-anaknya.

Wanita ini pergi dengan menyebarkan keharuman melalui kesaksian hidupnya, bahwa:

Iman selalu memiliki cara untuk memancarkan sinarnya, tak peduli segelap apapun jalan yang harus dilalui!

TIADA YANG MUSTAHIL

Suatu ketika Tuhan Yesus merasa lapar. Dia menghampiri pohon ara di tepi jalan dengan harapan dapat memakan buahnya, namun yang ada hanya dedaunan. Lalu Tuhan Yesus berkata pada pohon ara itu, “Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!” Seketika pohon ara itu mengering (Matius 21:18-19). Murid-murid takjub dan tercengang melihat peristiwa itu. Kemudian kata-Nya pada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu PERCAYA dan TIDAK BIMBANG, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi. Dan APA SAJA yang kamu minta dalam doa dengan PENUH KEPERCAYAAN, kamu akan MENERIMANYA.” (Matius 21:21-22)

Pada kesempatan berbeda, dalam Matius 17:14-21, seorang ayah membawa anaknya yang kerasukan roh jahat sejak kecil kepada murid-murid Yesus, tetapi mereka tak dapat mengusir roh jahat itu. Lalu murid-murid bertanya, “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” Jawaban Tuhan Yesus sungguh sangat menarik: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai IMAN SEBESAR BIJI SESAWI SAJA kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, — maka gunung ini akan pindah, dan TAKKAN ADA YANG MUSTAHIL BAGIMU.” (Matius 17:20)

Perhatikanlah! Yesus tidak berkata “takkan ada yang mustahil bagi Tuhan” tetapi “takkan ada yang mustahil BAGIMU”. Bagi siapa? Bagi orang yang memiliki iman. Takkan ada yang mustahil bagi kita, manusia biasa yang beriman dan percaya penuh kepada Tuhan. Elia adalah salah satu contohnya: “Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan.” (Yakobus 5:17)

“Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yakobus 5:16b)

Tuhan memberi kuasa bagi ORANG BENAR YANG PERCAYA kepada-Nya untuk “MENARIK” JAWABAN DOA DARI SORGA.

Contoh lainnya: Dalam sebuah pertempuran besar dekat Gibeon melawan lima raja orang Amori di Yosua 10, Yosua berdoa pada Tuhan dan berkata-kata di hadapan orang Israel: “Matahari, berhentilah di atas Gibeon dan engkau, bulan, di atas lembah Ayalon!” (ayat 12). Maka berhentilah matahari dan bulan pun tidak bergerak, sampai bangsa Israel membalaskan dendamnya kepada musuhnya (ayat 13). Dan dalam ayat 14 tertulis: “Belum pernah ada hari seperti itu, baik dahulu maupun kemudian, bahwa TUHAN MENDENGARKAN PERMOHONAN SEORANG MANUSIA secara demikian……” Betapa dahsyat kuasa dan kekuatan iman! Jika kita memiliki IMAN, tiada yang mustahil bagi kita!

MEMPERCAYAKAN DIRI PADA KEHENDAK TUHAN

Dengan menggunakan ayat-ayat di atas, banyak orang mengucapkan kalimat: “Saya beriman atas hal ini”. Tak jarang kita juga mendengar nasihat: “Kalau Anda menginginkannya, imani saja”, dan berbagai kalimat semacam itu. Kemudian mereka melakukan segala cara yang mereka tahu untuk meraih apa yang mereka “imani”. Mereka berdoa, berpuasa, memperkatakan firman Tuhan, menabur secara keuangan, giat melayani pekerjaan Tuhan, dan sebagainya. Namun… ketika apa yang mereka “imani” tidak mereka peroleh,  tidak sedikit orang yang kemudian menjadi kecewa, bahkan meninggalkan Tuhan. Tanpa disadari, kadang kita menggunakan “iman” untuk “memaksa” Tuhan melakukan apa yang kita mau.

Iman yang memaksa Tuhan dan kecewa jika tidak mendapatkannya, bukanlah iman! Iman yang benar adalah percaya kepada PRIBADI TUHAN, bahwa Dia maha kuasa, maha tahu, maha adil, maha baik, jalan-jalanNya sempurna, dan Dia mengasihi kita. Jika kita beriman pada Tuhan, kita tak akan curiga kepada-Nya, sehingga kita berani mempercayakan diri kita ke dalam tangan-Nya.

Beriman pada Tuhan berarti berserah penuh pada kehendak Tuhan.

Lihatlah raja Daud dalam 2 Samuel 12:1-25. Daud berdoa, berpuasa, dan berseru pada Tuhan dengan sungguh-sungguh agar anaknya dengan Betsyeba tidak mati, tetapi Tuhan tidak mengabulkannya. Apakah Daud kecewa? Tidak! Setelah dia diberitahu bahwa anaknya telah meninggal, dia justru menyembah Tuhan.

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego: mereka berkomitmen untuk tetap percaya dan menyembah Tuhan walau seandainya Tuhan tidak menolong mereka dari perapian yang menyala-nyala (Daniel 3:17-18). Itulah iman!

Lihatlah Nuh, Abraham, Musa, para nabi, dan orang-orang beriman yang tertulis dalam Ibrani 11. mereka adalah orang-orang beriman yang berani menerima panggilan Tuhan dan taat melakukan segala perintah Tuhan. Walau mereka harus melakukan hal-hal yang bertentangan dengan logika, harus keluar dari zona nyaman, serta menerima berbagai kritik, hujatan, dan siksaan dari orang-orang yang tidak mengerti, namun mereka tetap teguh menyelesaikan tugasnya. Mereka sangat percaya pada Tuhan sehingga dengan utuh mempercayakan hidup mereka pada kehendak Tuhan.

Mari lihat apa kata firman Tuhan tentang mereka:

“Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya…….” (Ibrani 11:13) 

“Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik.” (Ibrani 11:39)

Setelah semua yang mereka lakukan, setelah mereka mempercayakan diri pada Tuhan dan melakukan kehendak Tuhan, mereka tidak memperoleh apa yang dijanjikan?? Apakah mereka gagal? Apakah mereka kurang iman? Kurang percaya? Tentu saja tidak. Mereka adalah orang-orang beriman. Mereka tidak berpusat pada hasil, tapi mereka berpusat Tuhan. Mereka tidak berpusat pada apa yang mereka peroleh, tetapi berpusat pada apa yang Tuhan ingin mereka lakukan.

IMAN TIDAK BERPUSAT PADA HASIL, IMAN SELALU BERPUSAT PADA TUHAN.

Tuhan Yesus telah memberikan teladan iman yang sempurna ketika Dia berdoa di taman Getsemani dalam keadaan-Nya sebagai manusia. Kata-Nya: “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (Markus 14:36)  Tuhan Yesus tahu persis bahwa tiada yang mustahil bagi Bapa, tapi Tuhan Yesus memilih untuk berserah dan mempercayakan segalanya pada kehendak Bapa.

Kita belajar dari Tuhan Yesus bahwa iman bukan hanya berarti mempercayai kemahakuasaan Tuhan. Iman juga bukan hanya berarti percaya bahwa kita pasti menerima apa yang kita minta dan doakan. Tetapi lebih dari itu, iman berarti mempercayakan diri dan berserah pada Tuhan.

Apapun kebutuhan, keinginan, dan harapan kita, marilah kita melakukan bagian kita dengan maksimal. Terus hidup dalam kebenaran, menjadi pelaku firman Tuhan, membangun hubungan yang intim dengan Tuhan, dan berdoa dengan tekun. Percayalah bahwa Tuhan sanggup melakukan segala perkara dan Dia bersedia menolong kita. Percayalah bahwa jika kita sungguh-sungguh berdoa maka kita pasti menerima apa yang kita doakan. Namun jangan hanya berhenti di sana! Mari melangkah bersama Tuhan dalam kehendak-Nya yang sempurna.

Jangan mengukur “keberhasilan iman” kita dari banyaknya permohonan yang menjadi kenyataan. Jangan menilai kebaikan dan berkat Tuhan melalui berapa banyak Tuhan mengabulkan doa kita. Bila doa kita dikabulkan, itu bukan semata-mata karena iman dan usaha kita, tetapi karena kemurahan dan kedaulatan Tuhan. Jika Tuhan berkenan memberi, tiada apapun dan siapapun yang dapat menahan dan membatalkannya. Dan kalaupun permohonan dan harapan kita tidak menjadi kenyataan, itu bukan berarti kita gagal, kurang iman, atau kurang layak menerimanya, namun karena kehendak Tuhan. Ingatlah bahwa jika Tuhan tidak menjawab sesuai keinginan kita, berarti Tuhan pasti memberikan yang jauh lebih baik dari yang kita minta. 

“Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita….” (Ibrani 11:40)

Milikilah IMAN bahwa kita pasti memperoleh semuanya, tapi di saat yang sama marilah kita BERSERAH kepada-Nya: “Tuhan Yesus, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu dalam hidupku seperti di Sorga.”

 

Amin.

 

Oleh: Sella Irene – Beautiful Words

Posted in English: FAITH AND SURRENDER

Photo credit: Bacground image from Google Images, edit with pixlr app

Advertisements

One comment on “IMAN DAN BERSERAH

  1. Pingback: FAITH AND SURRENDER | Beautiful Words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

translate this blog

Follow Beautiful Words on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,424 other followers

Archives

%d bloggers like this: