Beautiful Words

Beautiful words stir my heart. I will recite a lovely poem about the king, for my tongue is like the pen of a skillful poet.

MENGALAMI TUHAN SECARA PRIBADI


MENGALAMI TUHAN SECARA PRIBADI

Ada beberapa nama Eliezer dalam Alkitab. Salah satunya adalah Eliezer orang Damsyik, hamba Abraham yang paling tua dan dipercaya untuk memegang kekuasaan atas segala kepunyaan Abraham (Kejadian 24:2). Karena pada waktu itu Abraham belum memiliki keturunan, maka Abraham bermaksud mengangkat Eliezer menjadi ahli waris, sampai akhirnya Tuhan mengaruniakan Ishak sebagai anak kandung Abraham, yang kemudian menjadi bangsa yang besar sesuai dengan rencana Tuhan (Kejadian 15:4-5). Tetapi Eliezer adalah hamba yang baik. Meski dia tahu bahwa dia sudah tidak menjadi ahli waris Abraham, namun hatinya tetap tunduk dan mengabdi sepenuhnya pada Abraham, tuannya.

Suatu ketika Abraham meminta Eliezer untuk mencarikan seorang istri bagi Ishak. Kisah ini dimulai saat Abraham meminta Eliezer bersumpah: “Baiklah letakkan tanganmu di bawah pangkal pahaku, supaya aku mengambil sumpahmu demi Tuhan, Allah yang empunya langit dan yang empunya bumi, bahwa engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang isteri dari antara perempuan Kanaan YANG DI ANTARANYA AKU DIAM. Tetapi engkau harus pergi ke negeriku dan kepada sanak saudaraku untuk mengambil seorang isteri bagi Ishak, anakku.” (Kejadian 24:2-4).

Eliezer memegang teguh sumpahnya dan menjalankan tugas yang dipercayakan padanya dengan tanggung jawab. Eliezer kembali dengan membawa Ribkah, istri bagi Ishak. Tidak diragukan lagi bahwa Eliezer memang seorang hamba yang setia dan bisa dipercaya. Tetapi mari kita lihat sisi lain tentang Eliezer, sambil kita melihat diri kita sendiri.

Detail perjalanan Eliezer untuk mencari istri bagi Ishak tertulis dalam kitab Kejadian 24. Ada dua hal yang akan kita lihat dalam pasal ini. Hal yang pertama adalah tentang sikap hati Eliezer terhadap Tuhan. Yang ke dua adalah tentang perbedaan antara Abraham dan Eliezer dalam memandang tanah Kanaan.

Mari kita lihat hal yang pertama:

PERCAYA NAMUN TIDAK PERCAYA

Eliezer memulai tugasnya dengan sebuah doa untuk meminta pertolongan dan tanda khusus dari Tuhan: “TUHAN, ALLAH TUANKU ABRAHAM, buatlah kiranya tercapai tujuanku pada hari ini….. Kiranya terjadilah begini….. ; maka dengan begitu akan kuketahui, bahwa Engkau telah menunjukkan kasih setia-Mu kepada tuanku itu.” (Kejadian 24:12-14)

Setelah Tuhan mengabulkan permohonannya, inilah yang dilakukannya: Lalu berlututlah orang itu dan sujud menyembah Tuhan, serta berkata: “Terpujilah TUHAN, ALLAH TUANKU ABRAHAM, yang tidak menarik kembali kasih-Nya dan setia-Nya dari tuanku itu; dan Tuhan telah menuntun aku di jalan ke rumah saudara-saudara tuanku ini!” (Kejadian 24:26-27)

Perhatikanlah bahwa dalam setiap doanya Eliezer selalu berkata: TUHAN, ALLAH TUANKU ABRAHAM. Hal yang sama terjadi saat dengan penuh syukur dia menceritakan perjalanannya pada keluarga Ribkah dalam ayat 42 “Dan hari ini aku sampai ke mata air tadi, lalu kataku: TUHAN, ALLAH TUANKU ABRAHAM, sudilah kiranya Engkau membuat berhasil perjalanan yang kutempuh ini.” Serta ayat 48 “Kemudian berlututlah aku dan sujud menyembah Tuhan, serta memuji TUHAN, ALLAH TUANKU ABRAHAM, yang telah menuntun aku di jalan yang benar untuk mengambil anak perempuan saudara tuanku ini bagi anaknya.”

Apakah Eliezer menyembah Tuhan? YA. Apakah  Eliezer mengakui kebesaran Tuhan? YA, tetapi dia tidak benar-benar menjadikan Tuhan sebagai Allahnya secara pribadi.

Eliezer telah tinggal bersama Abraham berpuluh tahun lamanya. Dia telah melihat Abraham dari tak punya apa-apa sampai diberkati Tuhan. Dia juga telah melihat bagaimana Tuhan melakukan berbagai keajaiban dalam hidup Abraham: “TUHAN sangat memberkati tuanku itu, sehingga ia telah menjadi kaya….. Dan Sara, isteri tuanku itu, sesudah tua, telah melahirkan anak laki-laki bagi tuanku itu…..” (Kejadian 24:35-36). Tetapi semua perbuatan Tuhan yang dilihatnya itu tidak membuat dia mengakui Tuhan sebagai Allahnya sendiri. Sebaliknya (ijinkan saya sedikit menyinggung tentang Rut), Rut melihat keluarga Naomi dari sejak kaya sampai habis dan tak punya apa-apa. namun Rut justru dengan bulat hati mengakui Tuhannya Naomi sebagai Tuhannya sendiri “…..bangsamulah bangsaku, dan Allahmulah Allahku.” Rut 1:16).

Apakah Eliezer percaya kepada Tuhan? YA. Apakah Eliezer percaya bahwa Tuhannya Abraham adalah Allah yang maha kuasa? YA, itulah sebabnya ia berdoa. Eliezer percaya Tuhan karena ia telah melihat bagaimana Tuhan melakukan mujizat dalam hidup Abraham. Tetapi kali ini yang berdoa adalah dirinya sendiri, bukan Abraham!

Lihatlah apa yang dilakukan Eliezer setelah dirinya sendiri berdoa. “Dan orang itu mengamat-amatinya dengan berdiam diri untuk mengetahui apakah Tuhan membuat perjalanannya BERHASIL atau TIDAK.” (Kejadian 24:21) Eliezer tidak sepenuhnya percaya bahwa Tuhan akan menjawab doanya sendiri. Sikap ini tidak selaras dengan prinsip iman: “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (Markus 11:24)   

Seperti Eliezer, banyak orang yang mengikut Yesus namun tidak sungguh-sungguh menempatkan Yesus sebagai Tuhan dan tidak memiliki hubungan pribadi  yang kuat dengan Tuhan. Mereka mengenal Tuhan dari kata orang dan dari pengalaman orang. Mereka memuji kebesaran Tuhan saat mendengar perbuatan Tuhan dalam hidup orang lain. Mereka juga berdoa dan berharap pada Tuhan saat mereka menghadapi persoalan, namun mereka sendiri tidak yakin bahwa Tuhan mendengar doanya.

Mempercayai kebesaran Tuhan karena mujizat yang Tuhan kerjakan dalam hidup orang lain, tidak sama dengan mengalaminya sendiri secara pribadi. Kadang saat mendengar atau melihat kesaksian orang lain, kita menjadi kuat dan bersemangat. Namun saat kita menghadapi persoalan, kita menjadi ragu apakah Tuhan pasti menolong kita. Mengapa demikian? Sebab kita tidak ikut merasakan sakit, pergumulan, tekanan, dan semua emosi yang dirasakan orang tersebut pada saat melewati problemnya. Kita hanya mendengar hasil akhirnya yang berkemenangan, tanpa ikut merasakan prosesnya.

Saat ini, jika ada diantara kita yang sedang mengalami pergumulan dan sedang berada dalam tekanan yang berat, ingatlah bahwa Tuhan itu baik kepada semua anak-anak-Nya. Jika Tuhan bersedia dan sanggup menolong saudara-saudara seiman kita, percayalah bahwa Tuhan juga PASTI bersedia dan sanggup menolong kita. Tetap berharap dan nantikanlah Tuhan.

Sekarang mari kita lihat hal yang ke dua:

TIDAK MEMILIKI IMAN SEPERTI ABRAHAM

Kembali pada Kejadian 24:2-4, khususnya ayat 3. Abraham mengutus Eliezer dengan kalimat:  “…….bahwa engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang isteri dari antara perempuan Kanaan YANG DI ANTARANYA AKU DIAM.”  Tetapi inilah yang dikatakan Eliezer pada keluarga Ribkah: “Tuanku itu telah mengambil sumpahku: Engkau tidak akan mengambil untuk anakku seorang isteri dari antara perempuan Kanaan, YANG NEGERINYA KUDIAMI ini (Kejadian 24:37).   

Ada perbedaan mendasar antara pernyataan Abraham dan Eliezer. Abraham tak pernah berkata bahwa tanah tempat dia tinggal adalah negerinya orang Kanaan. Abraham hanya berkata bahwa ia diam diantara orang Kanaan. Abraham beriman bahwa Kanaan adalah tanah miliknya sesuai dengan janji Tuhan padanya: “Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka.” (Kejadian 17:8) Tetapi Eliezer mengutip kalimat Abraham dengan pemahamannya sendiri “…Kanaan, yang NEGERINYA KUDIAMI ini” Dengan kata lain, Eliezer menganggap bahwa negeri tempat Abraham tinggal adalah negerinya orang Kanaan. Ya, secara fakta itu memang benar. Secara riil tanah Kanaan memang masih milik orang Kanaan. Tetapi dengan iman Abraham percaya bahwa tanah Kanaan adalah miliknya sebab itulah yang difirmankan Tuhan kepadanya.

Eliezer telah melihat betapa Abraham beriman pada Tuhan hingga Abraham taat melakukan apapun yang Tuhan perintahkan. Eliezer juga melihat bahwa Tuhan memang bisa dipercaya dan tidak pernah mempermalukan orang yang berharap kepada-Nya. Namun semua itu tidak membuat Eliezer memiliki iman seperti Abraham.

Iman tidak dibangun diatas dasar kenyataan dan perasaan, tetapi IMAN DIBANGUN DI ATAS DASAR FIRMAN TUHAN. Kenyataan dan perasaan sering kali justru berlawanan dengan iman kita. Jika kita meletakkan iman pada kenyataan dan perasaan, kita akan mudah ragu dan goyah. Ijinkan saya berbagi pengalaman saya tentang hal ini.

Saya pernah berada dalam kondisi keuangan yang teramat berat. Keadaan kami sangat terpuruk. Secara logika, kami benar-benar tidak tahu caranya untuk keluar dari keadaan itu. Kami hanya bisa berseru-seru dan memohon pertolongan Tuhan. Setiap kali kami mendengar khotbah, kami dikuatkan. Setiap kali kami menerima janji Tuhan lewat firman yang kami baca, pengharapan kami bangkit. Tetapi kenyataan yang kami hadapi belum berubah, bahkan ada waktu-waktu tertentu di mana situasi justru menjadi lebih buruk! Jujur, kadang kami merasa ragu dan kuatir. Tetapi tidak ada jalan lain selain tetap berharap dan percaya kepada Tuhan. Jika kami tidak berharap pada Tuhan, mau berharap pada siapa lagi?? Hari demi hari kami terus menguatkan kepercayaan kami kepada Tuhan, dan belajar memegang teguh janji-janji Tuhan yang telah kami terima, sambil terus belajar mengenal Tuhan dan jalan-jalanNya. Hingga saat ini, sudah bertahun-tahun kami lalui semua itu. Saat ini saya berani berkata bahwa Tuhan tidak pernah mengecewakan dan tidak pernah mempermalukan orang-orang yang berharap dan percaya pada-Nya. Dengan cara-Nya sendiri, Tuhan menolong kami. Memang tidak seperti yang kami bayangkan, tetapi kami percaya bahwa cara Tuhan itu sempurna. Telah terbukti bahwa hingga hari ini Tuhan selalu memelihara, melepaskan, dan menolong kami.

Jika saat ini ada diantara kita yang sedang bergumul untuk sesuatu….. Sudah berdoa, melayani Tuhan, dan belajar setia, tetapi jawaban Tuhan tak kunjung datang dan kenyataan yang dihadapi tak juga berubah, bersabarlah. Kuatkan hati dan tetap percaya. Seperti Abraham, kita harus mengarahkan mata iman kita pada firman Tuhan, sebab Tuhan yang menjanjikannya adalah setia. “Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia.” (Ibrani 11:11) Mengapa Abraham sangat percaya kepada Tuhan, bahkan di saat segala sesuatu nampak mustahil? Karena dia MENGENAL siapa Allah yang dia sembah. Kita tak akan bisa mengenal Tuhan jika tidak membangun hubungan pribadi dengan Tuhan. Dan bila kita tidak mengenal Tuhan, maka kita tidak akan bisa sepenuhnya percaya kepada-Nya.

BERJALAN BERSAMA TUHAN

Menjadi hamba yang melayani itu baik, tetapi membangun keintiman dengan Tuhan itu jauh lebih baik. Kita harus mengalami Tuhan secara pribadi.  Untuk itu kita harus hidup dalam ketaatan dan kerelaan untuk melakukan kehendak Tuhan, dan mengijinkan Tuhan terlibat penuh dalam setiap aspek kehidupan kita. Percayakan diri kita kepada tuntunan dan keputusan Tuhan untuk memilihkan jalan-jalan bagi kita sesuai kehendak-Nya. Melalui pengalaman demi pengalaman saat berjalan bersama Tuhan, firman Tuhan menjadi nyata dan hidup dalam kehidupan kita. Mari kita tekun berdoa dan membaca firman Tuhan setiap hari, sehingga kita semakin mengenal Tuhan otot-otot iman kita menjadi semakin kuat. Amin.

 

Oleh: Sella Irene – Beautiful Words

Posted in English: Experience God Personally

Background Image: Google Images (edit with pixlr app)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

translate this blog

Follow Beautiful Words on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,423 other followers

Archives

%d bloggers like this: