Beautiful Words

Beautiful words stir my heart. I will recite a lovely poem about the king, for my tongue is like the pen of a skillful poet.

SAAT PERTUNJUKAN BERAKHIR


SAAT PERTUNJUKAN BERAKHIR

Panggung pertunjukan selalu menarik bagi sebagian orang. Berdiri di atas panggung bermandikan gemerlap lighting dan diiringi riuh tepuk tangan merupakan sebuah kepuasan tersendiri. Kamera ditempatkan di berbagai sisi panggung sehingga setiap detil gerak dan ekspresi dapat tertangkap dan terekam dengan jelas.

Di bawah siraman lighting, sorotan kamera, dan tatapan mata penonton, kekeliruan dan kekurangan sekecil apapun akan nampak. Itulah sebabnya panggung seakan menuntut “kesempurnaan” dari orang-orang yang beraksi di atasnya: kualitas talenta yang ditampilkan, keindahan kostum, ekspresi, dan sebagainya.

Semua “keharusan tampil sempurna” itu membuat banyak orang rela melakukan usaha ekstra. Mereka berlatih selama berbulan-bulan, menyiapkan dana tertentu untuk kostum, diet ketat agar penampilan semakin menarik, dan segala upaya lainnya demi memberi yang terbaik. Tentu dengan harapan mendapat respon balik yang baik.

Tak diragukan lagi… Siapapun yang berdiri di atas panggung akan selalu menjadi pusat perhatian. Jika berhasil tampil mempesona akan menerima banyak sanjungan dan pujian, jika gagal akan menerima cibiran dan cacian.

Semua yang saya tulis di atas adalah panggung dalam arti yang sesungguhnya. Sekarang ijinkan saya menggunakan istilah itu sebagai ilustrasi dalam kehidupan sehari-hari.

PANGGUNG KEHIDUPAN

Dalam aktifitas sehari-hari setiap orang memiliki “panggung” sendiri, yaitu suatu area atau momen di mana setiap penampilan, kemampuan, dan kepribadian seseorang dapat dilihat, dirasakan, dan dinilai oleh orang lain. Area atau momen itu bisa apa saja dan di mana saja. Di dunia kerja, sekolah, kampus, mall, organisasi sosial, bahkan dalam pelayanan di gereja, dan lain-lain.

Firman Tuhan telah memberitahukan pada kita bahwa “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; MANUSIA MELIHAT APA YANG DI DEPAN MATA, tetapi Tuhan melihat hati.” (1 Samuel 16:7b) Hal yang mudah menarik perhatian manusia adalah apa yang terpampang di depan mata, entah itu sesuatu yang baik atau buruk.

Seperti seorang performer di atas panggung, banyak dari kita saat akan, sedang, atau setelah melakukan sesuatu, berpikir apa kira-kira pendapat orang lain tentang diri kita. Misalnya:

Apakah menurut  mereka aku pekerja yang hebat?

Apakah menurut teman-temanku aku ini baik hati? Jika aku melakukan hal ini, apakah mereka akan berpikir bahwa aku sombong?

Apakah menurut jemaat pelayananku tadi luar biasa?

Apakah ada orang yang melihat ketika tadi aku melakukan kesalahan?

Apakah penampilanku hari ini terlihat mengesankan?

Dan sebagainya.

Tak ada yang ingin terlihat buruk di mata orang lain. Hal tersebut menjadi dorongan bagi kita sehingga berusaha tampil sebaik-baiknya. Apakah itu salah? Tidak. Tuhan telah menganugerah kehidupan. Tuhan memberikan banyak kesempatan berharga untuk bekerja dan melayani Dia. Semua itu adalah momen yang dipercayakan Tuhan agar kita dapat mencerminkan kemuliaan-Nya dan menjadi berkat. Sudah pasti bahwa kita harus memberi yang terbaik dan tidak boleh asal-asalan agar tidak menjadi batu sandungan.

Masalahnya adalah untuk SIAPA dan untuk APA kita melakukan segalanya? Untuk kepuasan diri sendiri, mendapat pujian, disukai banyak orang, mendapat promosi, dianggap baik dan saleh, dihargai orang, atau….??

UNTUK TUHAN

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23)

Ada perbedaan besar antara melakukan untuk Tuhan atau untuk manusia. Jika kita melakukan segalanya untuk Tuhan, maka kita pasti akan lebih mengutamakan perkenanan Tuhan dibanding penilaian manusia. Jika motivasi kita adalah untuk Tuhan, maka kita akan lebih fokus terhadap apa yang dilihat oleh Tuhan, yaitu HATI kita, dan bukan sekedar mengejar segala hal yang nampak mempesona di mata manusia.

Banyak orang, bahkan orang Kristen, mengabaikan hatinya demi mendapat penilaian positif dari manusia. Yesus memberi sebuah contoh tentang seseorang yang melakukan ibadahnya dengan motivasi SUPAYA DILIHAT ORANG. Dan Yesus menyebutnya sebagai orang munafik (Matius 6:5).

Lihatlah betapa sesuatu yang baik dan benar di mata manusia belum tentu baik dan benar di mata Tuhan. Mengapa? Sekali lagi, karena manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN MELIHAT HATI. Sesuatu yang benar jika dilakukan dengan sikap hati yang salah akan menjadi salah di mata Tuhan. Lalu bagaimana agar kita tidak terjebak di dalamnya?

KETULUSAN DAN KEJUJURAN

KETULUSAN dan KEJUJURAN kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau. (Mazmur 25:21)

Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni DI HADAPAN ALLAH DAN MANUSIA.” (Kisah Para Rasul 24:16)

Kita harus membangun hidup kita dalam ketulusan dan kejujuran sesuai standar firman Tuhan. Sebuah kehidupan yang tanpa kepura-puraan dan tanpa motivasi tersembunyi. Apa yang nampak di luar harus sama dengan apa yang ada di dalam. Apa yang tidak terlihat harus sama dengan yang terlihat. Tindakan dan sikap kita harus mencerminkan apa yang ada di dalam hati, bukan “berakting” demi mendapat tepuk tangan dan pengakuan.

“Nilai” kita yang sesungguhnya bukan saat kita “berakting” di atas “panggung kehidupan”, tetapi saat kita berada dibalik “tirai tertutup” dan tak seorangpun yang melihat.

 

Seperti sebuah panggung pertunjukan:

Saat pertunjukan sudah berakhir…

Saat lighting telah dipadamkan…

Saat kamera tak lagi menyala…

Saat perhatian orang tak lagi terarah pada kita…

Apakah kita masih memiliki hati MEMBERI YANG TERBAIK dalam segala hal?

Apakah kita masih bersikap, berperilaku, dan berusaha sebaik-baiknya sama seperti saat kita dilihat orang?

Saat pertunjukan telah berakhir, APAKAH KITA MASIH MENJADI PRIBADI YANG SAMA SEPERTI SAAT KITA BERADA DI ATAS PANGGUNG??

 

Semuanya kembali kepada hati yang benar. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23) Hati yang saleh akan melahirkan kehidupan yang saleh, hati yang kudus akan melahirkan kehidupan yang kudus, dll.

Marilah memberi yang terbaik di dalam ketulusan dan kejujuran. Bukan karena dilihat orang, bukan demi mendapat apresiasi positif dari orang lain, bukan demi keuntungan diri sendiri, tetapi untuk Tuhan dan hanya untuk Tuhan. Seperti doa raja Daud, mari kita mengijinkan Roh Kudus untuk menguji dan menyelidiki batin dan hati kita, agar kita dapat senantiasa hidup benar di hadapan-Nya.

“Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku. Sebab mataku tertuju pada kasih setia-Mu, dan aku hidup dalam kebenaran-Mu.” (Mazmur 26:2-3)

Amin

 

Oleh: Sella Irene – Beautiful Words

Uploaded in English  “When the show is over”

Image Source: Google Images

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

translate this blog

Follow Beautiful Words on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,423 other followers

Archives

%d bloggers like this: