Beautiful Words

Beautiful words stir my heart. I will recite a lovely poem about the king, for my tongue is like the pen of a skillful poet.

KEBENCIAN


KEBENCIAN

Dalam sebuah pelayanan doa, saya melihat seorang pria muda. Sekilas, fisik dan penampilannya baik-baik saja. Tetapi saat didoakan, dia menangis sampai badannya terbungkuk-bungkuk. Jelas terlihat betapa dia sangat ingin dibebaskan dari beban teramat berat yang selama ini dipikulnya. Apa itu? Kebencian!

Semua bermula dari sebuah peristiwa dengan seseorang yang sangat melukainya. Sejak itu tumbuh kebencian dalam hatinya. Dia mengira semua akan baik-baik saja. Dia menyangka lambat laun kebenciannya akan memudar seiring berjalannya waktu. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Semakin lama kebencian itu semakin besar dan berakar, sampai berubah menjadi kepahitan.

Saat pemuda itu tahu bahwa kebencian telah menghancurkan dirinya, dia memutuskan untuk mengampuni agar mendapat pembebasan dan kelegaan. Tetapi dia tak berdaya untuk melakukannya. Betapapun dia ingin mengampuni, dia tidak bisa! Pikirannya sadar bahwa dia harus mengampuni dan ia pun bersedia mengampuni, tetapi hatinya menolak. Kebencian telah mengubah hatinya menjadi pahit. Alangkah jahatnya sebuah kebencian. Tetapi syukur kepada Tuhan, pemuda itu datang ke tempat yang tepat, yaitu hadirat Allah yang sanggup membebaskannya.

 

Pada awalnya kita memang puas saat bisa melampiaskan kemarahan dan kebencian pada seseorang. Kita merasa bahwa orang itu memang pantas dibenci. Perbuatan dan perkataannya sangat menyakitkan. Orang itu mungkin seorang pengkhianat, penipu, pembohong, pencuri, pembual, dan sebagainya. Tetapi jika kita tidak segera mengambil keputusan untuk mengampuni, maka kebencian akan mendapat tempat untuk menancapkan akarnya dalam hati kita. Akhirnya kita sendirilah yang dirugikan.

 

MUSUH DALAM SELIMUT

Kebencian merampas sukacita, mencuri damai sejahtera, menghancurkan persahabatan, dan mencerai-beraikan keluarga. Banyak hal baik yang hilang saat hati kita dipenuhi kebencian.

Kebencian menjauhkan kita dari Tuhan.

Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. (1 Yohanes 4:20)

Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya. (1 Yohanes 3:15)

Kebencian adalah dosa! Kita tak bisa menghampiri hadirat Tuhan jika hati kita dipenuhi kebencian.

“Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.” (Matius 5:23-24)

Kebencian membuat doa kita terhalang.

“Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:1-2)

Kebencian merugikan diri sendiri.

“Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya.” (1 Yohanes 2:11)

 

KEBENCIAN SEPERTI MUSUH DALAM SELIMUT. Setiap hari kita hidup bersamanya dan akrab dengannya, namun diam-diam ia akan menghancurkan kita dari dalam. Musuh dari luar lebih mudah diwaspadai dan diperangi. Tetapi musuh yang berasal dari dalam sangat berbahaya! Karena itu jangan memberi tempat pada kebencian.

 

“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu  dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.

Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” (Efesus 4:26-27, 31)

 

KASIH SEMPURNA

DAUD punya alasan membenci orang tua dan saudara-saudaranya karena mereka sempat melupakannya saat Samuel datang untuk memilih dan mengurapi raja bagi Israel (1 Samuel 16:1-13). Daud juga punya alasan untuk benci dan dendam pada Saul yang terus memburu untuk membunuhnya, padahal ia tidak bersalah.

YUSUF juga memiliki alasan untuk benci dan dendam pada kakak-kakak yang telah mencelakai lalu menjualnya sebagai budak (Kejadian 37:18-28).

TETAPI Daud dan Yusuf adalah orang-orang yang memilih mengampuni saat mereka punya alasan membenci. Daud tidak membunuh Saul meski kesempatan terbuka lebar di hadapannya (1 Samuel 24:1-16). Yusuf justru menampung dan memelihara kakak-kakaknya yang meminta pertolongannya pada masa kelaparan (Kejadian 45-47). Daud dan Yusuf memilih mengasihi saat mereka punya kesempatan untuk membalas dendam. Dari mana kekuatan untuk melakukannya? Kasih Allah.

 

“Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.” (Ibrani 12:15)

“Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.” (Amsal 10:12)

 

Lawan dari kebencian adalah kasih. Bukan kasih manusia, tetapi kasih Allah yang sempurna yang bekerja di dalam kita. YESUS adalah teladan kasih yang sempurna. Yesus bisa menghukum dan mengutuk orang-orang yang menista dan menyiksa-Nya. Tetapi dalam kemahakuasaan-Nya untuk melakukan segalanya, Yesus memilih untuk berkata, “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34a) Itulah kasih Allah yang sempurna.

 

ROH KUDUS

Mengampuni memang tidak mudah. Tetapi mengampuni bukanlah sebuah pilihan, melainkan keharusan.

Mengampuni bukanlah sebuah pilihan, melainkan keharusan. Oh… tetapi sangat sulit. Ya, benar. Tetapi jika Tuhan memerintahkannya, maka Tuhan juga memberi kuasa bagi kita untuk melakukannya. Tuhan memberi ROH KUDUS sebagai PENOLONG yang ajaib bagi kita dalam segala keadaan. Tidak ada yang sanggup mengubah hati manusia selain Roh Kudus. Selama kita membuka hati dan mengijinkan-Nya, Roh Kudus akan menolong kita untuk mengasihi dan mengampuni jauh melebihi batas kesanggupan kita. Karena itu membangun hubungan terus-menerus dan intim dengan Roh Kudus sangat penting.

“Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena KASIH ALLAH TELAH DICURAHKAN DI DALAM HATI KITA OLEH ROH KUDUS yang telah dikaruniakan kepada kita.” (Roma 5:5)

Pada saat kita merasakan kemarahan dan sakit hati, segera berseru dan berserah pada Tuhan sebelum kebencian menjadi semakin dalam dan menumbuhkan akar pahit.

 

GAYA HIDUP MENGAMPUNI

Sampai kapan kita harus mengampuni? Sampai kita kembali ke rumah Bapa.

Petrus pernah bertanya pada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus menjawab, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Matius 18:21-22)

 

Inilah yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan:

“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” (Kolose 3:13)

“Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Matius 6:14-15)

Seperti halnya kita selalu memerlukan pengampunan dari Bapa tiap kali kita membuat kesalahan, demikian pula kita harus selalu mengampuni orang yang bersalah pada kita. Sebagai orang berdosa yang telah ditebus oleh Kristus dan menjadi anak-anak Bapa yang Mahakasih, mari jadikan mengampuni sebagai gaya hidup kita. Bukan dengan kekuatan kita, tetapi dengan kasih dan kuasa Roh Kudus.

“Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” (Efesus 4:31-32)

 

Kiranya Allah Bapa di Sorga melimpahkan kasih dan kemurahannya bagi kita sekalian, supaya kita dapat hidup selaras dengan firman-Nya. Kasih-Nya menyembuhkan dan memulihkan. Amin.

 

Oleh: Sella Irene – Beautiful Words

Posted in English: HATRED (click here)

Foto oleh : Sella Irene

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

translate this blog

Follow Beautiful Words on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,425 other followers

Archives

%d bloggers like this: