Beautiful Words

Beautiful words stir my heart. I will recite a lovely poem about the king, for my tongue is like the pen of a skillful poet.

HANYA KRISTUS


HANYA KRISTUS

Dunia tidak pernah bebas dari krisis. Krisis ekonomi, krisis sosial, krisis politik, krisis energi, dll. Beberapa bagian dampaknya langsung terasa di masyarakat, terutama yang menyangkut perekonomian. Saat dunia mengalami krisis, tak dapat dipungkiri bahwa banyak anak Tuhan yang juga terkena dampaknya.

Apapun profesinya, anak Tuhan juga turut merasakan naiknya harga di pasaran. Para karyawan Kristen juga bisa mengalami kehilangan pekerjaan, dan pengusaha Kristen bisa mengalami penurunan omset, bahkan bangkrut dan kehilangan aset.

Selama hidup di dunia, tak seorangpun kebal terhadap masalah. Tetapi apapun yang terjadi, kita percaya bahwa Yesus adalah Tuhan yang memegang kendali atas dunia ini. Tidak ada hal yang terjadi tanpa sepengetahuan dan seijin Tuhan. Begitu pula dengan hidup kita.

 

PAHIT ATAU MANIS

Ada dua reaksi yang muncul ketika anak Tuhan mengalami krisis. Kecewa terhadap Tuhan atau tidak, mengeluh atau bersyukur, menjadi apatis atau tetap percaya dan berharap pada Tuhan, menjauh dari Tuhan atau semakin mengasihi Tuhan, tidak bersemangat melayani Tuhan karena merasa bahwa pelayanan tak ada gunanya atau justru semakin giat, serta berbagai reaksi yang mencerminkan dua kondisi hati yang bertolak belakang: PAHIT atau MANIS.

Dalam situasi normal, apalagi dalam kelimpahan dan segalanya berjalan lancar, sangat mudah untuk bersyukur dan memuji Tuhan, “Tuhan, Kau sangat baik. Terimakasih. Aku mengasihi-Mu. Engkau sungguh luar biasa bagiku. Aku percaya kepada-Mu.” Itu reaksi wajar dan memang seharusnya. Tetapi jika sedang dalam situasi  sebaliknya, maka hati benar-benar diuji: apakah reaksi yang keluar tetap manis atau hati kita berubah menjadi pahit. Hal seperti ini tak bisa dibuat-buat. Pahit atau manis adalah respon yang timbul dari kedalaman hati yang dimurnikan melalui penderitaan.

“Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu.” (Amsal 27:19)

Seperti kekuatan dasar sebuah bangunan diuji oleh goncangan, demikian pula hati manusia. Saat semua yang berupa kesenangan, posisi, kemewahan, fasilitas, kebanggaan, dan segala sesuatu yang memberi kenyamanan bagi tubuh dan jiwa, tiba-tiba digoncang atau diijinkan Tuhan untuk diambil dari hidup kita, maka akan nampak sesungguhnya atas dasar apa kita membangun kehidupan selama ini. Jika dasarnya adalah Kristus, maka akan tetap teguh. Tetapi jika kita meletakkan rasa aman dan bahagia pada semua kenyamanan hidup, maka ketika krisis ekonomi melanda dan segala sesuatu tak berjalan sebagus biasanya, maka iman kita turut terguncang.

 

KRISTUS PLUS ATAU KRISTUS SAJA

Mari melihat perjalanan bangsa Israel. Dengan keperkasaan Tuhan mengeluarkan Israel dari Mesir. Mereka yang semula berstatus budak, keluar dari Mesir dengan kaya raya karena Tuhan. “Dan Aku akan membuat orang Mesir bermurah hati terhadap bangsa ini, sehingga, apabila kamu pergi, kamu tidak pergi dengan tangan hampa…….”  (Keluaran 3:21-22)

Tak hanya membekali dengan harta benda, Tuhan juga selalu memelihara sehingga mereka tak kelaparan dan kehausan meski berada di padang gurun. Makanan mereka selalu fresh setiap hari. Batu karang pun dibuat mengeluarkan air oleh Tuhan (Keluaran 17:6). Tuhan menyediakan apapun yang Israel butuhkan. “Empat puluh tahun lamanya Aku memimpin kamu berjalan melalui padang gurun; pakaianmu tidak menjadi rusak di tubuhmu, dan kasutmu tidak menjadi rusak di kakimu.” (Ulangan 29:5)  Tuhan melindungi dan memelihara mereka dengan sempurna.

Bukan hanya bertindak sebagai Tuhan yang menyediakan kebutuhan mereka, Tuhan sendiri yang menyertai mereka di sepanjang perjalanan. “TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam.” (Keluaran 13:21)

Ternyata semua itu belum cukup bagi bangsa Israel. Mereka selalu bereaksi pahit setiap kali menghadapi ketidaknyamanan. Marah, komplain, mengeluh, adalah hal yang sehari-hari harus dihadapi oleh Musa sejak langkah pertama memimpin Israel keluar dari Mesir.

Saat Musa mengajak Israel keluar dari Mesir, Israel dengan sukarela mengikuti Musa karena tahu akan menuju tanah perjanjian yang berlimpah susu dan madu, tempat mereka akan hidup sebagai orang merdeka dan berkelimpahan. Namun ketika menghadapi kesulitan dalam perjalanan, mereka mulai berguguran. Beberapa kali mereka jatuh dalam dosa penyembahan berhala dan memberontak terhadap Tuhan. Pandangan mereka tidak tertuju pada tanah perjanjian, tapi justru kepada kenikmatan Mesir yang telah mereka tinggalkan.

Mereka komplain dan marah dengan Tuhan karena hal-hal seputar kenyamanan hidup: “Siapakah yang akan memberi kita makan daging? Kita teringat kepada ikan yang kita makan di Mesir dengan tidak bayar apa-apa, kepada mentimun dan semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih. Tetapi sekarang kita kurus kering, tidak ada sesuatu apa pun, kecuali manna ini saja yang kita lihat.” (Bilangan 11:4-6)

Mereka hanya melihat segala kesukaran yang mereka lalui dalam perjalanan, tanpa mengingat dan mensyukuri perbuatan dan kebaikan Tuhan. Bahkan, mereka tidak menghormati Tuhan yang telah menyertai mereka, seakan kehadiran Tuhan saja tidak cukup!

 

Bagaimana dengan manusia pada masa kini? Manusia modern mungkin tidak membuat patung dan menyembahnya, tetapi banyak orang memuja kemewahan, jabatan, popularitas, dan sebagainya. Bahkan, banyak orang Kristen yang kehilangan imannya ketika kehilangan kekayaannya atau apapun yang dianggapnya berharga.

Seorang teman saya telah meninggalkan Tuhan karena jodoh yang dimintanya tak kunjung datang. Saudara seiman lain tak mau beribadah pada Tuhan lagi karena istri yang didoakannya bukannya sembuh tetapi malah dipanggil Tuhan pulang ke rumah Bapa. Seorang lainnya tetap rutin ke gereja tetapi imannya tidak murni lagi karena ia telah pergi ke tempat penyembahan berhala tertentu untuk memperoleh kekayaan. Sungguh sedih mendengar semua itu.

 

Sebenarnya apa yang kita cari di dunia ini?

Apa yang paling berharga buat kita?

Apakah Kristus saja cukup bagi kita atau Kristus plus berkat-Nya, Kristus plus mujizat-Nya, dll?

Bagaimana jika “plus-plus” itu tidak ada? Apakah iman kita akan tetap teguh seperti Habakuk?

“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” (Habakuk 3:17-18)

 

Saya tahu bahwa menulis tentang hal ini lebih mudah dibanding menjalaninya. Saat ini saya sedang menghadapi persoalan dan menanti pertolongan Bapa. Kapan tepatnya pertolongan itu akan datang, saya tak tahu. Saya harus sabar dan tetap bersukacita karena Tuhan. Mudah dikatakan, tidak terlalu mudah untuk dijalani. Tapi saya yakin pertolongan itu pasti datang! Saya hanya bisa berdoa, berusaha hidup lebih sungguh-sungguh, dan bertekun dalam pengharapan, sambil mengerjakan bagian saya dengan setia.

 

Kristus memang menjanjikan segalanya bagi kita: jadi kepala dan bukan ekor, terus naik dan tidak turun, diberkati berkelimpahan, dll. Tetapi, bagaimana jika untuk sesaat kita diijinkan mengalami penurunan seperti Yusuf? Bagaimana jika untuk sesaat harta kita diijinkan diambil seperti Ayub? Bagaimana jika sudah sepenuhnya hidup bagi Injil tapi harus mengalami penderitaan seperti Paulus yang acap kali menderita kelaparan, karam kapal, dipenjara, dll? (2 Korintus 11:23-29)

Apakah Kristus yang kita miliki lebih dari cukup, atau kita rela menukar-Nya dengan kenikmatan yang kita dambakan?

Apakah kasih Kristus lebih dari cukup dibanding segalanya, sehingga kita bisa berkata seperti rasul Paulus:

“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 8:35, 38-39)

 

WARISAN KEKAL

“Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” (Mazmur 73:25-26)

Dunia bukan pelabuhan terakhir kita. Tujuan kita sesungguhnya adalah Sorga. Hidup di dunia ini hanyalah sebuah perjalanan yang harus dilalui sebelum mencapai kekekalan. Seharusnya fokus kita adalah Sorga. Tetapi seringkali energi dan perhatian kita tersita hanya untuk mengurusi segala dinamika dalam perjalanan ini. Sungguh sedih karena banyak anak Tuhan yang gugur imannya saat menemui persoalan dalam perjalanan, kemudian memutuskan meninggalkan Tuhan.

Mungkin saat ini Anda juga sedang dalam persoalan. Mari bersama-sama menguatkan iman dan pengharapan pada Kristus. Janji Tuhan itu ya dan amin. Tuhan pasti menolong, bahkan pertolongan-Nya lebih hebat dan dahsyat dari yang kita harapkan. Saya percaya! Itu akan terjadi pada Anda juga, percayalah! Jangan ijinkan persoalan di dunia yang fana ini merampas warisan kekal kita.

“Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau.” (Yesaya 54:10)

 

Kita telah dipanggil dan dipilih-Nya. Bukankah itu sangat istimewa?! Jangan sia-siakan. Mari saudaraku dalam Kristus, kita mungkin tidak saling berjumpa di dunia ini. Tetapi jika kita setia sampai akhir, kita akan berjumpa di rumah kekal kita, di Sorga, bersama warisan abadi kita, Kristus yang mulia. Amin.

 

Christ is enough for me, Christ is enough for me.

Everything I need is in You, everything I need.

 

I have decided to follow Jesus.

No turning back… No turning back!!!

 

The Cross before me, the world behind me

No turning back… No turning back!!!

Hillsong Live – Christ Is Enough – Live Acoustic (click here)

 

Oleh: Sella Irene – Beautiful Words

Posted in English : CHRIST IS ENOUGH on karinasussanto.wordpress.com

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

translate this blog

Follow Beautiful Words on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,425 other followers

Archives

%d bloggers like this: