Beautiful Words

Beautiful words stir my heart. I will recite a lovely poem about the king, for my tongue is like the pen of a skillful poet.

SUARA GEMBALA


SUARA GEMBALA

TUHAN mengguntur di langit, Yang Mahatinggi memperdengarkan suara-Nya.

Ia menyampaikan firman-Nya, lalu mencairkan semuanya.

Ia meniupkan angin-Nya, maka air mengalir.

Ia menyampaikan perintah-Nya ke bumi; dengan segera firman-Nya berlari!

 

Perhatikanlah…!

Ia memperdengarkan suara-Nya, suara-Nya yang dahsyat!

 

TUHAN mengaum dari Sion.

Dari Yerusalem Ia memperdengarkan suara-Nya;

Maka keringlah padang-padang penggembalaan, langit dan bumi bergoncang, dan layulah puncak gunung Karmel.

 

Suara TUHAN penuh kekuatan, suara TUHAN penuh semarak.

Suara TUHAN mematahkan pohon aras,

Ia membuat gunung Libanon melompat-lompat seperti anak lembu, dan gunung Siryon seperti anak banteng.

 

Suara TUHAN menyemburkan nyala api.

Ia membuat padang gurun gemetar, dan membuat beranak rusa betina yang mengandung.

 

 

Ketika Yang Maha Kuasa mengangkat suara-Nya,

Segala ciptaan sujud menyembah.

 

“Hai kawanan domba….dengarkan dan ikutilah suara Sang Gembala.”

 

“BERIKAN SEMUANYA!”

 

Satu kali Allah berfirman, dua hal yang aku dengar: bahwa kuasa dari Allah asalnya, dan dari pada-Mu juga kasih setia, ya Tuhan; sebab Engkau membalas setiap orang menurut perbuatannya. (Mazmur 62:11-12 / Mazmur 62:12-13)

 

Lebih dari enam tahun lalu, entah tepatnya mulai kapan dan apa penyebabnya, saya mengalami alergi perbedaan suhu. Saat tubuh saya terpapar perubahan suhu ruang, misalnya berpindah dari udara luar yang panas ke dalam ruangan ber-AC atau sebaliknya, maka kulit saya akan gatal-gatal. Memang tidak selalu, tetapi cukup sering. Dan itu sangat mengganggu. Bahkan gatal itu bisa timbul hanya karena hal sepele, misalnya ketika saya terbangun di tengah malam untuk buang air kecil yang mengharuskan saya melepas selimut dan bangkit dari tempat tidur untuk ke toilet. Perubahan suhu seperti itu bisa membuat alergi saya kambuh. Akhirnya hampir setiap hari saya meminum obat anti alergi. Bertahun-tahun saya mengkonsumsi obat tersebut, hingga obat itu menjadi seperti kebutuhan utama yang harus selalu tersedia dalam tas kapanpun dan kemanapun saya pergi.

Suatu siang, seorang teman yang mungkin telah salah makan sesuatu, tiba-tiba tubuh dan mukanya gatal-gatal dan bentol-bentol. Lalu saya menawarkan obat anti alergi saya padanya. Gatal-gatalnya berkurang setelah dia meminumnya. Karena dia tahu saya masih memilikinya, dia meminta satu pil lagi untuk diminumnya nanti. Tentu saya tak keberatan. Dengan segera saya membuka tas dan mengeluarkan obat itu.

Tetapi tepat ketika saya hendak menggunting kemasannya untuk mengambil satu pil yang akan saya berikan padanya, terdengar sangat jelas sebuah kalimat lugas dan tegas dalam hati saya: “Berikan semuanya!” Saya tertegun. Seketika tangan saya terhenti sambil memegang gunting. Roh saya menangkap bahwa itu adalah suara Tuhan yang sedang berbicara dalam hati saya. Saya berpikir cepat, “Bagaimana kalau saya berikan setengah dari jumlah pil yang ada? Atau bolehkah jika saya menyisakan satu atau dua pil saja bagi diri saya? Bukan masalah harganya, tapi obat itu kebutuhan saya. Bagaimana jika nanti malam saya gatal-gatal dan tak bisa tidur?” Bagaikan kilat, berkelebat satu kalimat lagi dalam hati saya: “Kamu mempercayaiKu??” Semua percakapan itu hanya berlangsung beberapa detik saja. Dengan dua kalimat sejelas itu, sungguh bodoh jika saya membantah. Saya memang tak mendengarnya secara audible, tetapi hati dan roh saya menangkapnya dengan sangat jelas. Tanpa berpikir lagi, segera saya memberikan semua obat itu pada teman saya.

Dalam perjalanan pulang, saya menceritakan pengalaman itu pada suami saya. Saya bersyukur memiliki suami yang bersungguh hati terhadap Tuhan dan mendukung saya. Dia mendorong agar saya percaya bahwa Tuhan hendak melakukan mujizat dan menyembuhkan saya. Kami pun bersepakat untuk mempercayai Tuhan, dan langsung pulang tanpa membeli obat itu lagi.

Peristiwa itu terjadi sekitar dua setengah tahun lalu. Sejak hari itu, entah bagaimana, gatal-gatal itu tak pernah datang lagi hingga kini! Saya tahu Bapa di Sorga telah menyembuhkan saya. Tuhan telah berinisiatif menyembuhkan saya dengan meminta saya melakukan satu tindakan iman, yaitu memberikan seluruh obat saya. Dan sebagai jawaban atas respon ketaatan saya, Tuhan mengangkat penyakit saya. Tuhan yang memerintahkannya, Tuhan pula yang bertanggung jawab menyelesaikannya. Syukurlah saat itu saya mendengar dan mengenali suaraNya, lalu  segera belajar taat dan mempercayaiNya. Seandainya saya tak mendengarkan dan tak mengenali suara Gembala Agung saya, atau seandainya saya mendengar dan mengenali suaraNya tetapi tidak mentaatinya….maka saya akan kehilangan kesempatan untuk menerima mujizatNya saat itu!

DENGAR DAN LAKUKAN

KETAATAN BERARTI SEGERA MELAKUKAN DALAM KESEPAKATAN DAN TIDAK BERBANTAH DENGAN TUHAN.

 

Alkitab mencatat berbagai mujizat dan keajaiban yang dilakukan Tuhan. Banyak yang terjadi seketika tanpa peranan si penerima mujizat. “Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. (Lukas 4:40)

 

Tetapi banyak pula yang harus didahului dengan tindakan ketaatan:

 

Sepuluh orang kusta mengalami kesembuhan karena mentaati perintah Yesus untuk memperlihatkan diri mereka pada para imam. Di tengah perjalanan, mujizat terjadi! Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir.  (Lukas 17:14)

 

Naaman, seorang panglima raja Aram yang menderita kusta, datang kepada Elisa. Elisa menyuruh seorang suruhan kepadanya mengatakan: “Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir.” (2 Raja-raja 5:10)  Meski sebelumnya dia tersinggung dan marah karena perintah Elisa, namun akhirnya Naaman melakukannya. Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir. (2 Raja-raja 5:14)

 

Simon telah bekerja keras menjala ikan semalaman, namun tak mendapatkan hasil. Saat ia kembali ke pantai, Yesus naik ke perahunya lalu duduk dan mulai mengajar orang banyak yang mengerumuniNya. Selesai mengajar, Yesus memerintahkan Simon untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jalanya. Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. (Lukas 5:5-6) Sejak itu Simon  mengikut Yesus dan menjadi muridNya, dan kemudian Yesus memberinya nama: Petrus.

 

Menjaga hati tetap kudus dan murni adalah kunci untuk mendengar suara Tuhan dengan jelasSangat banyak contoh dalam Alkitab tentang orang-orang yang menerima mujizat karena melakukan perintah Tuhan. Karena itu, sangat penting untuk memiliki kepekaan mendengar suara Tuhan. Tuhan memiliki banyak cara untuk berbicara pada kita. Melalui ayat yang kita baca tiap hari,  melalui nubuat, khotbah hamba Tuhan, peristiwa spesifik, bahkan melalui berbagai hal sederhana sehari-hari, dan lain-lain. Batasannya sangat jelas: Tuhan pasti tidak akan memberi perintah yang bertentangan dengan firmanNya.

Dalam pergumulan dan doa, kadang kita menunggu-nunggu sebuah jawaban yang mungkin sesungguhnya telah tersedia di hadapan kita, tetapi kita tidak merespon apa-apa. Mungkin kita TIDAK MENDENGAR saat Tuhan berbicara, karena kita terlalu sibuk berpikir dan berkeluh kesah. Mungkin sesungguhnya kita mendengar suara Tuhan, tapi kita TIDAK MENGENALI suaraNya. Kita bimbang apakah itu suara Tuhan atau suara kita sendiri. Mungkin pula…..kita tahu bahwa Tuhan telah berfirman, tetapi kita RAGU DAN TERLALU TAKUT untuk melangkah!

 

MEMBANGUN HUBUNGAN

 

Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. (Mazmur 23:1)

 

Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaan-Nya dan kawanan domba tuntunan tangan-Nya. Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! (Mazmur 95:7)

 

Tuhan adalah Gembala yang baik. Kemana pun Gembala membawa kita, semata-mata adalah untuk memberikan penyediaan dan perlindungan terbaik. Bila kita membaca seluruh Mazmur 23, secara jelas tertulis bahwa Sang Gembala selalu memelihara dan membimbing ke tempat yang tenang. Gembala selalu melindungi sehingga kita akan aman walau di lembah kekelaman. Bukan hanya itu, Gembala juga akan membawa kita selamat sampai ke rumah Bapa.

Agar dapat mengikut pimpinanNya, kita harus peka dan mengenali suara Sang Gembala. “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku,” (Yohanes 10:27) Bagaimana agar kita mendengar dan mengenali suara Gembala kita? Melalui membangun hubungan denganNya. Sama seperti membangun hubungan dengan seseorang, semakin kita erat dengan orang itu maka kita akan semakin mengenal pribadinya. Kita tahu kebiasaan, sifat, dan cara bicaranya. Kita mengenali suaranya saat dia memanggil atau menelepon. Bahkan jika semakin intens berinteraksi, maka hanya dengan ekspresi tertentu dan tanpa kata-kata pun, kita bisa menangkap isi hatinya. Demikian pula dalam membangun hubungan dengan Tuhan. Jika kita terus menerus menyembah, berdoa, membaca, merenungkan, dan melakukan firman, maka kita akan semakin dewasa rohani dan mengenal Tuhan. Itu berarti semakin mudah bagi kita untuk mendengar dan mengenali suara Gembala kita serta mentaatiNya.

TANPA HUBUNGAN, TAK ADA KEPERCAYAAN.  TANPA KEPERCAYAAN, TAK ADA KETAATAN

 

Membangun sebuah hubungan selalu memerlukan komitmen dan waktu. Tuhan Yesus pun memiliki komitmen dan waktu untuk bersekutu dengan Bapa di sorga setiap hari.  “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” (Markus 1:35)

 

Jika Yesus saja merasa bahwa bersekutu dengan Bapa sangat penting, terlebih lagi bagi kita. Kita sangat membutuhkannya!

Hari ini… Bagaimanapun keadaan kita, dan apapun jawaban doa yang sedang kita tunggu….. Jika mendengar suara Gembala Agung kita, segera ikuti tuntunanNya. Mari taat dan melakukan apa yang difirmankanNya. Maka kuasa firman itu akan bekerja dalam kita dan mengubah hidup kita. MujizatNya pasti terjadi!

Pujilah TUHAN, hai malaikat-malaikat-Nya, hai pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firman-Nya dengan mendengarkan suara firman-Nya. (Mazmur 103:20)

 

 

AMIN

Oleh: Sella Irene – Beautiful Words

Original posted in English Karina’s Thought: THE VOICE OF THE SHEPHERD (click here)

Foto oleh: Sella Irene

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

translate this blog

Follow Beautiful Words on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,425 other followers

Archives

%d bloggers like this: