Beautiful Words

Beautiful words stir my heart. I will recite a lovely poem about the king, for my tongue is like the pen of a skillful poet.

JANGAN TUNGGU ALARM BERBUNYI


Jangan tunggu ALARM berbunyi!“Dulu, saya adalah seorang ketua persekutuan doa di sekolah.”

“Dulu, saya adalah pemimpin paduan suara gereja”

“Dulu, saya adalah pelopor kegerakan doa di kampus.”

“Dulu, sayalah yang membimbing si A untuk percaya dan menerima Yesus”

“Dulu, setiap minggu saya mengajar di kelas pengajaran Alkitab.

“Dulu… Dulu… Dulu…..”

 

Pernahkah Anda mendengar kalimat semacam itu dari seseorang yang dengan semangat dan bangga bercerita tentang pengalamannya bersama Tuhan pada masa lalu? Dulu…. Sekian tahun lalu, belasan tahun lalu, puluhan tahun lalu! Tapi sekarang… ???

MELIHAT DIRI SENDIRI

Beberapa waktu lalu saya berbincang dengan seseorang yang menurut saya bukanlah seorang Kristen yang berapi-api di dalam Tuhan. Perlu usaha keras dan doa hanya untuk mengajaknya hadir dalam ibadah hari Minggu. Namun, saya terkejut ketika dalam sebuah percakapan dia bercerita bahwa dia dulu melayani sebagai singer di gereja selama bertahun-tahun dan rajin mengikuti kelas pengajaran Alkitab. Seakan mendengar alarm (tanda peringatan) berbunyi di hati saya…seketika saya melihat ke dalam diri saya yang hingga hari ini telah lebih dari dua puluh tahun aktif melayani sebagai volunteer pada salah satu departemen pelayanan di gereja. Saya merenungkan, bagaimanakah kerohanian saya dalam rentang waktu sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang? Akankah gairah saya terhadap Tuhan akan memudar sama seperti dia….???

NYALA API YANG MEREDUP

Banyak orang Kristen telah puluhan tahun mengikut Tuhan dan rajin melayani pekerjaan Tuhan, namun seiring pertambahan usia ternyata gairah untuk mengenal Tuhan justru semakin berkurang. Mereka menjadi orang Kristen yang tak lagi menempatkan Tuhan Yesus sebagai yang terutama, bahkan tak lagi menganggap ibadah minggu sebagai sesuatu yang penting dan dibutuhkan. Tanpa terasa, telah bertahun-tahun lamanya posisi Tuhan tergantikan oleh berbagai kesibukan dalam karir dan bisnis, kepentingan keluarga, serta segala kenyamanan dan kesenangan hidup. Sungguh mengherankan saat mengetahui bahwa dulunya mereka adalah orang-orang Kristen yang dengan semangat membara melayani Tuhan, bahkan aktif memberitakan Injil secara pribadi. Kemanakah cinta mula-mula yang dahulu menggerakkan mereka untuk menerjang berbagai rintangan demi bersekutu dengan Tuhan dan melayani Tuhan dalam kesukaan?! Tak mungkin api cinta yang oleh raja Daud diungkapkan  dalam Mazmur 69:10a, dengan kalimat, “Sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku…”, bisa meredup dengan tiba-tiba!

TITIK BALIK

Perubahan seperti itu pasti tidak serta merta terjadi. Apapun atau kapanpun titik baliknya, pasti ada sebuah proses yang disadari atau tidak, telah berlangsung sekian lama. Bisa saja itu berupa peristiwa menyedihkan, kekecewaan dan sakit hati yang mendalam, berbagai aktifitas dan kesibukan dalam pekerjaan dan bisnis, atau berbagai kesenangan yang memikat perhatian kita lebih dari pada bersekutu dengan Tuhan. Jika semua hal itu tidak segera dibereskan dengan tuntas bersama Tuhan, maka cepat atau lambat semua itu akan menggerus kasih, iman, dan komitmen dengan Tuhan. Akhirnya, tanpa disadari posisi Tuhan sebagai yang terutama telah bergeser dan ujungnya mereka terjebak dalam kesuaman. Mereka masih disebut sebagai orang Kristen, tapi telah kehilangan persekutuan pribadi yang intim dengan Tuhan Yesus Kristus. Tapi sadarkah kita bahwa di antara semua hal yang bisa kita sebutkan sebagai penyebab mundurnya kerohanian, bahaya yang paling tidak kita sadari dapat menjauhkan kita dari Tuhan adalah aktifitas pelayanan itu sendiri!!!

MEMILIH BAGIAN TERBAIK

Saat kita lebih mengutamakan pelayanan dibanding membangun hubungan pribadi dengan Tuhan yang kita layani, itu tandanya bahwa kita harus segera berhenti dari segala aktifitas dan mulai duduk diam di kakiNya.

Duduk di kaki Yesus

Kita cukup sering mendengar tentang Marta dan Maria dalam Lukas 10:38-42. Marta adalah seorang tuan rumah yang baik. Dia melakukan pelayanannya dengan giat untuk menyiapkan segala kebutuhan Yesus dan murid-muridNya di rumahnya. Mungkin dia sibuk menyiapkan makanan, minuman, dan menata rumah agar nyaman bagi Yesus dan orang-orang yang berkumpul untuk mendengar pengajaranNya. Marta selalu memikirkan, mengatur, dan menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan agar “ibadah” berjalan lancar, teratur, hingga semua yang hadir diberkati dan dilayani dengan baik. Karena itu peranan Marta sangat penting. Tetapi kita juga tahu bahwa Yesus berkata, “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (ayat 41-42)

Ternyata, sibuk melayani pekerjaan Tuhan tidak selalu merupakan pilihan terbaik yang menyenangkan hati Tuhan.

Ternyata, ada saatnya hanya duduk diam di kaki Tuhan itu jauh lebih baik dari pada melakukan aktifitas pelayanan.

Ternyata, memiliki hati yang haus dan lapar untuk bersekutu dan membangun hubungan pribadi dengan Tuhan itu jauh lebih berkenan di hadapan Tuhan dibanding segudang kegiatan pelayanan.

ALARM

“Hai semua pelayan Tuhan, termasuk saya, di manakah posisi hati kita saat ini?”

“Apakah dalam setiap pelayanan yang kita lakukan, hati kita masih dipenuhi gairah dan kasih kepada Tuhan yang kita layani?”

“Apakah saat-saat intim dengan Tuhan dalam doa dan firmanNya masih menjadi saat yang kita nanti-nantikan dengan antusias lebih dari saat kita melayani pekerjaan Tuhan?”

Jika jawabannya adalah “tidak” atau “biasa saja”, berarti alarm telah berbunyi bagi kita. Hati-hati, kehidupan rohani kita sedang dalam kondisi yang berbahaya! Berarti sudah tiba saatnya untuk membenahi diri dan membangun kembali mezbah Tuhan dalam hidup kita dan kembali pada kasih mula-mula kepada Tuhan.

Lihatlah jemaat Efesus… Mereka adalah jemaat yang giat dan tekun dalam segala pelayanan mereka. Tetapi meski Tuhan mengetahui segala jerih payah mereka, Tuhan menegur mereka, “Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu…Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh!” (Wahyu 2:2-5a)

Secara fisik jemaat Efesus masih aktif dan bersemangat melakukan tugas pelayanan dan ibadah mereka, tetapi sesungguhnya hati mereka telah menjauh dari Tuhan. Kalau begitu, bisakah kita mengerjakan tugas pelayanan sementara hati kita sudah jauh dari Tuhan? BISA!

PROFESIONALISME YANG BERBAHAYA

Semakin dewasa dalam usia dan kepribadian ditambah dengan semakin banyaknya pengalaman, seorang pelayan Tuhan pasti semakin matang dalam pelayanannya. Seorang pelayan Tuhan yang baik pasti memahami arti mengerjakan sebuah pelayanan dengan penuh tanggung jawab, tepat waktu, rapih, dan hasil yang memuaskan. Mereka bisa mengatur waktu dengan tertib, bisa bekerjasama dengan tim, bahkan bisa dipercayai tanggung jawab yang semakin lama semakin besar. Atau dengan kata lain, menjadi pelayan Tuhan yang profesional! Seorang pelayan Tuhan yang profesional bisa melayani pekerjaan Tuhan dengan baik meski tak ada kehidupan rohani di dalamnya. Ini adalah profesionalisme yang berbahaya karena dapat menipu diri sendiri dan orang lain. Kita mengira rohani kita baik-baik saja, padahal sesungguhnya tidak.

Sama sekali tidak ada yang salah dengan profesionalisme dalam pelayanan. Justru harus! Jika dalam dunia kerja kita harus bertindak profesional, dalam pelayanan kita juga harus profesional. Tetapi profesionalisme tanpa kasih tak ada gunanya! Sehebat apapun yang kita lakukan: dapat berbahasa malaikat, bernubuat, memiliki iman sempurna untuk memindahkan gunung, bahkan menyerahkan diri untuk dibakar…tetapi tanpa kasih, semua itu tidak berguna! (I Korintus 13:1-3)

Sekali lagi, mari lihat ke dalam diri sendiri. Masih adakah kasih yang hidup dan bergelora dalam hati kita?” Jika jawabannya adalah “tidak” atau “biasa saja”, berarti alarm telah sejak lama berbunyi tapi kita mengabaikannya.

KEMBALI PADA KASIH MULA-MULA

Lalu, apakah yang harus kita lakukan sekarang?

Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.” (Wahyu 2:5b)

Apakah yang semula kita lakukan saat kita jatuh cinta dengan Tuhan? Selalu haus dan lapar untuk bersekutu erat dengan Tuhan dan melakukan segalanya dengan kasih yang meluap-luap kepada Tuhan.

Jangan tunggu alarm berbunyi! Tetapi marilah kita senantiasa membangun hubungan yang intim dengan Tuhan. Tuhan adalah kasih, hanya melalui persekutuan dengan Tuhan maka kita akan dipenuhi oleh kasih. Jika hidup kita melimpah dengan kasih Allah, maka kasih itu akan mengalir saat kita melayani. Dengan demikian, pelayanan kita bukan hanya semakin berkualitas, tetapi juga memiliki kuasa yang mengubahkan hidup, serta berkenan dan menyenangkan hati Tuhan.

BEBERAPA TAHUN YANG AKAN DATANG

Kita tak tahu batas umur kita. Tetapi jika Tuhan mengijinkan kita hidup dan melayani Dia hingga beberapa tahun yang akan datang, belasan atau bahkan puluhan tahun yang akan datang… Saya berharap…orang-orang yang melayani Tuhan bersama kita hari ini, dapat kita jumpai dalam keadaan rohani yang semakin berapi-api, dewasa, dan setia dalam panggilan mereka. Mungkin mereka tak lagi seaktif dulu dan tak lagi melayani pekerjaan Tuhan dalam bidang yang sama karena keterbatasan usia dan tenaga, tetapi api cinta mereka pada Tuhan semakin membara sampai akhir!

YANG TERPENTING BUKANLAH APA DAN SEBERAPA BANYAK YANG TELAH KITA KERJAKAN, TETAPI APAKAH KITA MELAKUKANNYA ATAS DASAR KASIH.

“Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.” (2 Petrus 1:10)

AMIN

Posted in ENGLISH: DON’T WAIT UNTIL THE ALARM SOUNDED (click here)

Oleh : Sella Irene – Beautiful Words

Foto oleh: Sella Irene

Advertisements

One comment on “JANGAN TUNGGU ALARM BERBUNYI

  1. Pingback: DON’T WAIT UNTIL THE ALARM SOUNDED | BeautifulWords

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

translate this blog

Follow Beautiful Words on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,423 other followers

Archives

%d bloggers like this: