Beautiful Words

Beautiful words stir my heart. I will recite a lovely poem about the king, for my tongue is like the pen of a skillful poet.

“YA, SAYA BERSEDIA” (Posted in English : “Yes, I do”)


Ya, saya bersedia“Bapa di Surga, terimakasih karena Engkau menempatkan aku sebagai penolong di sisinya hingga nanti. Terimakasih karena Kau memuaskan hatiku dengan cintaMu melalui cintanya“

DUA MENJADI SATU

Sabtu, 8 Desember 2001. Tuhan menjawab kerinduan hati saya untuk menikah pada usia tak lebih dari 30 tahun. Siang itu… tepat 24 hari sebelum ulang tahun saya ke 30, dengan gaun putih mengembang dan serangkaian bunga stephanot putih dalam genggaman, saya berdiri berhadapan dengan seorang pria pilihan Tuhan yang saya cintai dan mencintai saya. Sambil saling menatap dari balik cadar transparan yang menutupi wajah saya, terucap janji pernikahan sederhana tapi bermakna dalam: Berjanji tetap saling mengasihi dalam suka dan duka, sehat maupun sakit, kelimpahan maupun kekurangan. Berjanji bahwa saya akan tetap menjadi penolong setia, tunduk, menghargai, dan mengasihi dia sama seperti jemaat tunduk dan mengasihi Kristus. Dan bahwa dia akan tetap mengasihi saya seperti Kristus mengasihi jemaatNya.

Itu adalah janji pernikahan yang telah dibaca dan diucapkan oleh ratusan, bahkan ribuan pasangan. Tapi siang itu, janji nikah itu menjadi milik kami berdua. Sebuah janji suci yang kami ikrarkan bukan hanya di hadapan manusia yang suatu saat bisa melupakannya. Sesungguhnya, kami sedang mengikat janji dengan Tuhan Allah sendiri!

Ketika bapak Gembala bertanya, “Apa jawabmu ?”, satu persatu kami berucap “Ya, saya bersedia”. Sebuah kalimat singkat yang mengikat kami untuk selamanya. Dengan disaksikan seluruh keluarga, bapak Gembala melepaskan urapan dan doa berkat pernikahan atas kami. Seiring kata “Amin” yang terucap, maka kami telah sah sebagai suami istri dihadapan Allah dan manusia, untuk selamanya.

Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. (Matius 19:6)

DUA MENJADI SATUHari ini. Senin, 8 Desember 2014, tepat 13 tahun sejak janji nikah itu diucapkan, 4748 hari telah kami lalui berdua. Dalam anugerah Tuhan, hari demi hari kami menghidupi janji nikah itu. Kalimat “Ya, saya bersedia” yang dulu pernah terucap di bibir kami, selalu terajut dalam kebersamaan sepanjang waktu dalam kondisi apapun. Tak selalu dalam pesta pora dan gelak tawa. Ada saatnya beban hidup menjadi berat. Itulah realita. Tak ada kehidupan tanpa persoalan. Tapi saat dalam tekanan itulah komitmeni diuji. Bukan untuk dihancurkan, tetapi justru semakin diperkuat.

TIGA MENJADI SATU

Jika mengingat kembali 20 tahun lalu saat kami mengawali kebersamaan sebagai sepasang kekasih, satu hal yang selalu kami lakukan tiap hari adalah saling mendoakan. Hal indah itu berlangsung hingga kini. Bahkan jika salah satu dari kami harus ke kota lain karena sebuah urusan penting dan harus menginap, kami selalu doa pagi dan malam bersama meski hanya lewat telepon. Tak ada satu hari pun terlewat tanpa doa bersama dan saling mendoakan.

Doa dan persekutuan dengan Tuhan adalah kunci membangun sebuah komitmen. Kita boleh saja mencari dan menerapkan resep apapun untuk membangun hubungan yang sukses. Itu baik. Tetapi siapa yang menjamin akan berhasil selamanya?! Tak ada. Mengapa? Karena kekuatan dan hikmat manusia ada batasnya.

Jangan membangun komitmen di atas dasar fisik, pikiran dan perasaan.
Keindahan fisik akan memudar, mood bisa naik turun, gairah akan lenyap, cinta akan terkikis.
Batapa rapuhnya jika membangun komitmen di atas semua itu.

Dasar yang benar dan kuat dalam membangun komitmen hanyalah dengan meletakkan komitmen itu di dalam tangan Tuhan yang kekal. Tuhan yang akan menuntun, menguatkan, dan memperbaharui kasih kita dengan kasihNya yang selalu baru setiap pagi. Komitmen yang di bangun di atas dasar Firman, bukan lagi komitmen dua manusia, tetapi ada pribadi Allah di dalamnya.

Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan. (Pengkhotbah 4:12)

Tuhan memiliki rencana indah dalam pernikahanTuhan memiliki rencana indah dalam setiap pernikahan. Tak peduli bagaimana Anda dahulu memulainya, yang penting adalah pastikan bahwa sekarang pernikahan Anda berada di tanganNya. Jalan panjang masih terbentang. Tetapi apapun yang ada di depan sana, Tuhan juga sudah ada di sana. Selama kita berjalan bersama Tuhan, selalu belajar hidup dalam takut akan Tuhan, dan menyerahkan diri untuk dipimpin oleh Tuhan, percayalah bahwa rajutan kasih yang kita bangun dalam janji nikah yang kudus akan semakin kuat. Bukan oleh kekuatan kita sendiri, tetapi oleh kekuatan Allah, dan dalam anugerah Allah.

BENANG EMAS

 

Di tangan kita
Tergenggam segulung benang emas
Bukan untuk merajut kisah seorang diri
Tetapi dua menjadi satu

Janji suci di depan altar
Adalah simpul pertama benang emas kita
Setiap satu langkah maju… Satu rajutan mulai terjalin
Menjadi jubah indah di saat pesta
Menjadi selimut penghangat di musim dingin
Dan menjadi saputangan penyeka air mata di kala susah

Tak ada lagi mimpiku dan mimpimu
Yang ada adalah mimpi kita, melebur jadi satu
Tawamu adalah ceriaku
Sedihmu adalah tangisku

Sekali janji terucap di hadapan Allah
Pintu di belakang kita tertutup untuk selamanya
Sebagai gantinya, jalan baru terbentang panjang
Untuk mulai merangkai cerita
Bukan lagi dua, tetapi tiga menjadi satu: Kau, aku, dan BAPA

Benang emas yang mengikat kita
Kuat bagai baja hingga tak terputuskan
Tapi lembut bagai sutra hingga tak melukai

Tak ada pernikahan sempurna. Ya!
Kita pernah berbuat salah. Pasti!
Tetapi tak apa…
Karena kesempurnaan adalah “meletakkan ketidaksempurnaan kita di dalam tangan Allah yang sempurna!”

Kekasihku,
Di tangan kita tergenggam segulung benang emas
Sebagian telah terjalin menjadi satu
Seberapa panjang sisanya hanya Bapa yang tahu

Mari bersama kita jaga janji setia hingga simpul terakhir
Sampai kulit menjadi keriput
Sampai rambut di kepala memutih
Sampai kita berdua kembali bersama ke rumah BAPA
Dengan senyum cinta menghiasi wajah kita
Dan ucapan terimakasih dibibir kita
Kepada Allah Maha Baik
Sang Pemberi Anugerah

Amin

Oleh : SELLA IRENE – BEAUTIFUL WORDS

 

 

Text Background : Google Images

Advertisements

5 comments on ““YA, SAYA BERSEDIA” (Posted in English : “Yes, I do”)

  1. Pingback: BENANG EMAS | Selalu Ada Harapan

  2. Pingback: PUISI PERNIKAHAN “BENANG EMAS” | Selalu Ada Harapan

  3. Pingback: BENANG EMAS | Selalu Ada Harapan

  4. juzzeeya
    December 8, 2014

    Happy 13th wedding anniversary, ce, ko, God…
    GBUr family 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

translate this blog

Follow Beautiful Words on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,425 other followers

Archives

%d bloggers like this: