Beautiful Words

Beautiful words stir my heart. I will recite a lovely poem about the king, for my tongue is like the pen of a skillful poet.

SANG AHLI


“Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.”

(Yesaya 64 : 8)

 

In Th e Potter’s Hands

 

Pria itu berdiri sambil menunduk ke bawah, ke arah meja rendah di hadapannya yang kepalanya dapat  berputar. Dia masih tegap dan berotot di usianya yang paruh baya. Tahun demi tahun yang ia lewati tak mampu mengikis fakta bahwa ia dulunya pemuda yang tampan. Garis wajahnya tegas dengan ceruk mata yang dalam, tenang tetapi seperti menyimpan rahasia yang tak terselami. Setiap guratan yang terbentuk diwajahnya menampakkan kearifan seorang dewasa yang kenyang dengan berbagai pengalaman hidup.   Pandangannya tajam terarah pada seonggok tanah liat basah di atas meja yang dapat berputar itu. Ya,  hanya seonggok tanah liat tak berbentuk yang bagi orang lain mungkin tak berarti. Tapi pria itu tahu persis bahwa tanah liat itu bisa menjadi apa saja di tangannya. Sesuatu yang akan bernilai  tentunya. 

“Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!”

(Yeremia 18 : 6)

Dia duduk menghadap meja putar itu. Matanya berkilat senang memandang gumpalan tanah liat dihadapannya.  Dia sangat antusias, hatinya bergelora dengan cinta yang tak dapat dimengerti. Karena siapa yang dapat mencintai segumpal tanah liat ?? 

“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”

( I Yohanes 4 : 19) 

Lalu tangannya yang berotot  mulai membentuk tanah liat itu, sementara meja itu terus berputar. Dari gerak-geriknya siapapun tahu bahwa dia sangat terlatih melakukan pekerjaannya. Dengan telaten jemarinya menekan, mengelus, dan  memijit tanah liat itu. Dia ingin tanah liat itu menjadi persis seperti apa yang dia rancangkan. Dia mengerjakannya dengan sangat hati-hati karena dia tahu jemarinya sangat kuat. Dia tak ingin memberi tekanan yang tidak diperlukan. Semua harus pas pada porsinya. Tak lebih dan tak kurang. Karena satu perlakuan yang salah akan merusak bentuknya, dan dia tak mau itu.

“Sebab jintan hitam tidak diirik dengan eretan pengirik, dan roda gerobak tidak dipakai untuk menggiling jintan putih, tetapi jintan hitam diirik dengan memukul-mukulnya dengan galah, dan jintan putih dengan tongkat.
Apakah orang waktu mengirik memukul gandum sampai hancur?

sungguh tidak,  orang tidak terus-menerus memukulnya sampai hancur!

Dan sekalipun orang menjalankan di atas gandum itu jentera gerobak dengan kudanya,

namun orang tidak akan menggilingnya sampai hancur.
Dan inipun datangnya dari TUHAN semesta alam;

Ia ajaib dalam keputusan dan agung dalam kebijaksanaan.”

( Yesaya 28 : 27 – 29 )

Sebenarnya dia bisa saja memilih cara yang mudah. Telah puluhan tahun dia berpengalaman membentuk tanah liat menjadi perkakas berguna. Dia menguasai banyak teknik. Kalau mau cepat dan mudah, dia bisa menggunakan teknik cetak. Tapi dia tak mau membuat sesuatu dengan hasil yang seragam antara yang satu dengan yang lain. Dia mau setiap perkakas itu spesial dengan sentuhan tangannya, walau untuk itu dia harus menghabiskan lebih banyak  waktu dan tenaga.

Matanya terus mengawasi dengan teliti. Sesekali dia mengusap keringat yang menitik di dahinya dengan punggung tangannya. “Kali ini pasti berhasil”, gumamnya dalam hati. Dia telah melakukan proses yang seharusnya agar tanah liat itu berkualitas baik. Dia telah menggiling, menyaring, dan mencampurnya dengan bahan tertentu yang diperlukan. Dia telah mengukur kadar air yang pas agar tanah liat itu menyatu dengan sempurna sehingga dia dapat membentuk seperti yang diinginkannya. “Akhirnya selesai juga”, seulas senyum menghiasi bibirnya. Dia lega karena tak perlu mengulang membentuk tanah liat itu dari awal. Karena beberapa karyanya yang sebelumnya harus di proses ulang karena hasilnya tak sesuai harapan.

“Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.”

(yeremia 18 : 4)

Seonggok tanah liat itu telah berbentuk sekarang. Hatinya senang meski dia tahu ini baru separuh perjalanan. Dia masih harus menggosok untuk menghaluskan dan juga menghiasnya.

Cuaca cerah. Langit biru muda melengkung dengan mulus tanpa awan. Kulitnya yang kecoklatan berkilau seperti tembaga ditimpa cahaya matahari.  “Sempurna,” pikirnya. Bergegas diambilnya vas tanah liat itu dan menaruhnya di tempat terbuka agar sinar matahari mengeringkannya sebelum nanti vas itu akan di bakar.

Tungku pembakaran telah siap. Suhunya seperti yang diperlukan. Tiba saatnya vas itu dibakar agar dapat menjadi vas yang kuat dan kedap air.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu

untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia,

yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

(Roma 8 : 28)

Tiba saatnya sentuhan akhir. Wajahnya berseri. Dengan luwes jari-jari itu memegang kuas. Dalam beberapa waktu vas itu telah berbalut warna biru dengan gradasi yang halus. Seperti menari jemarinya menorehkan kuas pada pilinan berbentuk pita yang menempel pada kedua sisi vas dengan tinta keemasan. Kini segumpal tanah liat itu telah seutuhnya berubah menjadi vas cantik. Kelak saat vas itu diletakkan di meja pualam putih dengan kaki berukir di ruang tamu seorang bangsawan dengan serumpun mawar merah segar di dalamnya, siapa yang dapat membayangkan bahwa dulunya ia hanya tanah liat jelek yang hanya untuk diinjak orang ?

Anda segumpal tanah liat yang tak berarti ? Bejana yang gagal? Bejana yang cacat ? Atau bahkan bejana yang remuk ?

Ketahuilah bahwa tidak ada tanah liat yang dapat membentuk dirinya sendiri.

Tidak ada bejana yang dapat mengangkat derajatnya sendiri.

Biarkan tangan Sang Ahli yang melakukannya.

Yang perlu Anda lakukan hanyalah taat dan berserah kepadaNya.

 

“Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya.

Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya.

Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.”

(Roma 8 : 30)

 

oleh : Sella Irene – Beautiful Words

Photo Credit : Google images

Advertisements

5 comments on “SANG AHLI

  1. Karina Susanto
    October 5, 2013

    I am so blessed read this article. Thank you. love and blessings.

    Like

    • sellairene
      October 5, 2013

      Hi dear, i am surprised that you are reading this post.
      I really, really, really appreciated.
      I am still translating this post in English. Thank you for your efforts to read in Indonesian. Love u, Karina, you are always nice to me 🙂 Jesus bless you

      Like

  2. Abigail Natallya
    August 29, 2013

    Memberkati dan puitis sekali.. Nggak nyangka ternyata Ce Sella sepuitis ini.. :))

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

translate this blog

Follow Beautiful Words on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,423 other followers

Archives

%d bloggers like this: