Beautiful Words

Beautiful words stir my heart. I will recite a lovely poem about the king, for my tongue is like the pen of a skillful poet.

ZIBA : SATU LANGKAH YANG GAGAL


( II Samuel  9 : 1 – 13  ;  II Sam 16 : 1 – 4 ; dan II Sam 19 : 24 – 30 )

images (13)

Banyak dari kita yang mungkin asing dengan nama Ziba, sebuah nama tak populer yang hanya beberapa kali saja disebut dalam momen antara raja Daud dan Mefiboset. Tapi bukankah sekecil apapun yang tertulis dalam Alkitab pasti akan memiliki kontribusi dalam pertumbuhan rohani kita?

“Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci.” (Roma 15 : 4).

HAMBA SETIA

Ziba telah bertahun-tahun mengabdi sebagai hamba keluarga Saul dan dia tekun pada tugasnya. Bahkan saat Saul telah meninggal dan keluarga Saul tak lagi menjadi keluarga nomor satu di Israel, Ziba masih di sebut sebagai hamba keluarga Saul.

Mungkin posisi kita saat ini bukan posisi favorit, bahkan mungkin orang lain tidak merasakan perbedaannya apakah kita ada atau tidak karena kita tidak dianggap penting. Namun setia saja dan lakukan yang terbaik,

karena kita tak pernah tahu bahwa jalan yang kita lalui sekarang

kelak akan membawa kita pada hal-hal yang lebih tinggi.

 

RESPON YANG MENENTUKAN

Beberapa saat setelah Daud naik tahta sebagai raja Israel, Daud bermaksud menepati janjinya kepada Yonatan sahabatnya, anak Saul. Sebuah janji yang telah mereka ikat bertahun-tahun silam, untuk tetap memelihara tali persaudaraan antara mereka dan keturunan mereka berdua.  Maka untuk merealisasikan janji itu, Daud memanggil Ziba untuk menanyakan apakah ada yang tinggal dari keluarga Saul. Respon Ziba kemudian akan sangat menentukan, bukan hanya masa depan keturunan Saul, tapi bahkan masa depannya sendiri. Maka menghadaplah Ziba kepada raja Daud.

Respon yang benar akan membawa kita ke arah yang benar,  

yang akan membawa kita pada hal-hal luar biasa,

yang  akan dianugrahkan oleh Tuhan untuk mengangkat kita ke posisi yang lebih tinggi,  yang tak pernah kita pikirkan.

TIDAK MENJADI PENGHALANG BAGI ORANG LAIN

 Saat Daud menanyakan kepada Ziba apakah ada yang tinggal dari keluarga Saul, Ziba segera memberitahukan akan keberadaan Mefiboset, anak Yonatan, yang tinggal di rumah Makhir Bin Amiel di Lodebar di seberang sungai Yordan dalam  keadaan kakinya yang pincang. Lalu raja Daud mengambil Mefiboset dari Lodebar untuk tinggal di Yerusalem dan mengembalikan semua harta Saul dan keluarganya kepada Mefiboset. Bahkan Mefiboset diberi kehormatan untuk dapat makan sehidangan dengan Daud sebagai salah seorang anak raja.  Lalu apa bagian yang diperoleh Ziba ? Ziba mendapat posisi dan kepercayaan dari raja Daud sebagai pengelola harta Saul yang melimpah, yang oleh Daud telah dikembalikan kepada Mefiboset itu. Sebagai pengelola, sudah pasti Ziba dan 15 anak laki-lakinya pun turut menikmati kehidupan yang jauh lebih baik.

Perlu kerendahan hati dan kebesaran hati untuk melihat orang lain diangkat oleh Tuhan. Apalagi jika diri kita sendiri yang menjadi “pintu” untuk orang tersebut dipromosikan Tuhan, bahkan pada posisi yang lebih tinggi dari kita.

Dan seringkali hal ini juga menjadi kunci untuk kita sendiri mendapat promosi dari Tuhan.

 

 MELAKUKAN DENGAN  TEPAT

 Setelah menerima mandat dari raja Daud untuk  mengelola harta kekayaan Mefiboset, Ziba berjanji untuk melakukan dengan TEPAT seperti yang diperintahkan Daud . Tidak ada jalan lain jika ingin mengerjakan panggilan Tuhan dengan sempurna, selain melakukan TEPAT seperti yang Tuhan mau. Tepat bukan hanya sasarannya, tetapi juga CARAnya.

Semakin kita dewasa di dalam  panggilan Tuhan,

seringkali kita harus bisa memilih di antara semua pilihan yang baik dan benar,

manakah yang benar-benar diinginkan oleh Tuhan.

TIDAK BERUBAH SIKAP HATI

 Sayangnya hal ini gagal dilaksanakan oleh Ziba !!  Ziba jatuh dalam dosa pengkhianatan kepada Mefiboset. Setelah merasakan fasilitas dan kelimpahan sebagai pengelola harta, Ziba menjadi tamak dan ingin mencuri kemuliaan bagi dirinya sendiri di hadapan raja.

Saat Daud lari dari istana karena kudeta Absalom, putranya sendiri, Mefiboset ingin turut serta pergi bersama Daud. Mefiboset meminta Ziba menyiapkan keledai yang berpelana untuk ditungganginya karena dia timpang. Tetapi yang dilakukan Ziba adalah membawa berbagai perbekalan dan sepasang keledai itu menjumpai Daud dan berkata bahwa Mefiboset ingin merebut kembali tahta Saul, ayahnya. Hal tersebut membuat Daud memutuskan bahwa segala kepunyaan Mefiboset menjadi kepunyaan Ziba. Bagaimana akhir riwayat Ziba kita tak pernah tahu, karena walaupun akhirnya Ziba mendapat harta kekayaan Mefiboset, namun setelah itu namanya tak pernah disebut lagi.

Agar dapat menyelesaikan panggilan Tuhan,

kita harus tetap menjadi  hamba yang baik dan setia.

Ingatlah bahwa setinggi apapun kedudukan kita,  sebesar apapun “kemuliaan” dan  berkat  yang  kita terima, kita tetaplah seorang HAMBA yang MENGELOLA.

TUHAN-lah PEMILIK segalanya.

Jangan serakah dan  mengingini lebih dari yang Tuhan percayakan kepada kita.

 

 

oleh : Sella Irene – Beautiful Words

Photo Credit : Google images ( http://www.kumpulanistilah.com )

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

translate this blog

Follow Beautiful Words on WordPress.com

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,423 other followers

Archives

%d bloggers like this: